Rabu, 28 Oktober 2015

PEMERIKSAAN ENZIM SGOT DAN ENZIM SGPT PADA PENDERITA PENYAKIT SIROSIS HEPATIS R A P L E S Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu



ABSTRAK
Penelitian tentang pemeriksaan enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita sirosis hepatis ini bertujuan untuk mengetahui persentase kenaikan kadar enzim SGOT dan kadar enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis. Sampel berupa serum darah sebanyak 8 sampel di periksa di laboratorium Kimia Klinik Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu untuk menentukan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT dengan menggunakan fotometer sunostik. Pemeriksaan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT menggunakan desain analitik distribusi frekuensi dari tiap-tiap variabel itu yang berbentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase A%=(A-B)/B x 100%.
Pengujian dari tiap-tiap sampel dipisahkan antara peningkatan kadar enzim SGOT dengan peningkatan kadar enzim SGPT. Terlihat bahwa peningkatan kadar enzim SGOT dalam persentase sebesar 42% dan hasil persentase kadar enzim SGPT sebesar 59,5%. Hal ini berarti dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa kadar enzim SGPT lebih tinggi dari kadar enzim SGOT pada penderita penyakit sirosis hepatis.
Kata Kunci : Hepatis, AST, dan ALT.

1. PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan yang baik merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Sejalan dengan perkembangan waktu pada saat ini pengetahuan, kebutuhan, dan kesadaran masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sudah semakin baik dan semakin besar. Keadaan ini ditandai dengan meningkatnya rumah sakit swasta, laboratorium klinik, dan sarana kesehatan lainnya. Pelayanan laboratorium merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit serta pemulihan kesehatan. Sebagai komponen penting dalam pelayanan kesehatan, hasil pemeriksaan laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis, pemberian pengobatan dan pemantauan hasil pengobatan serta penentuan prognosis. Salah satu cara untuk menjamin mutu hasil pemeriksaan laboratorium yaitu dengan cara melakukan perbaikan dan modifikasi dalam melakukan pemeriksaan (Mansjoer, 2001).
Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan antara lain Hematologi, Kimia Darah, dan Parasitologi, dll. Pemeriksaan yang termasuk Kimia Darah adalah pemeriksaan kolesterol, LDL, HDL,Enzim SGOT dan SGPT. Untuk mengetahui kadar SGOT dan SGPT dalam darah dilakukan pemeriksaan dilaboratorium,  karena kadar SGOT dan SGPT yang tinggi sangat berbahaya terhadap fungsi hati (Soegondo,2005).
Salah satu jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan pada hati adalah pemeriksaan enzimatik. Enzim adalah protein katalisator yang dihasilkan oleh sel hidup dan umumnya terdapat di dalam sel. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara pembentukan enzim dengan penghancurannya. Apabila terjadi kerusakan sel atau peningkatan permeabilitas membran sel, enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan ke dalam aliran darah sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk membantu diagnostik penyakit fungsi hati (Sacher dan McPherson, 2000).
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita penyakit hepatitis atau tidak, maka seorang dokter disamping mencari informasi mengenai perjalanan penyakit yang dialami, melakukan pemeriksaan fisik secara teliti juga memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk membantu dalam menegakkan diagnosa, antara lain pemeriksaan biokimia/enzimatik, imunologi, dan pencitraan. Secara laboratoris pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya peninggian SGOT dan SGPT sampai 20-50 kali normal dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT (SGOT/SGPT < 0,7). Sirosis Hepatis adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati (Kee, 2008).
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : apakah kadar SGOT dan SGPT meningkat pada penyakit sirosis hepatis.
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kenaikan kadar SGOT dan SGPT pada penyakit sirosis hepatis.
1.4 Manfaat Penelitian
  1. Meningkatkan apresiasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kimia darah.
Sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam pemeriksaan kimia darah tentang pentingnya pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT pada penyakit Sirosis hepatis sehingga meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dan dapat dijadikan referensi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian pada tahap berikutnya.

3.  METODE PENELITIAN

3.1         Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2012, di Laboratorium Kimia Klinik Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu.

3.2         Sumber Data
3.2.1   Populasi
Seluruh penderita sirosis hepatis yang dirawat dari bulan Juni – Juli 2012 di ruang kemuning RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

3.2.2   Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah darah penderita penyakit sirosis hepatis yang berjumlah dari total populasi.

3.2.3   Teknik Pengambilan Sampel
      Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu metode yang diambil dari seluruh sampel penderita sirosis hepatis (Notoatmodjo, 2005).
3.3         Rancangan Penelitian
          Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain analitik yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung.
3.4         Definisi Operasional
1.      SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, sebuah enzim yang secara normal berada di sel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak. Level SGOT darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti serangan virus hepatitis. SGOT juga disebut aspartate aminotransferase (AST).
2.      SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim SGOT dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya (Sacher dan McPherson, 2000).
3.      Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, di ikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati (Price dan Lorranie, 2004).
4.      Cara ukur : menggunakan serum dari darah penderita sirosis hepatis ditambah reagen SGOT dan SGPT, diperiksa pada alat Fotometer sunostik.
5.      Hasil Ukur : Nilai normal SGOT = < 25 U/L
                     Nilai normal SGPT = < 50 U/L
6.      Skala Ukur : Rasio

3.5         Alat dan Bahan
1.     Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Fotometer Sunostik
b.      Mikropipet 1000 dan 100 ul
c.       Tiv biru dan kuning
d.      Tabung reaksi
e.       Rak tabung reaksi
f.       Spuit
g.      Torniquet
h.      Centrifuge
2.      Reagen
a. Reagen SGOT dan SGPT kit
b. Faktor SGOT
3.      Bahan
a.       Kapas alkohol70%
b.      Tissue
4.      Sampel
a.       Serum

3.6         Prosedur Penelitian
3.6.1.      Teknik Pengambilan sampel
1.      Pengambilan sampel darah vena
a.       Lengan atas pasien dibendung menggunakan tourniquet sampai pembuluh darah vena terlihat,dengan menggunakan kapas alkohol 70 % ,daerah pembuluh darah vena yang terlihat dibersihkan dan dibiarkan hingga mengering.
b.      Pembuluh vena yang terlihat tadi ditusuk dengan menggunakan spuit. Penarik spuit ditarik perlahan sampai darah masuk kedalam spuit.
c.       Menarik jarum spuit perlahan dari pembuluh darah vena.
d.      Kemudian membersihkan darah vena tersebut dengan menggunakan kapas alkohol 70 % hingga darah tidak mengalir lagi.
e.       Darah yang ada di dalam spuit kemudian dialirkan pada dinding tabung secara perlahan (Gandasoebrata, 2007).
2.      Penanganan sampel
Darah yang ada di dalam tabung tersebut kemudian disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm hingga menghasilkan serum. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT dan dibaca mengunakan Fotometer Sunostik.
3.      Pemeriksaan sampel
1.      Pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT
1)      Prinsip Kerja : enzim SGOT dan SGPT setelah dicampur dengan serum akan membentuk warna turbidimetri (kekeruhan) dengan metode kinetik.
2)      Cara kerja :
a.       Dipipet reagen SGOT sebanyak 1000 µl kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi sebagai larutan test.
b.      Dipipet reagen SGPT sebanyak 1000 µl kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi sebagai larutan test
c.       Dipipet serum (sampel) sebanyak 100 µl, dimasukkan kedalam tabung reaksi test untuk SGOT dan SGPT tersebut lalu diinkubasi selama 1 menit,pada suhu 37º.
d.      Kemudian dibaca menggunakan fotometer dengan panjang gelombang 546 nm.

3.7         Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari data primer dengan melakukan pemeriksaan langsung terhadap hasil enzim SGOT dan SGPT dari serum pederita sirosis hepatis.

3.8         Teknik Analisa Data
Teknik analisis data penelitian ini adalah dengan menggunakan Distribusi Frekuensi yaitu penyusunan data-data atas dasar nilai variabel dan frekuensi dari tiap-tiap nilai variabel itu yang berbentuk tabel distribusi frekuensi dan peresentase (Sudjana, 2005).
A% = (A-B)  X 100%
              B
 
Keterangan :
A% = Hasil persentase
A    = Kadar rata-rata peningkatan SGOT dan SGPT
B    = Kadar normal SGOT dan SGPT

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil Penelitian
Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan mengenai pemeriksaan enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1.     Hasil Pemeriksaan Kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis
No
Kode
Hasil Pemeriksaan
Sampel
SGOT/AST
SGPT/ALT

 --- U/L ---
1
OTP 01
45
90
2
OTP 02
35
78
3
OTP 03
30
85
4
OTP 04
36
70
5
OTP 05
35
75
6
OTP 06
40
90
7
OTP 07
30
90
8
OTP 08
33
60
  Keterangan : Data Primer, 2013



Dari tabel diatas nilai tertinggi dari SGOT yaitu sebesar 35u/l dan terendah

30u/l. Sedangkan nilai SGPT tertinggi 90u/l dan terendah 70u/l. Secara laboratorium pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya peninggian SGOT dan SGPT sampai 20-50 kali  dari nilai normal dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT.
A% = (A-B)  X 100%
              B
 
Perhitungan Hasil :
             
Tabel 2.     Hasil uji persentase besarnya peningkatan Kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis

No
Kode
Nilai Normal
Hasil Pemeriksaan
A(%)
A(%)
Sampel
SGOT/AST
SGPT/ALT
SGOT/AST
SGPT/ALT
SGOT/AST
SGPT/ALT

 --- U/L ---
 --- U/L ---
 --- % ---
1
OTP 01
< 25
< 50
45
90
80
80
2
OTP 02
< 25
< 50
35
78
40
56
3
OTP 03
< 25
< 50
30
85
20
70
4
OTP 04
< 25
< 50
36
70
44
40
5
OTP 05
< 25
< 50
35
75
40
50
6
OTP 06
< 25
< 50
40
90
60
80
7
OTP 07
< 25
< 50
30
90
20
80
8
OTP 08
< 25
< 50
33
60
32
20
Jumlah


284
638
336
476
Rata-Rata


35.5
79.75
42
59.5
                      
 4.2  Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada pemeriksaan kadar enzim SGOT rata-ratanya yaitu 35,5 U/L dan nilai normal SGOT adalah < 25 U/L serta rata-rata hasil persentase yaitu 42%. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil kadar ensim SGPT rata-ratanya adalah 79,75 U/L dan nilai normal SGPT adalah < 50U/L serta rata-rata hasil persentase yaitu 59,5%. Jumlah sampel yang diperiksa kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita sirosis hepatis sebanyak 8 orang. Dari hasil tersebut didapat total pemeriksaan enzim SGOT sebesar 284 U/L dan total hasil persentase 42%. Sedangkan total pemeriksaan enzim SGPT sebesar 638 U/L dan total persentase 59,5%.
A% = (A-B)  X 100%
                  B
 
         
       Adapun hasil pengolahan data dengan distribusi frekuensi yaitu  
 
        A% = (A-B)100%
                         B
 Dari hasil penelitian pemeriksaan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT diperoleh 8 orang yang menderita penyakit sirosis hepatis. Berdasarkan hasil tersebut didapat persentase peningkatan kadar enzim SGOT sebesar 42% dan peningkatan kadar enzim SGPT sebesar 59,5%.
Penyakit gangguan hati seperti sirosis hepatis merupakan penyakit hati kronis yang ditandai dengan distorsi cara susunan sel-sel hati oleh adanya pita-pita jaringan penyambung dari nodul-nodul sel hepar yang sedang mengalami regenerasi yang tak serupa dengan sel normal (Pearce, 1979). Kelainan pada hati seperti sirosis hepatis, pada umumnya enzim Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase (SGOT), Serum Glutamik Piruvik Transaminase (SGPT), dan Gamma-Glutamit Transferase (GGT) meningkat sedangkan Bilirubin dapat bervariasi. Bilirubin direct meningkat menunjukkan obstruksi bilier, hepatitis, dan sirosis hepatis (Sacher dan McPherson, 2000).
Hati merupakan organ tubuh yang penting berkaitan dengan metabolism protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin. Ada pun gangguan hati dapat di sebabkan oleh kelainan prahepatik, hepatik atau intrahepatik, dan posthepatik.
1. Kelainan prahepatik seperti anemia hemolitik. Pada keadanan ini faal hati pada umumnya normal kecuali bilirubin, bilirubin dalam urin dan feses normal, akan tetapi urobilirubinuria berlebihan. Dalam hal ini perlu tes hematologi khusus yang berhubungan dengan penyakit hemolitik.
2.  Kelainan intrahepatik atau hapatoseluler misalnya sirosis hepatis, hepatitis, dan karsinoma hepatis. Pada umumnya enzim SGOT, SGPT, dan GGT meningkat, alkalis phosphatase dapat meningkat bila ada obstuksi, protein dapat abnormal, dan bilirubin dapat bervariasi.
3.  Kelainan posthepatik atau obstruktif karena batu empedu atau karena tumor. Dalam keadaan ini bilirubin dan phosphatase alkalis meningkat, SGPT dan SGOT dapat meningkat.
       Karena hati mempunyai multi fungsi yang berkaitan dengan metabolisme, maka tes faal hati meliputi berbagai tes antara lain kimia klinik, imonologi, seperti petanda sirosis hepatis, petanda hepatitis dan lain- lain (Tjokronegoro dan Hendra Utama, 1996).
  

5. SIMPULAN DAN SARAN
    Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pemeriksaan enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hati, dari 8 orang sampel didapat rata-rata enzim SGOT sebesar 35,5 U/L. Sedangkan kadar enzim SGPT didapat rata-rata sebesar 79,75 U/L. Hasil persentase dari enzim SGOT yang mengalami peningkatan sebesar 42% dan hasil persentase enzim SGPT yang mengalami peningkatan sebesar 59,5%.
5.Saran
Dari hasil penelitian dan pembahasan serta simpulan yang didapat, maka peneliti menyarankan supaya terus dilakukan pemeriksaan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada kelainan fungsi hati. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh enzim SGOT dan enzim SGPT pada berbagai penyakit fungsi hati.


DAFTAR PUSTAKA
Freeman, M., Christine. 2005. Kolesterol Rendah Jantung Sehat cetakan ke-2. Alih bahasa Lily
         Endang Joelani. April 2008. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat
Kee, J. 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik edisi 6. Jakarta : EGC
Mansjoer, A., Kuspuji, Rakhmi, Wahyu, dan Wiwik. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi (FKUI)
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Pearce, E. C. 1979. Anatomy and Physiology for Nurses. Diterjemahkan oleh Handoyo, S. Y. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2004. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Sacher, R.A., dan R. A. McPherson. 2000. Widmann’s Clinical Interpretation of Laboratory Tests. 11th Edition. Pennsylvania: F. A. Company. Diterjemahkan oleh Pendit, B. U dan D. Wulandari. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11. Jakarta: EGC.
Soegondo, S. 2005. Peranan Kolesterol HDL Sebagai Faktor Proktektif Aterosklerosis. Makalah disajikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan perkembangan Mutakhir Ilmu Penyakit Dalam ke-10. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta.
Sudjana, 2005. Metoda Statistika edisi 6. Bandung : Tarsito
Tjokronegoro dan Hendra Utama. 1996. Ilmu penyakit dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.