UJI SENSITIFITAS
ANTIMIKROBA SARI KUNYIT (Curcuma
domistica) TERHADAP BAKTERI Salmonella
thypi
Hepiyansori
Dosen Akademi Analis
Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu
Abstrak
Telah dilakukan penelitian tentang uji sensitifitas
sari kunyit (Curcuma domistica)
terhadap bakteri Salmonella thypi
dari bulan januari – April 2012 yang bertujuan untuk
mengetahui apakah sari kunyit mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi dan pada kosentrasi
sari kunyit berpakah yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif observasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil
penelitian menunjukan bahwa sari kunyit mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi dan kosentrasi paling
efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kosentrasi sari kunyit 5 %
dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 20 mm, mendekati diameter zona
hambat pada kontrol (+) sebesar 28 mm. Mengkonsumsi kunyit dalam setiap masakan
sangat dianjurkan agar dapat mencegah berkembangnya bakteri Salmonella thypi.
Kata
kunci: Sensitifitas, kunyit,
dan Salmonella thypi.
A research on sensitivity test of
turmeric extract (Curcuma domistica) against the bacterium
Salmonella thypi from
January - April 2012 which aimed to determine whether turmeric extracts
can inhibit bacterial growth and the concentration
of Salmonella thypi berpakah turmeric extract
that is most effective
in inhibiting the growth of bacteria
Salmonella thypi ,
This research uses
descriptive method of observation and analyzed
descriptively. The results showed that turmeric extracts can
inhibit the growth of bacteria Salmonella
thypi and most
effective concentration to inhibit the growth
of bacteria is a turmeric extract concentration of
5% with an average diameter
of 20 mm inhibition
zone, approaching the diameter of
the inhibition zone on the
controls (+) of 28 mm. Consuming turmeric in
each dish is
highly recommended in order to prevent
the growth of bacteria Salmonella
thypi.
Keywords: Sensitivity, turmeric, and Salmonella thypi.
Keywords: Sensitivity, turmeric, and Salmonella thypi.
1. PENDAHULUAN
Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, menjadikan
kebutuhan pelayanan kesehatan semakin meningkat.
Upaya Departemen Kesehatan dalam pemerataan kesehatan sudah cukup banyak, akan
tetapi masih saja ada kalangan yang belum terjangkau pelayanan kesehatan
terutama masyarakat dipelosok daerah dan atau masyarakat yang tingkat
ekonominya rendah. Keterisolasian dan tingkat pendapatan merupakan penyebab utama
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai tidak dapat terpenuhi.
Dengan demikian peranan pengetahuan pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat
sangat penting diketahui. Dunia mikroba terutama bakteri memberikan berbagai
dampak bagi kehidupan manusia, keberadaan bakteri dapat membawa dampak positif
bagi manusia tapi tidak sedikit yang merugikan manusia. Salah satu bakteri yang
membahayakan kehidupan manusia adalah Salmonella
typhi yang dapat menyababkan penyakit demam tifus. Di Indonesia,
diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid
sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau (Yani, 2006).
Bakteri Salmonella typhi
berkembang pada saluran
pencernaan binatang seperti babi, sapi, dan ayam. Bakteri tersebut kemudian menyebar melalui makanan hingga menginfeksi manusia. Ketika
menginfeksi manusia, Salmonella typhi
bersarang di saluran pencernaan, mulai dari lambung hingga usus halus
menimbulkan salmonellosis.
Perkembangan bakteri Salmonella terbilang
sangat cepat dan menakjubkan, setiap selnya mampu
membelah diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat berkisar dari 37 - 39ÂșC
dan pada media tumbuh yang mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel
bakteri bisa berkembang menjadi 90.000 sel hanya dalam waktu 6 jam. Salmonellosis terutama tifus dan
paratifus yang menyerang manusia bisa menyebabkan kematian. Walaupun bakteri tersebut bisa dihambat
perkembangannya oleh asam lambung, tapi dalam kondisi tubuh seseorang
tidak dalam keadaan fit, atau terlalu lelah, asam lambung tidak mampu
mengatasi perkembangan bakteri tersebut. Pengobatan tradisional yang sering pula
disebut sebagai kedokteran tradisional, merupakan berbagai cara pengobatan yang berkaitan erat
dengan budaya suatu suku bangsa yang mendiami wilayah geografi tertentu. Sekarang,
pengobatan ini banyak digunakan masyarakat, disamping melepas dari
ketergantungan pada obat kimiawi, juga karena biaya yang dikeluarkan sangat
terjangkau khususnya bagi mereka yang kurang mampu. Pengobatan tradisional ini
menggunakan bahan-bahan alami yang ada disekitar lingkungan tempat suatu suku
bangsa berdiam (Anonim, 2007).
Salah satu tananam obat tradisional adalah kunyit mengandung senyawa
yang berkhasiat, yang disebut kurkuminoid
yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat-
zat manfaat lainnya. Kandungan yang terdapat dalam kunyit tersebut, maka kunyit banyak
dimanfaatkan sebagai obat. Adapun penyakit yang bisa disembuhkan dengan khasiat
dari kunyit tersebut diantaranya adalah diabetes millitus, tifus sebagai antibakteri, usus
buntu, sakit keputihan, menstruasi, disentri dan lain - lain (Ahira, 2009).
Komposisi kimia rimpang kunyit terdiri atas minyak
atsiri dan kurkumin. Kurkumin memiliki manfaat sebagai zat antibakteri atau
antimikroba. Sel bakteri sebagian besar tersusun atas protein, yang semua
reaksi metabolisme dikatalis oleh enzym dimana enzym juga merupakan protein.
Kunyit yang mengandung senyawa kurkumin adalah senyawa turunan fenolitik yang
bersifat asam. Asam mampu mengendapan protein artinya asam menyebabkan
denaturasi yang didahului oleh perubahan sruktur molekulnya dan menjadikan
protein tidak dapat melakukan fungsinya sehingga sel bakteri mengalami
kematian. Demikian juga minyak atsiri yang memiliki aktivitas sel mikroba
terhadap bakteri patogen. Komponen antimikroba adalah suatu komponen yang
bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakterisidal) Samsundari, 2006. Berdasarkan latar belakang yang telah
dikemukakan, maka peneliti ingin mengetahui efektifitas sari kunyit (Curcuma domistika) sebagai penghambat
pertumbuhan bakteri Salmonella typhi.
Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang berjudul “Uji Sensitifitas Antimikroba Sari Kunyit (Curcuma domistica) terhadap Bakteri Salmonella typhi
2. TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui sensivitas
pemberian sari kunyit (Curcuma domistika)
terhadap penghambat pertumbuhan bakteri Salmonella
typhi.
2.
Untuk mengetahui pada
konsentrasi berapakah pemberian sari kunyit (Curcuma domistica)
paling efektif sebagai penghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi .
3. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah memberikan informasi
kepada masyarakat dan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan
masyarakat pada umumnya sehingga kunyit dapat digunakan sebagai pengobatan
penyakit tipus.
4. METODOLOGI PENELITIAN
4.1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada
bulan Januari mulai tanggal 22 sampai
26 April tahun 2012 di Laboratorium Akademi Analis Kesehatan (AAK)
Harapan Bangsa Bengkulu. Populasi dari penelitian ini adalah sari kunyit. Sampel dari penelitian sari kunyit dengan konsentrasi pengenceran berurutan mulai dari 5%, 10%, 15%,dan 20%.
4.2.Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut.
a.
Alat untuk membuat sari kunyit: corong,
beaker glass 50 ml, pipet tetes, mikropipet 5 ml, mikropipet 1 ml, timbangan analitik dan blender.
b.
Alat sterilisasi: cawan petri, tabung
reaksi, gelas ukur 100 ml dan 500 ml. lampu spritus, jarum inokulasi lurus dan
berkolong, autoclave, kertas kacang dan stove.
c.
Alat pengukur : Mistar atau
penggaris.
d.
Alat untuk menginkubasi biakan:
incubator
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Tanaman kunyit,
b. Aquadest, ethanol 96%, NaCl Fisiologis, Muller
Hilton agar
c. Kapas, cotton bud, kain kasa, kertas sampul, disc blank
4.3.Prosedur penelitian
1.
Sterilisasi alat
Sterilisasi
alat-alat yang akan dipakai pada saat penelitian seperti: tiga buah labu
Erlenmeyer 250 ml, labu Erlenmeyer 500 ml, tabung reaksi, cawan petri, pipet
volum ukuran 1 ml, spatel, gelas ukur 250 ml dan 500 ml, kemudian dimasukkan ke
dalam oven pda suhu 1800C selama 60 menit (Penuntun Bakteriologi
Darah Labkesda Bengkulu, 2001:13).
2.
Pembuatan media :
a. NaCl fisiologis (0,9 %)
Menimbang 0,9 gr NaCl menggunakan neraca analitik kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, menambahkan aquades sampai tanda batas, kemudian
dimasukkan kedalam cawan petri sebanyak 20-25 sebagai control, serta dimasukkan
kedalam tabung reaksi sebanyak +/- 5 ml kemudian ditambahkan biakkan bakteri Salmonella thypi sampai keruh .
(Penuntun pembuatan media AAK-HB Bengkulu, 2002).
b. Media Pertumbuhan (Muller Hilton Agar) Ditimbang sebanyak 15,2 gram
Muller Hilton Agar kemudian masukkan kedalam labu erlemeyer 500 ml. Ditambahkan
400 ml aquadest kemudian panaskan hingga mendidih dan biarkan dingin. Ditutup
dengan kapas padat lalu bungkus dengan kertas kacang lalu diikat kemudian
ditserilkan menggunakan autoclave. Dituangkan kedalam petridish dan biarkan
dingin hingga padat.
3.
Penyiapan biakan strain murni.
Biakan bakteri Salmonella thypi di suspensikan kedalam tabung reaksi yang berisi
Nacl fisiologis hingga keruh. kemudian bakteri Salmonella thypi yang telah di suspensikan dengan Nacl fisiologis
hingga keruh dituang kedalam cawan petri yang telah berisi medium MH hingga
merata
4.
Pembuatan sari kunyit : Sari kunyit dilakukan
dengan 2 cara yaitu sari segar dan sari rebus. sari segar dilakukan tanpa pemanasan, yaitu dengan cara memblender kunyit. Pembuatan sari dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut.
a.
Kunyit dicuci kemudian sortir bahan yaitu rimpang kunyit sebanyak 100 gram,
kemudian diiris memanjang dengan ketebalan sekitar 1-2 mm.
b.
Dihancurkan bahan dengan
menggunakan blender (kunyit : air = 1:1).
c.
Disaring hasil sari kunyit dari blender
menggunakan kain kasa untuk mendapatkan sari segar.
d.
Dilakukan pengenceran untuk
pembuatan konsentrasi, 5%, 10%, 15% dan 20% dengan cara:
Tabel 1 Pengenceran Sari Kunyit
|
Konsentrasi
|
Pengenceran
|
|
5%
|
0,5 ml sari
kunyit 100% + 9,5 ml ethanol
|
|
10%
|
1,0 ml sari
kunyit 100% + 9 ml ethanol
|
|
15%
|
1,5 ml sari kunyit 100% + 8,5 ml ethanol
|
|
20%
|
2,0 ml sari
kunyit 100% + 8 ml ethanol
|
5.
Pengujian daya antimikroba
Pengujian sensitifitas Salmonella thypi terhadap sari kunyit dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a.
Direndam disc blank pada
masing-masing konsentrasi larutan selama 1 x 24 jam secara aseptis.
b.
Diinokulasikan biakan strain
murni bakteri Salmonella thypi pada
medium MH
dengan menggunakan lidi kapas steril .
c.
Disc blank hasil perendaman di
angkat dan ditempelkan ke dalam medium MH.
d.
Diinkubasi menggunakan
inkubator pada suhu 370 C selama 1x24 jam.
e.
Diamati sensitifitas bakteri Salmonella thypi terhadap sari kunyit yang
ditunjukan terbentuknya zona bening di sekitar disc blank obat.
|
Diameter Kertas Cakram
|
|
|
Zona Hambat = Diameter zona jernih – diameter kertas cakram
6.
analisis data
Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dengan menyimpulkan berdasarkan pengamatan langsung hasil identifikasi.
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
pada uji sensitifitas sari kunyit terhadap bakteri Salmonella
thypi, maka didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 2 Data Diameter Bening Pada Medium MH
|
Kosentrasi
|
Diameter
Zona Hambat (mm)
|
Rata-rata
(mm)
|
||
|
Ulangan 1
|
Ulangan
2
|
Ulangan
3
|
||
|
Kontrol
(+)
|
29
|
27
|
28
|
28
|
|
5 %
|
21
|
20
|
19
|
20
|
|
10
%
|
20
|
12
|
11
|
14,33
|
|
15
%
|
12
|
7
|
5
|
8
|
|
20
%
|
7
|
7
|
7
|
7
|
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dilihat adanya zona hambat
pada disk blank yang telah direndam di dalam larutan sari kunyit terhadap
pertumbuhan bakteri Salmonella dari
yang terbesar sampai yang terkecil. Zona hambat terbesar terbentuk pada cawan
petri dengan kosentrasi sari kunyit sebesar 5 % dengan rata-rata 20 mm,
sedangkan hambatan yang terkecil terbentuk pada cawan Petri dengan kosentrasi
20 % dengan rata-rata 7 mm. Zona ini masih kecil jika dibandingkan dengan
kontrol (+) yang digunakan. Sedangkan
kontrol positif mengahasilkan hambatan sebesar rata-rata 28 mm. Kontrol positif
pada penelitian ini menggunakan Kloramfenikol. Kloromfenikol adalah antibiotik
yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat
bakterisid. Aktifitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan
jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam
pembentukan ikatan peptida. Kloramfinikol efektif terhadap bakteri aerob
gram-positif dan beberapa bakteri gram-negatif. Metode yang paling sering
digunakan untuk mengetahui tingkat keefektifan suatu bahan antimikroba adalah
metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat
ditempatkan pada medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji
pada permukaannya. Setelah diinkubasi, diameter zona hambat sekitar cakram
dipergunakan untuk mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji.
Metode ini dipengaruhi beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara
obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran
molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standardisasi faktor-faktor
tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik. Berdasarkan hasil uji
sensitifitas sari kunyit terhadap bakteri Salmonella
thypi dengan menggunakan metode diffusion test Kirby Bauer sebanyak 4
sampel dengan 3 kali pengulangan serta dengan perendaman selama 1 x 24 jam
didapatkan zona hambat di sekitar disk blank pada biakan bakteri Salmonella thypi berkisar antara 7- 21
mm. Sedangkan pada kontrol positif terdapat zona hambat dengan rata-rata 28
mm.Zona hambat terbesar yang ditemukan peneliti dari beberapa kosentrasi sari
kunyit terdapat pada cawan Petri dengan kosentrasi sari kunyit 5% dengan
rata-rata sebesar 20 mm. Menurut Ahn dalam Saluhurrahman (2009), zona hambat
sebesar 20 mm adalah tergolong sedang. Efek terendah perendaman oleh sari
kunyit adalah pada konsentrasi sari kunyit 20 %. Dengan demikian terlihat suatu
kecenderungan dimana semakin tinggi kosentrasi sari kunyit maka tingkat
sensitifitasnya semakin rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan didapat bahwa kosentrasi 5 % adalah kosentrasi yang paling efektif
untuk menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella
thypi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Salehurrahman (2009), dimana
terdapat pengaruh variasi konsentrasi perasan rimpang kunyit (Curcumae
domestica Val.) terhadap cemaran mikroba E. coli dimana
konsentrasi 7 % perasan kunyit menunjukkan rerata total pertumbuhan bakteri E.
coli yang paling sedikit yakni 48.55 cfu/ml. Ini menunjukkan bahwa
kosentrasi yang tinggi tidak menjamin semakin efektifnya sari kunyit dalam
menghambat pertumbuhan bakteri. Zona hambat yang terbentuk merupakan bukti
bahwa kunyit mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella terutama pada kosentrasi sari
5 %.Komposisi kimia rimpang kunyit
terdiri atas minyak atsiri dan kurkumin. Kurkumin memiliki manfaat sebagai zat antibakteri atau
antimikroba. Sel bakteri sebagian besar tersusun atas protein, yang semua
reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim dimana enzim juga merupakan protein. Kunyit yang mengandung
senyawa kurkumin adalah senyawa turunan fenolitik yang bersifat asam. Asam
mampu mengendapkan protein artinya asam menyebabkan denaturasi yang didahului oleh
perubahan sruktur molekulnya dan menjadikan protein tidak dapat melakukan
fungsinya sehingga metabolisme yang dikatalis enzim
menjadi terhambat dan akhirnya sel
bakteri mengalami kematian (Tjitrosomo, 1994).Namun, selain sifat asam
yang mendenaturasi protein, asam juga merusak kinerja terhadap antigen Salmonella. Salmonella memiliki beberapa antigen. Antigen somamatic serupa
dengan antigen somatic O kuman entero bactericeae lainnya. Antigen flagel
(antigen H) pada Salmonella ditemukan
dalam dua fase yaitu fase spesifik dan fase tidak spesifik. Antigen H rusak
pada pemanasan diatas 600C, alcohol dan asam. Antigen Vi adalah polimer dari
sakarida yang bersifat asam, terdapat pada bagian yang paling luar badan kuman.
Rusak dengan pemanasan 600C selama 1 jam, pada penambahan fenol dan asam
(Tjitrosomo, 1994). Asam juga dapat melarutkan membran bakteri berupa lipid dan
akan menyerang antigen Vi polimer dari polisakarida yang bersifat asam yang
terdapat pada bagian yang paling luar badan bakteri Salmonella sehingga akan mengganggu kekebalan dari bakteri ini dan
dengan adanya peningkatan imun tubuh (kekebalan tubuh) maka hal ini akan
membuat bakteri Salmonella ini aktivasi.Organisme yang
berasal dari genus Salmonella
merupakan mikroorganisme yang tersebar luas di Indonesia yang dapat
menyebabkan berbagai jenis infeksi pada
manusia yaitu demam enteric atau demam tifoid, bakterimia dengan lesi fokal dan
enterokaitis atau gastroenteritis. Oleh sebab itu,
berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap sari kunyit yang
merupakan bahan alam yang tersedia banyak di Indonesia dapat digunakan sebagai
obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella.
6.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diambil
kesimpulan antara lain:
1.
Sari kunyit mampu menghambat
pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella
thypi.
2.
Kosentrasi paling efektif sari
kunyit dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella thypi adalah 5 % dengan rata-rata
zona hambat sebesar 20 mm.
3.
Bagi masyarakat disarankan agar
selalu mengkonsumsi kunyit terutama di dalam masakan sehari-hari di rumah,
terutama untuk penderita demam tifoid atau demam tifus.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Pengobatan
Tradisional Melayu. http://www.melayuonline.com.
Diakses tanggal 2 Maret 2009.
Ahira, Anne.
2009. Khasiat Kunyit. Blog (online) http://www.anneahira.
Com/tanaman-obat/kunyit.htm (Diakses 26 Pebruari 2009).
Atmaja, Dahnu Ari. 2008. Pengaruh ekstrak kunyit (curcuma
domestica) Terhadap gambaran mikroskopik mukosa Lambung mencit balb/c yang diberi parasetamol. Semarang: Skripsi Tidak
Diterbitkan.
Atmawijaya, Sudana; Sukmadjaja; Asyarie; & Elin Herlina. 2000. Uji Daya Anti Mutagenik Beberapa Ekstrak Bahan Alam Secara Mikrobiologi. Makalah pada Kongres Ilmiah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia XIII tahun 2000.
Arlin. 2007. Seluk-Beluk Penyakit Tifus. (online) http://wwwError! Hyperlink reference not valid.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/ (Diakses 7 Maret 2009.)
Dewi,
Fajar Kusuma. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah
Mengkudu (Morinda citrifolia,
linnaeus) Terhadap Bakteri Pembusuk Daging Segar. Surakarta: Skripsi Tidak Diterbitkan.
Jawetz, et al.
2005. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical
Palgunadi,
Jelliarko. 2009. Manfaat Kunyit Sebagai
Obat Anti Kanker. (Online) http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kunyit-obat-anti-kanker-masa-kini/ (Diakses 26 Pebruari 2009).
Pelczar, Michael J dan E.C.S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI
Press.
Rahayu, Winiati Pudji. 2000. Aktivitas Antimikroba
Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan Industri Terhadap Bakteri Patogen Dan
Perusak. Jurnal Bul. Teknol dan Industri
Pangan. Vol. 11 (2). Hal: 42-48.
Riwan. 2008. Kunyit (Curcuma domistica). (online) http://tanaman-kesehatan.blogspot.com/2008/05/kunyit-kurkuma-domestica.html (Diakses
26 Pebruari 2009).
Salehurrahman,
2009. Pengaruh Perasan Rimpang Kunyit (Curcumae
domesticae. Val) Terhadap Total Bakteri Eschericia coli dan Salmonella Pada Tahu. Malang:
Skripsi Tidak Diterbitkan.
Samsundari.
2006. Pengujian Ekstrak Temulawak dan Kunyit Terhadap Resistensi Bakteri aeromonas hydrophilla yang
menyerang ikan mas (cyprinus carpio)
http://dp2m.umm.ac.id/files/file/Jurnal%20Gamma%20Vol_2,%20No_1,%20September%202006/10%20Sri%20Samsundari.pdf.
Diakses 12 Juni 2009.
Staf Pengajar AAK-HB. 2002. Penuntun pembuatan media Bengkulu:
Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa.
Sunanti.
2007. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tunggal Bawang Putih (Allium sativum linn.) dan Rimpang
Kunyit (curcuma domestica val.)
Terhadap Salmonella typhimurium. Bogor: Skripsi
Tidak Diterbitkan.
Tjitrosomo, Sri Lestari A. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran.
Jakarta: UI Press.
Yani, Andai. 2006. Penyakit Tipus. (Online) http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2021226-penyakit-tifus/ (Diakses 2 Maret 2009).
www.
Wikipedia.com. Diakses 21 Februari 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar