Analisis Kadar
Fe Air Sumur Gali RT 16
Kelurahan Pekan
Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu
Nita Anggreani, MT
Analis Kesehatan Harapan Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nita_anggreani@yahoo.com
Abstrak
Kebutuhan
hidup manusia terhadap air minum semakin meningkat seiring dengan berkembangnya
populasi manusia di muka bumi. Pemanfaatan sumber-sumber mata air semakin luas
untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya adalah sumur gali. Departemen
Kesehatan Indonesia telah mengeluarkan aturan untuk syarat fisik dan kimia air
minum. Salah satu syarat tersebut adalah ambang batas kadar Fe yang masih
dibolehkan terkandung dalam air minum. Penelitian ini melakukan pemeriksaaan
terhadap kadar Fe pada air sumur gali yang digunakan sebagai sumber air minum
oleh penduduk di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Analisis
kadar Fe ini menggunakan spektrofotometer uv-vis. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kadar Fe dalam air sumur gali penduduk melebihi ambang batas yang
ditetapkan Departemen Kesehatan.
Kata
Kunci : air minum, sumur gali, besi (Fe)
1. Pendahuluan
Hidup bersih dan
sehat dapat diartikan sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar
kebersihan dan kesehatan serta menjalankan pola/perilaku hidup bersih dan
sehat. Lingkungan yang sehat dapat memberikan efek terhadap kualitas kesehatan.
Penerapan hidup bersih dan sehat dapat dimulai dengan mewujudkan lingkungan
yang sehat [1].
Air merupakan sarana mutlak dan
bahan bagi kehidupan manusia dan tidak mungkin diganti dengan yang lain. Air merupakan
kebutuhan dasar manusia. Air bahkan merupakan bahan yang paling banyak menyusun
tubuh manusia. Tubuh orang dewasa, sekitar 55 – 60 % berat badan terdiri
dari air, untuk anak – anak sekitar 65 %, dan untuk bayi sekitar 80 %[2].
Banyak cara yang dipakai oleh manusia untuk mendapatkan air.
Diantara cara - cara tersebut adalah dengan membuat sumur gali, sumur pompa
tangan, penampungan air hujan, mengambil dari sumber mata air alam atau pun
dengan cara yang lebih modern yaitu dengan membuat sumur artetis [3].
Air yang diambil
masyarakat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih (mandi, cuci, dll) dan juga
sebagai air minum. Namun sebelum diolah/dikonsumsi seharusnya masyarakat
mengetahui apakah air tersebut sudah
memenuhi persyaratan sebagai air minum. Salah satu syarat adalah kndungan zat besi dalam air minum tidak diperkenankan lebih
dari 0,3 mg/l, agar air memenuhi syarat sebagai air minum[4].
Masyarakat yang masih awam belum
terlalu memperhatikan hal tersebut di atas. Karena itu penelitian ini dilakukan
untuk memberikan informasi yang pasti apakah air minum yang akan mereka masak
untuk dikonsumsi selanjutnya, sudah memenuhi syarat atau tidak sebagai air
minum.
2. Teori
Singkat
Besi
mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam transisi
yang berada pada golongan VIII B
dan periode 4. Besi adalah logam berwarna putih perak, yang kukuh dan
liat, melebur pada suhu 1535oC [5].
Kelebihan dan
kekurangan zat besi mempengaruhi tubuh. Kekurangan besi dalam tubuh pada umumnya
menyebabkan pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya
kemampuan kerja, menurunnya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka.
Disamping itu kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Pada anak-anak kekurangan
besi menimbulkan apatis, mudah tersinggung, menurunnya kemampuan berkonsentrasi
dan belajar . Sedangkan gejala jika mengalami kelebihan zat besi adalah rasa
mual, muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau, dan
pingsan [6]. Toksisitas kronis Fe pada tingkat sel akan meningkatkan
gangguan fungsi hati, gangguan fungsi endokrin, dan penyakit kardivaskuler [7].
Analisa besi ini
menggunakan alat spektrofotometer yaitu suatu
instrumen untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi
dari suatu panjang gelombang tunggal[8].
3.
Metode Eksperimen
Bahan yang digunakan adalah air yang di ambil dari sumur
gali penduduk di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu
dan larutan standar Fe.
Peralatan untuk
analisa adalah spektrofotometer uv-vis Thermo Genesys 20.
Langkah pertama adalah membuat larutan standar Fe dimana
besi II dioksidasi menjadi besi III. Selanjutnya dari larutan induk besi III
dibuat variasi konsentrasi larutan. Absorbansi masing-masing larutan standar
dicek dengan spektrofotometer lalu dibuat Kurva Kalibrasi Larutan Standar
(konsentrasi vs absorbansi) untuk mendapatkan nilai untuk persamaan
Lambert-Beer
A = ε. b . c
Keterangan:
A= Absorban
ε =
Absortifitas Molar (cm
– 1. ppm -1)
b = Tebal Kuvet (cm)
c = Konsentrasi (ppm)
Selanjutnya
sampel air dari sumur gali dicek absorbansinya dan dihitung kadar Fe nya
menggunakan rumus di atas.
4.
Hasil
Hasil analisa
air sampel dari sumur gali menggunakan spektrofotometer ditunjukkan dengan
tabel di bawah ini.
Tabel 4.1. Kandungan
Zat Besi (Fe) pada air sumur gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan
Selebar Kota Bengkulu.
SAMPEL
|
Konsentrasi Fe (ppm)
|
|
Air Sumur Lokasi 1
|
||
Waktu Pengambilan Sample : Pagi
|
15,06
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Siang
|
15,16
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Sore
|
18,42
|
|
Air Sumur Lokasi 2
|
||
Waktu Pengambilan Sample : Pagi
|
15,06
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Siang
|
15,2
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Sore
|
18
|
|
Air Sumur Lokasi 3
|
||
Waktu Pengambilan Sample : Pagi
|
15,06
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Siang
|
15,35
|
|
Waktu Pengambilan Sample : Sore
|
17,32
|
|
Rata-rata
|
16,07
|
Dari tabel di
atas tampak bahwa semua sampel air sumur gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar
Kota Bengkulu melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Depkes RI, 2010, yaitu sebesar maksimal 0,3 mg/l atau 0,3
ppm.
Jika kita lebih telaah lagi berdasarkan waktu pengambilan
sampel yaitu pagi (jam 08.00 WIB) , siang (12.00 WIB) dan sore (16.00 WIB)
tampak bahwa di waktu sore hari , kadar Fe lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan
oleh gambar 4.1 berikut ini. Kadar
Fe tertinggi di waktu sore hari karena
di sore hari air sumur semakin menyusut
dikarenakan pengambilan sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan juga pengaruh
penguapan oleh matahari sepanjang hari.

Gambar 4.1. Kadar Fe Air Sumur Gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu
Berdasarkan Waktu Pengambilan Sampel
Sampel juga diambil dari sumur gali yang
berbeda-beda jaraknya dari sungai yang mengalir di dekat lokasi. Maka
berdasarkan jarak sumur ke sungai tersebut didapatkan hasil kadar Fe yang
berbeda juga seperti tampak pada gambar 4.2 berikut ini.

Gambar 4.2. Kadar Fe Air Sumur Gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu
Berdasarkan Jarak Sumur Gali yang digunakan untuk air Sampel
Tampak hasil dari gambar menunjukkan bahwa
kadar Fe paling tinggi terdapat pada sumur gali yang letaknya paling dekat
dengan sungai. Hal ini menunjukan juga kemungkinan sungai yang mengalir di
dekat perumahan warga tersebut juga tercemar dan mengandung kadar Fe tinggi.
Untuk pembuktian kemungkinan ini harus dilakukan penelitian lebih lanjut apakah
kadar Fe di sungai memang mempengaruhi kadar Fe di air sumur gali warga
5. Kesimpulan
Dari hasil dan
pembahasan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Air
sumur warga di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Bengkulu sudah
melebihi ambang batas yang sudah ditetapkan Departemen Kesehatan RI tahun 2010.
2.
Semakin
sore hari kadar Fe di sumur gali makin tinggi.
3.
Makin
dekat letak sumur gali dengan sungai, kadar Fe didalamnya makin tinggi.
6. Daftar
Acuan
[1] Depkes RI. 2002. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 907 Tahun 2002 Tentang Persyaratan
Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI.
[2] Notoadmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
[3] Pitojo,
S, dan Purwantoyo, E. 2003. Deteksi
Pencemaran Air Minum. Semarang : Aneka Ilmu.
[4] Depkes RI. 2010.
Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 492
Tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI
[5] Svehla.
G. 1979. Vogel I. Jakarta. PT. Kalman
Media Pusaka
[6] Sunita,
Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
[7] Widowati, W., Sastiono, A., dan Jusuf, R. 2008. Efek Toksik Logam. Yogyakarta : CV.
Andi.
[8] Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik Edisi kedua.
Jakarta : UI Press.
mantapp..penelitian saya dan mahasiswa AAK HB
BalasHapusjempol buat yg udah muat di blog ini