Rabu, 28 Oktober 2015

Identifikasi Pengaruh Jarak Antara Sumur Gali dan Sungai Terhadap Kadar Logam Besi (Fe) Di dalam Sumur Gali Di Perumnas Kemiling Permai RT 13 Kota Bengkulu Nita Anggreani, MT



Identifikasi Pengaruh Jarak Antara Sumur Gali dan Sungai  Terhadap Kadar Logam Besi (Fe) Di dalam Sumur Gali Di Perumnas Kemiling Permai RT 13 Kota Bengkulu

Nita Anggreani, MT
Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa , Bengkulu, nita_anggreani@yahoo.com

Abstrak
Water is an important part of life. Water quality parameters that are required to be supervised and controlled. Water wells are one source of water that is widely used by the public. Wells were created around the river, is suspected to be affected by the quality of the components present in the river pollution. One of the ingredients present in water pollution is a metal iron (Fe). This study identifies whether there is influence between the distance of the river and dug wells to levels of iron (Fe) in it. The method used to analyze the content of Fe is using spectrophotometric analysis. Furthermore, the results are statistically processed using T test to see whether there is a relationship between the component and the Fe content within each sample. Samples of water used is the river that flows around Kemiling Permai Housing RT 13 Bengkulu City residents dug wells and water there. The results show that the Fe content in the wells is greater than the threshold requirements of drinking water (> 0.3 mg / L) and Fe content in the river is greater than the threshold requirements of clean water (> 1 mg / L). T test calculation results showed no influence of the river with Fe content in the water wells.
Keywords: iron (Fe), distance, water wells, rivers, spectrophotometers, T test

1.    Pendahuluan


Kualitas air yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat baik untuk air minum ataupun untuk mandi dan cuci sudah selayaknya harus selalu dikontrol dan diawasi apakah air tersebut memenuhi syarat sesuai dengan peraturan yang ada. Masyarakat kebanyakan mengambil air untuk kebutuhan mereka tersebut dari sumur gali, sumur bor, air dari PDAM bahkan ada yang mengambil langsung dari air sungai.
Sungai yang ada sekarang ini sudah tidak sebersih dahulu. Air sungai sudah banyak dicemari oleh limbah baik sampah rumah tangga ataupun limbah pabrik, sehingga pollutan dalam air sungai sangat tinggi. Begitu juga dengan air sumur gali, saat ini juga beresiko mendapat pencemaran. Pencemaran air sumur gali dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi geografis, hidrogeologi, topografi tanah, musim, arah aliran air tanah dan konstruksi bangunan fisik sumur gali [1]..
Pentingnya air bersih  bagi kehidupan manusia, mengharuskan air  memenuhi persyaratan – persyaratan kesehatan  diantaranya syarat fisik, syarat bakteriologis, dan syarat kimia  [2]. Syarat kimia merupakan salah satu parameter yang penting untuk kualitas air. Akan tetapi, apabila suatu air sudah tercemar logam – logam yang berbahaya salah satunya besi (Fe) sangatlah berbahaya dan akan mengakibatkan  hal – hal buruk bagi kehidupan dan terhadap penduduk yang tinggal disekitarnya [3].
Hasil penelitian sebelumnya di wilayah rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu, menunjukkan bahwa logam besi (Fe) di air sumur gali warga sudah lebih dari ambang batas yang dipersyaratkan yaitu sebesar rata-rata 16,07 mg/L [4]. Karena tingginya kadar besi dalam sumur warga membuat peneliti memiliki dugaan bahwa sumur warga bisa saja tercemar oleh polutan yang ada di aliran sungai . Adanya sungai yang mengalir di sekitar perumahan warga disana,  pada penelitian sebelumnya tersebut belum dianalisa berapa kadar besinya. Karena itu penelitian ini dilakukan agar bisa melihat apakah ada hubungan antara jarak sumur gali dengan sungai , terhadap besarnya kadar besi dalam air sumur gali.


2.    Teori Singkat
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.492/MENKES/PER/IV/2010, kadar besi dalam air  minum maksimal 0.30 mg/l. Jika air yang dikonsumsi melebihi batas itu maka akan menimbulkan rasa mual jika diminum serta berakibat toksik bagi tubuh [5]. Sedangkan menurut Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990, kadar besi dalam air bersih maksimal sebesar 1,0 mg/l. Jika kadar besi melebihi batas tersebut akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit dan menyebabkan air berbau seperti telur busuk [6]
Analisa kadar besi menggunakan alat spektrofotometer uv-vis yang mengukur absorbansi (A) cahaya oleh materi besi (Fe). Selanjutnya melalui Hukum Lambert Beer dihitung kadar sampel sebagai berikut :
     A = ε. b . c
Dimana :
A= Absorbansi
ε = Absortifitas Molar (cm – 1. ppm -1)
b = Tebal Kuvet (cm), biasanya 1 cm
c = Konsentrasi (ppm)

            Uji T adalah perhitungan statistika untuk membandingkan (membedakan) apakah kedua mean (rata-rata) suatu data  tersebut sama atau berbeda. Perhitungan ini Gunanya untuk menguji kemampuan generalisasi, signifikansi hasil penelitian yang berupa perbandingan keadaan variabel dari dua rata-rata sampel / kelompok [7].
Uji-t atau t-test, untuk sampel independen digunakan  rumus berikut.
Rumus:           
Keterangan:
  = Rata-rata sampel 1
  = Rata-rata sampel 2
S1    = simpangan baku sampel 1
S2    = simpangan baku sampel 2
S12   = varians sampel 1
S22   = varians sampel 2


3.    Metode Eksperimen
                  Bahan sampel yang digunakan adalah air sungai yang mengalir di sekitar Perumnas Kemiling Permai RT 13 Kota Bengkulu dan air sumur gali warga di perumahan tersebut yang berjarak 12 m, 20 m, dan 40 m dari sungai. Bahan yang digunakan dalam analisa spektrofotometri adalah larutan induk besi ((NH4)2SO4.FeSO4. 6H2O), H2SO4 pekat, HNO3 4 M, larutan KMnO4 0,2%, larutan KCNS 20%.
                  Peralatan yang digunakan adalah peralatan untuk membuat larutan seperti beaker glass, pipet ukur, pengaduk kaca, labu ukur, hot plate, termometer, dll
Langkah pertama adalah membuat larutan induk besi (Fe3+)  100 ppm dari bahan (NH4)2SO4.FeSO4. 6H2O yang direaksikan dengan H2SO4 pekat dan KMnO4 dengan pemanasan di atas hot plate pada suhu 70o . Selanjutnya membuat larutan standar besi dengan mengencerkan larutan induk besi menjadi larutan dengan konsentrasi 2,4,6,8,10,12,14 ppm. Pada saat pengenceran ini, juga ditambahkan larutan KSCN dan HNO3. Larutan standar berwarna merah kecoklatan.
Peralatan spektrofotometer dikalibrasi dan selanjutnya dicari lmax yaitu saat penyerapan logam besi oleh cahaya spektrofotometer (absorbansi) maksimum. Setelah diketahui lmax maka selanjutnya adalah membuat kurva kalibrasi larutan standar antara konsentrasi (c) vs absorbansi (A). Kurva ini harus dilinearkan melewati titik (0,0) dan persamaan garis linearnya adalah cerminan dari persamaan Lambert-Beer. ε atau absortifitas molar dapat diketahui, sehingga kadar besi dalam sampel (ppm) pun dapat dihitung.
Data kadar besi dalam sampel air sumur berdasarkan jaraknya dengan sungai lalu dibandingkan dengan kadar besi dalam sampel air sungai menurut uji T, sehingga dapat dilihat apakah ada hubungannya.

4.        Hasil
Kurva kalibrasi larutan standar pada lmax 400 nm sebagai berikut :


Gambar 4.1. Kurva kalibrasi larutan standar besi

Dari Kurva di atas dapat ditentukan rumus Lambert Beer nya adalah A=0,035.b.c. Dimana ε atau tetapan absortifitas molarnya sebesar 0,035cm – 1. ppm -1
Melalui hukum Lambert beer ini pula kadar besi (Fe) dalam sampel ditentukan.  Kadar besi dalam sampel air sungai adalah seperti dalam tabel berikut.

Tabel 4.1. Kadar besi (Fe) pada sampel air sungai di sekitar Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu  
Titik pengambilan sampel pada aliran sungai
Abs (A) sampel

Rata-Rata

Kadar besi
(ppm)
I
II
Titik 1
0,095
0,095
0,095
2,714
Titik 2
0,080
0,080
0,080
2,285
Titik 3
0,047
0,047
0,047
1,392
Rata-Rata :                                                             2,113

Dilihat dari tabel di atas, tampak bahwa kadar besi di air sungai sudah melebihi ambang batas yang disyaratkan untuk menjadi air bersih ( > 1 mg/L) menurut Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990.
Kadar besi dalam sampel air sumur gali adalah seperti dalam tabel berikut.

Tabel 4.2. Kadar besi (Fe) pada sampel air sumur gali di Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu  
Jarak sumur dari sungai
(m)
Abs (A) sampel

Rata-Rata

Kadar besi
(ppm)
I
II
12
0,043
0,043
0,043
1,153
20
0,069
0,069
0,069
1,867
40
0,058
0,058
0,058
1,567

Dilihat dari tabel di atas, tampak bahwa kadar besi di air sumur gali sudah melebihi ambang batas yang disyaratkan untuk menjadi air minum ( > 0,3 mg/L) menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.492/MENKES/PER/IV/2010.
Hasil penelitian saat ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya di rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu, bahwa logam besi (Fe) di air sumur gali warga sudah lebih dari ambang batas yang dipersyaratkan untuk air minum ( 0,3 mg/L) yaitu sebesar 16,07 mg/L [4] . Wilayah tersebut sebenarnya masih berdekatan dengan lokasi penelitian kali ini (Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu). Dalam penelitian waktu itu , kadar besi (Fe) di  sungai yang ada di sekitar sumur gali belum dianalisa besarnya.
Dengan uji T, didapatkan hasil T hitung lebih kecil dari T 1% ( 0,78 < 4,604) . Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar besi di air sungai dengan air sumur gali. Hasil ini berbeda dengan hasil peneliti lain yang menyatakan bahwa jarak sungai memiliki pengaruh terhadap kandungan polutan logam di dalam sumur gali [8].
Hal ini bisa terjadi karena faktor kondisi sungai saat dilakukan penelitian ini di musim kemarau, dengan debit air yang kecil membuat pengaruh sungai tidak signifikan. Selanjutnya, harus dilakukan penelitian yang lebih memperhitungkan pengaruh debit air sungai terhadap peningkatan kadar polutan di air sumur gali. Tidak hanya itu, karena di sekitar wilayah tersebut terdapat rawa-rawa maka faktor adanya rawa-rawa ini juga harus diteliti, apakah justru kadar besi di air sumur gali warga lebih terpengaruh oleh adanya rawa-rawa.

5.        Simpulan

1.        Pada air sungai di sekitar Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu, kadar besi (Fe) sudah melewati ambang batas persyaratan untuk air bersih menurut Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990 ( > 1,0 mg/L)
2.        Pada air sumur gali di Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu, kadar besi (Fe) sudah melewati ambang batas persyaratan untuk air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.492/MENKES/PER/IV/2010 ( > 0,3 mg/L)
3.        Hasil uji T menyatakan T hitung < T 1% sehingga hubungan antara jarak sumur gali terhadap sungai tidak signifikan.

6.        Daftar Acuan

[1],  Boky, H., Umboh, J. M. L., Ratag, B. ,(2015). Perbedaan Kandungan Merkuri (Hg) Air Sumur Gali Berdasarkan Jarak dari Sumber Pencemar di Wilayah Pertambangan Rakyat Desa Tatelu I. JIKMU, Vol, 5. No, 1 Januari 2015, Hal 63-70.

[2]   Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Rineka Cipta

[3] Darmono. 2011. Penetapan Kadar Zat Besi dan COD pada Air Sungai Bengkulu di Bengkulu. Bengkulu : Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu.

[4] Anggreani, N. 2012. Analisis Kadar Fe Air Sumur Gali Rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Jurnal Kesehatan dan Kemasyarakatan. Vol 3. No 2 : 170-174

[5] Depkes RI. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI.

[6]   Joko, T. 2010. Unit Air Baku dalam Sistem Penyediaan Air Minum . Yogyakarta : Graha Ilmu.

[7] Riyanto, A. 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika

[8]                    Rizza, R. 2013. Hubungan Antara Kondisi Fisik Sumur Gali Dengan Kadar nitrit Air Sumur Gali Di Sekitar Sungai Tempat Pembuangan Limbah cair Batik. Unnes Journal of Public Health. Vol 2. No 3 : 1-10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar