Identifikasi Pengaruh Jarak Antara Sumur Gali dan Sungai Terhadap Kadar Logam Besi (Fe) Di dalam Sumur
Gali Di Perumnas Kemiling Permai RT 13 Kota Bengkulu
Nita
Anggreani, MT
Abstrak
Water is an important part of life. Water quality
parameters that are required to be supervised and controlled. Water wells are
one source of water that is widely used by the public. Wells were created
around the river, is suspected to be affected by the quality of the components
present in the river pollution. One of the ingredients present in water
pollution is a metal iron (Fe). This study identifies whether there is influence
between the distance of the river and dug wells to levels of iron (Fe) in it.
The method used to analyze the content of Fe is using spectrophotometric
analysis. Furthermore, the results are statistically processed using T test to
see whether there is a relationship between the component and the Fe content
within each sample. Samples of water used is the river that flows around
Kemiling Permai Housing RT 13 Bengkulu City residents dug wells and water
there. The results show that the Fe content in the wells is greater than the
threshold requirements of drinking water (> 0.3 mg / L) and Fe content in
the river is greater than the threshold requirements of clean water (> 1 mg
/ L). T test calculation results showed no influence of the river with Fe content
in the water wells.
Keywords: iron (Fe), distance, water
wells, rivers, spectrophotometers, T test
1. Pendahuluan
Kualitas air yang digunakan
sehari-hari oleh masyarakat baik untuk air minum ataupun untuk mandi dan cuci
sudah selayaknya harus selalu dikontrol dan diawasi apakah air tersebut
memenuhi syarat sesuai dengan peraturan yang ada. Masyarakat kebanyakan
mengambil air untuk kebutuhan mereka tersebut dari sumur gali, sumur bor, air
dari PDAM bahkan ada yang mengambil langsung dari air sungai.
Sungai yang ada sekarang ini
sudah tidak sebersih dahulu. Air sungai sudah banyak dicemari oleh limbah baik
sampah rumah tangga ataupun limbah pabrik, sehingga pollutan dalam air sungai
sangat tinggi. Begitu juga dengan air sumur gali, saat ini juga beresiko
mendapat pencemaran. Pencemaran
air sumur gali dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah kondisi geografis, hidrogeologi, topografi tanah,
musim, arah aliran air tanah dan konstruksi bangunan fisik sumur gali [1]..
Pentingnya air bersih bagi kehidupan manusia, mengharuskan air memenuhi persyaratan – persyaratan
kesehatan diantaranya syarat fisik, syarat
bakteriologis, dan syarat kimia [2]. Syarat kimia merupakan salah satu parameter yang
penting untuk kualitas air. Akan tetapi, apabila suatu air sudah tercemar logam
– logam yang berbahaya salah satunya besi (Fe) sangatlah berbahaya dan akan
mengakibatkan hal – hal buruk bagi
kehidupan dan terhadap penduduk yang tinggal disekitarnya [3].
Hasil penelitian sebelumnya di
wilayah rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu,
menunjukkan bahwa logam besi (Fe) di air sumur gali warga sudah lebih dari
ambang batas yang dipersyaratkan yaitu sebesar rata-rata 16,07 mg/L [4].
Karena tingginya kadar besi dalam sumur warga membuat peneliti memiliki dugaan
bahwa sumur warga bisa saja tercemar oleh polutan yang ada di aliran sungai . Adanya
sungai yang mengalir di sekitar perumahan warga disana, pada penelitian sebelumnya tersebut belum
dianalisa berapa kadar besinya. Karena itu penelitian ini dilakukan agar bisa
melihat apakah ada hubungan antara jarak sumur gali dengan sungai , terhadap
besarnya kadar besi dalam air sumur gali.
2. Teori
Singkat
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
No.492/MENKES/PER/IV/2010, kadar besi dalam
air minum maksimal 0.30 mg/l. Jika air yang dikonsumsi
melebihi batas itu maka akan menimbulkan rasa mual jika diminum serta berakibat
toksik bagi tubuh [5]. Sedangkan menurut Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990, kadar besi dalam air bersih maksimal sebesar 1,0 mg/l. Jika kadar besi melebihi batas
tersebut akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit dan menyebabkan
air berbau seperti telur busuk [6]
Analisa kadar besi menggunakan alat spektrofotometer
uv-vis yang mengukur absorbansi (A) cahaya oleh materi besi (Fe). Selanjutnya
melalui Hukum Lambert Beer dihitung kadar sampel sebagai berikut :
A = ε. b . c
Dimana :
A= Absorbansi
ε = Absortifitas Molar (cm – 1. ppm -1)
b = Tebal Kuvet (cm), biasanya 1 cm
c = Konsentrasi
(ppm)
Uji T adalah perhitungan
statistika untuk membandingkan
(membedakan) apakah kedua mean
(rata-rata) suatu data tersebut sama
atau berbeda. Perhitungan ini Gunanya untuk menguji kemampuan generalisasi,
signifikansi hasil penelitian yang berupa perbandingan keadaan variabel dari
dua rata-rata sampel / kelompok [7].
Uji-t atau t-test, untuk sampel independen digunakan rumus berikut.
Rumus:
Keterangan:
= Rata-rata sampel 1
= Rata-rata sampel 2
S1
= simpangan baku sampel 1
S2
= simpangan baku sampel 2
S12 = varians sampel 1
S22 = varians sampel 2
3.
Metode Eksperimen
Bahan sampel yang digunakan
adalah air sungai yang mengalir di sekitar Perumnas Kemiling Permai RT 13 Kota Bengkulu dan air sumur gali warga di perumahan tersebut
yang berjarak 12 m, 20 m, dan 40 m dari sungai. Bahan yang digunakan dalam
analisa spektrofotometri adalah larutan induk besi ((NH4)2SO4.FeSO4.
6H2O), H2SO4
pekat, HNO3 4 M, larutan KMnO4 0,2%, larutan KCNS 20%.
Peralatan yang
digunakan adalah peralatan untuk membuat larutan seperti beaker glass,
pipet ukur, pengaduk kaca, labu ukur, hot plate, termometer, dll
Langkah pertama adalah membuat
larutan induk besi (Fe3+) 100
ppm dari bahan (NH4)2SO4.FeSO4.
6H2O yang
direaksikan dengan H2SO4 pekat dan KMnO4 dengan pemanasan di atas hot plate pada suhu 70o .
Selanjutnya membuat larutan standar besi dengan mengencerkan larutan induk besi
menjadi larutan dengan konsentrasi 2,4,6,8,10,12,14 ppm. Pada saat pengenceran ini, juga ditambahkan larutan KSCN dan HNO3.
Larutan standar berwarna merah kecoklatan.
Peralatan spektrofotometer dikalibrasi dan selanjutnya dicari lmax yaitu saat penyerapan logam besi oleh cahaya
spektrofotometer (absorbansi) maksimum. Setelah diketahui lmax maka selanjutnya adalah membuat kurva
kalibrasi larutan standar antara konsentrasi (c) vs absorbansi (A). Kurva ini
harus dilinearkan melewati titik (0,0) dan persamaan garis linearnya adalah
cerminan dari persamaan Lambert-Beer. ε atau absortifitas molar dapat diketahui, sehingga kadar besi dalam sampel (ppm) pun dapat
dihitung.
Data kadar besi dalam sampel air sumur berdasarkan jaraknya dengan sungai lalu
dibandingkan dengan kadar besi dalam sampel air sungai menurut uji T, sehingga
dapat dilihat apakah ada hubungannya.
4.
Hasil
Kurva kalibrasi larutan standar
pada lmax 400 nm sebagai berikut :
Gambar 4.1. Kurva kalibrasi larutan standar
besi
Dari Kurva di atas dapat
ditentukan rumus Lambert Beer nya adalah A=0,035.b.c. Dimana ε atau tetapan absortifitas molarnya sebesar 0,035cm – 1.
ppm -1
Melalui hukum Lambert beer ini
pula kadar besi (Fe) dalam sampel ditentukan. Kadar besi dalam sampel air sungai adalah
seperti dalam tabel berikut.
Tabel 4.1. Kadar besi (Fe) pada sampel air
sungai di sekitar Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu
|
Titik
pengambilan sampel pada aliran sungai
|
Abs (A)
sampel
|
Rata-Rata
|
Kadar besi
(ppm)
|
|
|
I
|
II
|
|||
|
Titik 1
|
0,095
|
0,095
|
0,095
|
2,714
|
|
Titik 2
|
0,080
|
0,080
|
0,080
|
2,285
|
|
Titik 3
|
0,047
|
0,047
|
0,047
|
1,392
|
|
Rata-Rata
:
2,113
|
||||
Dilihat dari tabel di atas, tampak bahwa kadar besi di air sungai sudah
melebihi ambang batas yang disyaratkan untuk menjadi air bersih ( > 1 mg/L)
menurut Permenkes No. 416
/Per/Menkes/IX/ 1990.
Kadar besi dalam sampel air sumur gali adalah seperti
dalam tabel berikut.
Tabel 4.2. Kadar besi (Fe) pada sampel air
sumur gali di Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu
|
Jarak sumur
dari sungai
(m)
|
Abs (A)
sampel
|
Rata-Rata
|
Kadar besi
(ppm)
|
|
|
I
|
II
|
|||
|
12
|
0,043
|
0,043
|
0,043
|
1,153
|
|
20
|
0,069
|
0,069
|
0,069
|
1,867
|
|
40
|
0,058
|
0,058
|
0,058
|
1,567
|
Dilihat dari tabel di atas, tampak bahwa kadar besi di air sumur gali
sudah melebihi ambang batas yang disyaratkan untuk menjadi air minum ( > 0,3
mg/L) menurut Peraturan Menteri Kesehatan
No.492/MENKES/PER/IV/2010.
Hasil penelitian saat ini menunjukkan hasil yang sama
dengan penelitian sebelumnya di rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar
Kota Bengkulu, bahwa logam besi (Fe) di air sumur gali warga sudah lebih dari
ambang batas yang dipersyaratkan untuk air minum ( 0,3 mg/L) yaitu sebesar 16,07
mg/L [4] . Wilayah tersebut sebenarnya masih berdekatan dengan
lokasi penelitian kali ini (Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu). Dalam
penelitian waktu itu , kadar besi (Fe) di
sungai yang ada di sekitar sumur gali belum dianalisa besarnya.
Dengan uji T, didapatkan hasil T hitung lebih kecil dari T 1% ( 0,78 <
4,604) . Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
kadar besi di air sungai dengan air sumur gali. Hasil ini berbeda dengan hasil
peneliti lain yang menyatakan bahwa jarak sungai memiliki pengaruh terhadap kandungan
polutan logam di dalam sumur gali [8].
Hal ini bisa terjadi karena faktor kondisi sungai saat dilakukan
penelitian ini di musim kemarau, dengan debit air yang kecil membuat pengaruh
sungai tidak signifikan. Selanjutnya, harus dilakukan penelitian yang lebih
memperhitungkan pengaruh debit air sungai terhadap peningkatan kadar polutan di
air sumur gali. Tidak hanya itu, karena di sekitar wilayah tersebut terdapat
rawa-rawa maka faktor adanya rawa-rawa ini juga harus diteliti, apakah justru
kadar besi di air sumur gali warga lebih terpengaruh oleh adanya rawa-rawa.
5.
Simpulan
1.
Pada air sungai di sekitar Perumnas Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu,
kadar besi (Fe) sudah melewati ambang batas persyaratan untuk air bersih
menurut Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990 ( > 1,0 mg/L)
2.
Pada air
sumur gali di Perumnas
Kemiling Permai rt 13 Kota Bengkulu, kadar besi (Fe) sudah melewati
ambang batas persyaratan untuk air bersih menurut Peraturan
Menteri Kesehatan No.492/MENKES/PER/IV/2010 ( > 0,3 mg/L)
3.
Hasil uji T menyatakan T hitung < T 1%
sehingga hubungan antara jarak sumur gali terhadap sungai tidak signifikan.
6.
Daftar Acuan
[1], Boky, H., Umboh, J. M. L., Ratag, B. ,(2015). Perbedaan Kandungan Merkuri
(Hg) Air Sumur Gali Berdasarkan Jarak dari Sumber Pencemar di Wilayah Pertambangan
Rakyat Desa Tatelu I. JIKMU, Vol, 5. No, 1
Januari 2015, Hal 63-70.
[2] Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Rineka Cipta
[3] Darmono. 2011. Penetapan Kadar
Zat Besi dan COD pada Air Sungai Bengkulu di Bengkulu. Bengkulu : Akademi
Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu.
[4] Anggreani, N. 2012. Analisis
Kadar Fe Air Sumur Gali Rt 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota
Bengkulu. Jurnal Kesehatan dan Kemasyarakatan. Vol 3. No 2 : 170-174
[5] Depkes RI. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 492
Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI.
[6] Joko, T. 2010. Unit Air Baku
dalam Sistem Penyediaan Air Minum . Yogyakarta : Graha Ilmu.
[7] Riyanto, A. 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan.
Yogyakarta : Nuha Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar