UJI DAYA HAMBAT
YOGHURT TERHADAP
PERTUMBUHAN BAKTERI
Escherichia coli
Eka
Nurdianty Anwar
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan
Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nurdianty_eka@yahoo.com
ABSTRACT
Diarrhea is a disease in which the stool or feces transformed into soft or liquid which usually happens at least three times in 24 hours. Escherichia coli is the most germs that cause diarrhea in infants and adults. This study aims to prove the existence of yoghurt on the growth inhibition of bacteria Escherichia coli. Samples of yoghurt drinks were taken from two different brands. This research was conducted at the Laboratory of the Academy of Health Analyst Harapan Bangsa of Bengkulu on Mei 1 to Mei 20 2014, with using observational descriptive method of determining the possibility of yoghurt on the growth inhibition of Escherichia coli by direct observation. This study determined the diffusion test method. Research shows that yogurt could inhibit the bacteria Escherichia coli with the formation of a clear zone of 10.05 to 10.1 mm.
Keywords: Diarrhea, Escherichia coli, Yoghurt, media Mueller Hinton (MH)
PENDAHULUAN
Diare merupakan penyakit saluran pencernaan yang
merupakan penyebab kematian tertinggi pada balita di Indonesia, dan juga membunuh lebih dari 320 orang setiap tahunnya. Kondisi
ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fruktosa,
laktosa), kelebihan vitamin C, dan mengkonsumsi buah-buahan tertentu.
Biasanya disertai sakit perut dan seringkali mual dan muntah. Ada beberapa kondisi lain
yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari
diare adalah defekasi
yang melebihi 200 gram per hari (Depkes RI, 2000).
Memakan makanan yang asam, pedas, atau bersantan secara berlebihan
dapat menyebabkan diare karena membuat usus kaget. Hal ini terjadi ketika
cairan yang tidak mencukupi diserap oleh usus besar.
Sebagai bagian dari proses digestasi, atau karena masukan cairan, makanan tercampur
dengan sejumlah besar air. Oleh karena itu makanan yang dicerna terdiri dari
cairan sebelum mencapai usus besar. Usus besar menyerap air, meninggalkan
material yang lain sebagai kotoran yang setengah padat.
Bila usus besar rusak / radang, penyerapan tidak terjadi dan hasilnya adalah kotoran
yang berair (Padjarwoto, 1993). Banyak bakteri yang dapat mengakibatkan penyakit di saluran usus
misalnya bakteri Escherichia coli. Kemampuan fitokimia tanaman sebagai
antibakteri dapat digunakan untuk pengujian infeksi bakteri. Produksi makanan yang bersifat
fungsional sudah banyak berkembang saat ini. Suatu produk dikatakan sebagai
pangan fungsional karena selain mengandung vitamin-vitamin dan mineral
esensial, bahan pangan itu mampu meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.
Topik mengenai pangan fungsional banyak membahas tentang peran
komponen aktif dalam bahan makanan, produksi serta pemanfaatannya. Alasan
tersebut menyebabkan banyak penelitian terhadap kelebihan bahan pangan pada
efek kesehatan lingkungan. Salah satu kelebihan tersebut adalah efek
antimikroba penyebab diare. Bakteri E.
coli yang berada di dalam usus besar manusia berfungsi
untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat, dia juga membantu dalam proses
pencernaan termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama
yang lain dari E. coli adalah membantu
memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makanan. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan
darah misalkan saat terjadi perdarahan seperti pada luka/mimisan, vitamin K
bisa membantu menghentikannya. Selain memberikan manfaat untuk tubuh, E. coli juga mempunyai sifat yang
merugikan. E. coli dapat bersifat
patogen jika jumlahnya meningkat dalam saluran pencernaan (Supardi, 1999).
Makanan yang
tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di
lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat
sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan
tinja berair pada diare. Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air
secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit
melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang
mengakibatkan kematian pada penderita diare. Selain karena rotavirus, diare
juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan
sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap laktosa
dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktase yang
berfungsi mencerna laktosa yang terkandung dalam susu sapi. (Fardiaz, 2002).
Pada
perkembangan berikutnya, banyak dokter/ahli medis yang menggunakan suplemen
probiotik untuk mengobati diare seperti minuman yoghurt.Yoghurt adalah minuman
susu fermentasi yang melibatkan dua jenis bakteri menguntungkan yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Dengan
mengkonsumsi produk makanan yang mengandung bakteri seperti yoghurt (disebut
sebagai probiotik), dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen. Hal ini
dikarenakan terbentuknya asam laktat menjadikan kondisi asam pada saluran
pencernaan. Asam laktat di dalam saluran pencernaan memproduksi asam organik,
hidrogen peroksida dan bakteriosin. Komponen – komponen tersebut dapat berperan
penting dalam menghambat pertumbuhan E.
coli yang bersifat patogen (Nurdiana, 2002).
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
uraian dalam latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
1.
Apakah terdapat
daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia
coli.
2.
Berapa besar daya
hambat yang diberikan yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
2.
Untuk mengetahui besar daya hambat yoghurt terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia
coli.
METODE PENELITIAN
Jenis
penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Observatif yaitu menentukan
kemungkinan daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan pengamatan
langsung. Dalam penelitian ini digunakan kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg) dan kontrol
negatif (Aquadest) sebagai pembanding zona hambat, seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1. Quality Control Media Dan Disc Obat (Soemarno,
2002)
|
Antibiotica
|
Potency disc Obat
|
Diameter zona hambat
|
|
E. coli
(ATCC 25922)
|
||
|
Amikacin
|
30 µg
|
19 - 26
|
|
Cephalothin
|
30 µg
|
17 - 22
|
|
Erytromycin
|
15 µg
|
8 - 14
|
|
Gentamycin
|
10 µg
|
19 - 26
|
|
Ciprofloxacin
|
5 µg
|
30 - 32
|
|
Kanamycin
|
30 µg
|
17 - 25
|
|
Streptomycin
|
10 µg
|
12 - 20
|
Tabel
2. Penilaian Diameter Zona Hambat (Soemarno, 2002)
|
Antibiotica
|
Potency disc Obat
|
Diameter zona hambatan ( mm )
|
||
|
Resistent
|
Intermediate
|
Sensitif
|
||
|
Amikacin
|
30
µg
|
14
/ kurang
|
15
– 16
|
17
/ lebih
|
|
Cephalothin
|
30
µg
|
14
/ kurang
|
15
– 17
|
18
/ lebih
|
|
Erytromycin
|
15
µg
|
13
/ kurang
|
14
– 17
|
18
/ lebih
|
|
Gentamycin
|
10
µg
|
12
/ kurang
|
13
– 14
|
15
/ lebih
|
|
Ciprofloxacin
|
5 µg
|
20
– 23
|
24
- 25
|
26
– 32
|
|
Kanamycin
|
30
µg
|
13
/ kurang
|
14
– 17
|
18
/ lebih
|
|
Streptomycin
|
10
µg
|
11
/ kurang
|
12
– 14
|
15
/ lebih
|
Data diperoleh dengan cara mengamati dan mengukur zona bening pada media
Mueller Hinton (MH) dan kemudian dicocokkan dengan tabel penilaian diameter
zona hambat (bening).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian
yang dilakukan terhadap sampel minuman yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli digunakan
dua sampel. Didapatkan hasil zona hambat yoghurt
biokul dan yoghurt yummy adalah 10,1 mm dan 10,05 mm. Zona hambat ini
menunjukkan bahwa yoghurt Biokul dan Yummy mempunyai daya hambat yang lebih
rendah dibandingkan dengan kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg). Hal ini
terlihat dari zona bening yang lebih kecil daripada kontrol positif.
Hasil
pengamatan uji daya hambat yoghurt yang ditentukan
dengan metode difusi menunjukkan bahwa
yoghurt dari merk Biokul maupun merk Yummy memiliki daya hambat terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan terbentuknya zona bening disekitar disk yoghurt. Zona bening
yang terbentuk dari merk Biokul dan Yummy yaitu 10,1 mm dan 10,05 mm. Selain
itu, kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg) juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan adanya zona hambat
sebesar 30-31 mm yang terbentuk disekitar disk Ciprofloxacin 5 µg. Sedangkan untuk kontrol negatif (Aquadest)
tidak terbentuk zona hambat.
Dari hasil
penelitian pada sampel minuman yoghurt terdapat zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli, namun
zona hambat yang terbentuk berada pada kategori tidak sensitif. hal ini
dikarenakan zona bening yang terbentuk lebih kecil daripada zona bening kontrol
positif (Ciprofloxacin 5 µg).
Walaupun yoghurt
tidak sensitif terhadap bakteri Escherichia coli tetapi yoghurt bermanfaat untuk memelihara
sistem pencernaan karena yoghurt adalah
minuman susu fermentasi yang melibatkan dua jenis bakteri menguntungkan yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Probiotik
(jenis bakteri yang menguntungkan) yang terkandung dalam yoghurt dapat
menyeimbangkan mikroflora dalam usus dan dapat membantu pencernaan serta
menjaga tubuh tetap sehat (Wardani, 2013).
Zona Hambatan terjadi
karena bakteri tidak tumbuh di sekitar disk akibat pengaruh dari antibiotik. Metode difusi test (Kirby-Bauer) lebih cocok
untuk pengujian rutin di laboratorium klinis.
Pertumbuhan organisme dengan difusi dari antibiotik
secara bersamaan menghasilkan zona hambatan melingkar
dimana jumlah antibiotik
melebihi konsentrasi penghambatan. Dari berbagai media yang tersedia, NCCLS (National
Committee for Clinical Laboratory Standards) merekomendasikan agar-agar Mueller Hinton karena media ini
memiliki kandungan sulfonamida, trimetoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang
rendah, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang baik pada bakteri patogen
(Nurdiana, 2002). Pada penelitian ini zona bening sebesar 10,05 – 10,1 mm merupakan zona hambat, dimana bakteri uji (Escherichia
coli) tidak dapat tumbuh
karena pengaruh faktor penghambat dari yoghurt.
Bakteri yang
digunakan dalam pembuatan yoghurt adalah kelompok bakteri asam laktat (BAL)
yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Lactobacillus mampu menghasilkan suatu senyawa yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri patogen di dalam usus. Senyawa ini dikenal
sebagai bakteriosin, seperti bulgariin yang dihasilkan oleh Lactobacillus
bulgaricus. Senyawa bakteriosin yang diproduksi BAL dapat
bermanfaat karena menghambat bakteri patogen yang dapat merusak makanan ataupun
membahayakan kesehatan manusia, (Rosiana, 2008).
Mekanisme
kerja bakteriosin dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen secara umum
ialah molekul bakteriosin mengalami kontak langsung dengan membran sel, proses
kontak ini mampu mengganggu potensial membran berupa ketidakstabilan membran
sitoplasma sehingga sel menjadi tidak kuat, ketidakstabilan membran memberikan
dampak pembentukan lubang atau pori pada membran sel melalui gangguan terhadap
gaya gerak proton, terbentuknya lubang pada membran sel dapat menyebabkan
perubahan gradien potensial membran dan pelepasan molekul intraseluler ataupun
masuknya substansi ekstraseluler, akhirnya pertumbuhan sel menjadi terhambat
dan menghasilkan proses kematian pada sel yang sensitif terhadap bakteriosin
(Purwanti, 2009).
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata zona hambat yoghurt
Biokul dan yoghurt Yummy adalah 10,1 mm dan 10,05 mm, hal ini menunjukkan bahwa
yoghurt mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
SARAN
Peneliti
menyarankan kepada peneliti lain untuk melakukan uji pemeriksaan dengan
menggunakan probiotik lain yang lebih spesifik untuk pengobatan penyakit diare.
Selain itu peneliti juga menyarankan kepada masyarakat, walaupun yoghurt tidak
bisa digunakan untuk penyembuhan penyakit diare, tetapi yoghurt bermanfaat
untuk memelihara sistem pencernaan tubuh.
Daftar Acuan
Alokomi,
H.L., E. Skytta dan M. Saarela. 2000. Lactic
acid permeabilizes gram negative bacteria by disrupting outer membrane.
Appl and Environ Microbiol. 66(5):2001-2005. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/P
MC101446. Di akses 13 Juli 2014.
Branen. A.L.
dan P.M. Davidson. 1993. Antimicrobials in Foods 2nd ed. Marcel Dekker, Inc., New
York. http://www.ift.org/-/media/Knowledge/20
Center/Science/20Reports/Scientific/20Status/20Summaries/resistanceantimicrobials_1102.pdf. Di
akses 13 Juli 2014.
Depkes RI, 2000. Gejala
Diare. http//www.depkes.go.id/index-php=Diare. Diakses 22 April 2014.
Enger dan Smith Dalam Kodatie. 2002. Pengolahan Sumber Daya Air
Dalam Otonomi Daerah. Yogyakarta.
Fardiaz, S. 2002. Analisa
Mikrobiologi Pangan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Kusnaedi. 2006. Mengelola
Air Gambut dan Air Kotor Untuk Menjadi Air Minum. Jakarta.
Michael
J. Pelczar dan E.C.S.chan. 1986. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. UI. Jakarta.
Muhlisin,
Ahmad. 2014. Penyakit Diare.
http//id,mediskus.com/penyakit/diare-penyebab-pengertian-gejala.html. Diakses
22 April 2014.
Nurdiana, M. 2002. Skripsi Aktivitas dan Identifikasi
Yoghurt dari tiga kultur campuran bakteri. Bogor.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
Padjarwoto. 1993.
Cermin Dunia Kedokteran. Yogyakarta. Dunia
Pustaka.
Purwanti,
Puji. 2009. Optimasi Media Produksi
Bakteriosin dari Bacillus sp. Galur LTS 40 Asal Tambak Udang. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian
Bogor.
http://repository.
ipb.ac.id.
Di akses tanggal 23 Agustus 2014.
Rahman, A.,S. Fardiaz, W.P.Rahaju, Suliantri dan C.C
Nurwitri. 1992. Teknologi Fermentasi
Susu. Bogor. Pusat Antar
Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Ray,
B. 2003. Fundamental Food Microbiology
3rd Ed. CRC Press. London. http://www.academia.edu/4354670/Fundamental_of_Food_MicrobiologyDi
akses 12 Juli 2014.
Rosiana
A.D., Noor Erma, N.S. dan Isnaeni. 2008.
Pengaruh Asam-asam Organik terhadap
Pertumbuhan Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus dan
Lactobacillus casei (bakteri asam laktat). Surabaya. Departemen Kimia
Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. http://
portalgaruda.org /download_article.php/article=18396&val=1142. Di
akses 05 Agustus 2014.
Suriawiria,
A. 1996. Air Dalam kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. Alumni ITB.
Bandung.
Supardi,
dkk, 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Alumni IPB
Bandung.
Soemarno. 2002. Isolasi
dan Identifikasi Bakteri Klinik. Yogyakarta. Akademi Analis Kesehatan
Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Wardani,
Hajar Surya. 2013. Daya Hambat
Pertumbuhan Escherichia coli dan Uji Hedonik Yoghurt Dengan Substitusi Tepung
Mocaf. Semarang. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.
http//:eprint.undip.ac.id/39457/1/520_Hajar_Surya_Wardani_G2C006026.pdf.
Diakses 20 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar