Rabu, 28 Oktober 2015

UJI SENSITIFITAS ANTIMIKROBA SARI KUNYIT (Curcuma domistica) TERHADAP BAKTERI Salmonella thypi Hepiyansori Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu

UJI SENSITIFITAS ANTIMIKROBA SARI KUNYIT (Curcuma domistica) TERHADAP BAKTERI Salmonella thypi


Hepiyansori
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu

Abstrak
Telah dilakukan penelitian tentang uji sensitifitas sari kunyit (Curcuma domistica) terhadap bakteri Salmonella thypi dari bulan januariApril 2012 yang bertujuan untuk mengetahui apakah sari kunyit mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi dan pada kosentrasi sari kunyit berpakah yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa sari kunyit mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi dan kosentrasi paling efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kosentrasi sari kunyit 5 % dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 20 mm, mendekati diameter zona hambat pada kontrol (+) sebesar 28 mm. Mengkonsumsi kunyit dalam setiap masakan sangat dianjurkan agar dapat mencegah berkembangnya bakteri Salmonella thypi.

Kata kunci: Sensitifitas, kunyit, dan Salmonella thypi.

A research on sensitivity test of turmeric extract (Curcuma domistica) against the bacterium Salmonella thypi from January - April 2012 which aimed to determine whether turmeric extracts can inhibit bacterial growth and the concentration of Salmonella thypi berpakah turmeric extract that is most effective in inhibiting the growth of bacteria Salmonella thypi , This research uses descriptive method of observation and analyzed descriptively. The results showed that turmeric extracts can inhibit the growth of bacteria Salmonella thypi and most effective concentration to inhibit the growth of bacteria is a turmeric extract concentration of 5% with an average diameter of 20 mm inhibition zone, approaching the diameter of the inhibition zone on the controls (+) of 28 mm. Consuming turmeric in each dish is highly recommended in order to prevent the growth of bacteria Salmonella thypi.

Keywords: Sensitivity, turmeric, and Salmonella thypi.

1.      PENDAHULUAN
Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, menjadikan kebutuhan  pelayanan kesehatan semakin meningkat. Upaya Departemen Kesehatan dalam pemerataan kesehatan sudah cukup banyak, akan tetapi masih saja ada kalangan yang belum terjangkau pelayanan kesehatan terutama masyarakat dipelosok daerah dan atau masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Keterisolasian dan tingkat pendapatan merupakan penyebab utama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai tidak dapat terpenuhi. Dengan demikian peranan pengetahuan pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat sangat penting diketahui. Dunia mikroba terutama bakteri memberikan berbagai dampak bagi kehidupan manusia, keberadaan bakteri dapat membawa dampak positif bagi manusia tapi tidak sedikit yang merugikan manusia. Salah satu bakteri yang membahayakan kehidupan manusia adalah Salmonella typhi yang dapat menyababkan penyakit demam tifus. Di Indonesia, diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau (Yani, 2006).
Bakteri Salmonella typhi berkembang pada saluran pencernaan binatang seperti babi, sapi, dan ayam. Bakteri tersebut kemudian menyebar melalui makanan hingga menginfeksi manusia. Ketika menginfeksi manusia, Salmonella typhi bersarang di saluran pencernaan, mulai dari lambung hingga usus halus menimbulkan salmonellosis. Perkembangan bakteri Salmonella terbilang sangat cepat dan menakjubkan, setiap selnya mampu membelah diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat berkisar dari 37 - 39ÂșC dan pada media tumbuh yang mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel bakteri bisa berkembang menjadi 90.000 sel hanya dalam waktu 6 jam. Salmonellosis terutama tifus dan paratifus yang menyerang manusia bisa menyebabkan kematian. Walaupun bakteri tersebut bisa dihambat perkembangannya oleh asam lambung, tapi dalam kondisi tubuh seseorang tidak dalam keadaan fit, atau terlalu lelah, asam lambung tidak mampu mengatasi perkembangan bakteri tersebut.  Pengobatan tradisional yang sering pula disebut sebagai kedokteran tradisional, merupakan berbagai cara pengobatan yang berkaitan erat dengan budaya suatu suku bangsa yang mendiami wilayah geografi tertentu. Sekarang, pengobatan ini banyak digunakan masyarakat, disamping melepas dari ketergantungan pada obat kimiawi, juga karena biaya yang dikeluarkan sangat terjangkau khususnya bagi mereka yang kurang mampu. Pengobatan tradisional ini menggunakan bahan-bahan alami yang ada disekitar lingkungan tempat suatu suku bangsa berdiam (Anonim, 2007).
Salah satu tananam obat tradisional adalah kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya. Kandungan yang terdapat dalam kunyit tersebut, maka kunyit banyak dimanfaatkan sebagai obat. Adapun penyakit yang bisa disembuhkan dengan khasiat dari kunyit tersebut diantaranya adalah diabetes millitus, tifus sebagai antibakteri, usus buntu, sakit keputihan, menstruasi, disentri dan lain - lain (Ahira, 2009).  
Komposisi kimia rimpang kunyit terdiri atas minyak atsiri dan kurkumin. Kurkumin memiliki manfaat sebagai zat antibakteri atau antimikroba. Sel bakteri sebagian besar tersusun atas protein, yang semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzym dimana enzym juga merupakan protein. Kunyit yang mengandung senyawa kurkumin adalah senyawa turunan fenolitik yang bersifat asam. Asam mampu mengendapan protein artinya asam menyebabkan denaturasi yang didahului oleh perubahan sruktur molekulnya dan menjadikan protein tidak dapat melakukan fungsinya sehingga sel bakteri mengalami kematian. Demikian juga minyak atsiri yang memiliki aktivitas sel mikroba terhadap bakteri patogen. Komponen antimikroba adalah suatu komponen yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakterisidal) Samsundari, 2006.  Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka peneliti ingin mengetahui efektifitas sari kunyit (Curcuma domistika) sebagai penghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang berjudul “Uji Sensitifitas Antimikroba Sari Kunyit (Curcuma domistica) terhadap Bakteri Salmonella typhi





2.      TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk mengetahui sensivitas pemberian sari kunyit (Curcuma domistika) terhadap penghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi.
2.      Untuk mengetahui pada konsentrasi berapakah pemberian sari kunyit (Curcuma domistica) paling efektif sebagai penghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi .

3.    MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat dan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan masyarakat pada umumnya sehingga kunyit dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit tipus.


4.    METODOLOGI PENELITIAN
4.1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari mulai tanggal 22 sampai 26 April tahun 2012 di Laboratorium Akademi Analis Kesehatan (AAK) Harapan Bangsa Bengkulu. Populasi dari penelitian ini adalah sari kunyit. Sampel dari penelitian sari kunyit dengan konsentrasi pengenceran berurutan mulai dari 5%, 10%, 15%,dan 20%.
4.2.Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.         Alat untuk membuat sari kunyit: corong, beaker glass 50 ml, pipet tetes, mikropipet 5 ml, mikropipet 1 ml, timbangan analitik dan blender.
b.        Alat sterilisasi: cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur 100 ml dan 500 ml. lampu spritus, jarum inokulasi lurus dan berkolong, autoclave, kertas kacang dan stove.
c.         Alat pengukur : Mistar atau penggaris.
d.        Alat untuk menginkubasi biakan: incubator
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Tanaman kunyit,
b.      Aquadest, ethanol 96%, NaCl Fisiologis, Muller Hilton agar
c.       Kapas, cotton bud, kain kasa, kertas sampul, disc blank
4.3.Prosedur penelitian
1.        Sterilisasi alat
Sterilisasi alat-alat yang akan dipakai pada saat penelitian seperti: tiga buah labu Erlenmeyer 250 ml, labu Erlenmeyer 500 ml, tabung reaksi, cawan petri, pipet volum ukuran 1 ml, spatel, gelas ukur 250 ml dan 500 ml, kemudian dimasukkan ke dalam oven pda suhu 1800C selama 60 menit (Penuntun Bakteriologi Darah Labkesda Bengkulu, 2001:13).
2.        Pembuatan media :
a.    NaCl fisiologis (0,9 %)
Menimbang 0,9 gr NaCl menggunakan neraca analitik kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, menambahkan aquades sampai tanda batas, kemudian dimasukkan kedalam cawan petri sebanyak 20-25 sebagai control, serta dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak +/- 5 ml kemudian ditambahkan biakkan bakteri Salmonella thypi sampai keruh . (Penuntun pembuatan media AAK-HB Bengkulu, 2002).
b.    Media Pertumbuhan (Muller Hilton Agar) Ditimbang sebanyak 15,2 gram Muller Hilton Agar kemudian masukkan kedalam labu erlemeyer 500 ml. Ditambahkan 400 ml aquadest kemudian panaskan hingga mendidih dan biarkan dingin. Ditutup dengan kapas padat lalu bungkus dengan kertas kacang lalu diikat kemudian ditserilkan menggunakan autoclave. Dituangkan kedalam petridish dan biarkan dingin hingga padat.
3.      Penyiapan biakan strain murni.
Biakan bakteri Salmonella thypi di suspensikan kedalam tabung reaksi yang berisi Nacl fisiologis hingga keruh. kemudian bakteri Salmonella thypi yang telah di suspensikan dengan Nacl fisiologis hingga keruh dituang kedalam cawan petri yang telah berisi medium MH hingga merata
4.      Pembuatan sari kunyit : Sari kunyit dilakukan dengan 2 cara yaitu sari segar dan sari rebus. sari segar dilakukan tanpa pemanasan, yaitu dengan  cara memblender kunyit.  Pembuatan sari dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Kunyit dicuci kemudian sortir bahan yaitu rimpang kunyit sebanyak 100 gram, kemudian diiris memanjang dengan ketebalan sekitar 1-2 mm.
b.      Dihancurkan bahan dengan menggunakan blender (kunyit : air = 1:1).
c.       Disaring hasil sari kunyit dari blender menggunakan kain kasa untuk mendapatkan sari segar.
d.      Dilakukan pengenceran untuk pembuatan konsentrasi, 5%, 10%, 15% dan 20% dengan cara:
Tabel 1 Pengenceran Sari Kunyit
Konsentrasi
Pengenceran
5%
0,5 ml sari kunyit 100% + 9,5 ml ethanol
10%
1,0 ml sari kunyit 100% + 9 ml ethanol
15%
1,5 ml sari kunyit 100% + 8,5 ml ethanol
20%
2,0 ml sari kunyit 100% + 8 ml ethanol


5.      Pengujian daya antimikroba
Pengujian sensitifitas Salmonella thypi terhadap sari kunyit dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Direndam disc blank pada masing-masing konsentrasi larutan selama 1 x 24 jam secara aseptis.
b.      Diinokulasikan biakan strain murni bakteri Salmonella thypi pada medium MH dengan menggunakan lidi kapas steril .
c.       Disc blank hasil perendaman di angkat dan ditempelkan ke dalam medium MH.
d.      Diinkubasi menggunakan inkubator pada suhu 370 C selama 1x24 jam.
e.       Diamati sensitifitas bakteri Salmonella thypi terhadap sari kunyit yang ditunjukan terbentuknya zona bening di sekitar disc blank obat. 
Diameter Kertas Cakram
 
 
Zona Hambat = Diameter zona jernih – diameter kertas cakram
6.    analisis data
Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dengan menyimpulkan berdasarkan pengamatan langsung hasil identifikasi.

5.    HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada uji sensitifitas sari kunyit terhadap bakteri  Salmonella thypi, maka didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 2 Data Diameter Bening Pada Medium MH
Kosentrasi
Diameter Zona Hambat (mm)
Rata-rata
(mm)
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Kontrol (+)
29
27
28
28
5 %
21
20
19
20
10 %
20
12
11
14,33
15 %
12
7
5
8
20 %
7
7
7
7

Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dilihat adanya zona hambat pada disk blank yang telah direndam di dalam larutan sari kunyit terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella dari yang terbesar sampai yang terkecil. Zona hambat terbesar terbentuk pada cawan petri dengan kosentrasi sari kunyit sebesar 5 % dengan rata-rata 20 mm, sedangkan hambatan yang terkecil terbentuk pada cawan Petri dengan kosentrasi 20 % dengan rata-rata 7 mm. Zona ini masih kecil jika dibandingkan dengan kontrol  (+) yang digunakan. Sedangkan kontrol positif mengahasilkan hambatan sebesar rata-rata 28 mm. Kontrol positif pada penelitian ini menggunakan Kloramfenikol. Kloromfenikol adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktifitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. Kloramfinikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif dan beberapa bakteri gram-negatif. Metode yang paling sering digunakan untuk mengetahui tingkat keefektifan suatu bahan antimikroba adalah metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah diinkubasi, diameter zona hambat sekitar cakram dipergunakan untuk mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standardisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik. Berdasarkan hasil uji sensitifitas sari kunyit terhadap bakteri Salmonella thypi dengan menggunakan metode diffusion test Kirby Bauer sebanyak 4 sampel dengan 3 kali pengulangan serta dengan perendaman selama 1 x 24 jam didapatkan zona hambat di sekitar disk blank pada biakan bakteri Salmonella thypi berkisar antara 7- 21 mm. Sedangkan pada kontrol positif terdapat zona hambat dengan rata-rata 28 mm.Zona hambat terbesar yang ditemukan peneliti dari beberapa kosentrasi sari kunyit terdapat pada cawan Petri dengan kosentrasi sari kunyit 5% dengan rata-rata sebesar 20 mm. Menurut Ahn dalam Saluhurrahman (2009), zona hambat sebesar 20 mm adalah tergolong sedang. Efek terendah perendaman oleh sari kunyit adalah pada konsentrasi sari kunyit 20 %. Dengan demikian terlihat suatu kecenderungan dimana semakin tinggi kosentrasi sari kunyit maka tingkat sensitifitasnya semakin rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapat bahwa kosentrasi 5 % adalah kosentrasi yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Salehurrahman (2009), dimana terdapat pengaruh variasi konsentrasi perasan rimpang kunyit (Curcumae domestica Val.) terhadap cemaran mikroba E. coli dimana konsentrasi 7 % perasan kunyit menunjukkan rerata total pertumbuhan bakteri E. coli yang paling sedikit yakni 48.55 cfu/ml. Ini menunjukkan bahwa kosentrasi yang tinggi tidak menjamin semakin efektifnya sari kunyit dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Zona hambat yang terbentuk merupakan bukti bahwa kunyit mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella terutama pada kosentrasi sari 5 %.Komposisi kimia rimpang kunyit terdiri atas minyak atsiri dan kurkumin. Kurkumin memiliki manfaat sebagai zat antibakteri atau antimikroba. Sel bakteri sebagian besar tersusun atas protein, yang semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim dimana enzim juga merupakan protein. Kunyit yang mengandung senyawa kurkumin adalah senyawa turunan fenolitik yang bersifat asam. Asam mampu mengendapkan protein artinya asam menyebabkan denaturasi yang didahului oleh perubahan sruktur molekulnya dan menjadikan protein tidak dapat melakukan fungsinya sehingga metabolisme yang dikatalis enzim menjadi terhambat dan akhirnya sel bakteri mengalami kematian (Tjitrosomo, 1994).Namun, selain sifat asam yang mendenaturasi protein, asam juga merusak kinerja terhadap antigen Salmonella. Salmonella memiliki beberapa antigen. Antigen somamatic serupa dengan antigen somatic O kuman entero bactericeae lainnya. Antigen flagel (antigen H) pada Salmonella ditemukan dalam dua fase yaitu fase spesifik dan fase tidak spesifik. Antigen H rusak pada pemanasan diatas 600C, alcohol dan asam. Antigen Vi adalah polimer dari sakarida yang bersifat asam, terdapat pada bagian yang paling luar badan kuman. Rusak dengan pemanasan 600C selama 1 jam, pada penambahan fenol dan asam (Tjitrosomo, 1994). Asam juga dapat melarutkan membran bakteri berupa lipid dan akan menyerang antigen Vi polimer dari polisakarida yang bersifat asam yang terdapat pada bagian yang paling luar badan bakteri Salmonella sehingga akan mengganggu kekebalan dari bakteri ini dan dengan adanya peningkatan imun tubuh (kekebalan tubuh) maka hal ini akan membuat bakteri Salmonella ini aktivasi.Organisme yang berasal dari genus Salmonella merupakan mikroorganisme yang tersebar luas di Indonesia yang dapat menyebabkan  berbagai jenis infeksi pada manusia yaitu demam enteric atau demam tifoid, bakterimia dengan lesi fokal dan enterokaitis atau gastroenteritis. Oleh sebab itu, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap sari kunyit yang merupakan bahan alam yang tersedia banyak di Indonesia dapat digunakan sebagai obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella. 

6.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diambil kesimpulan antara lain:
1.         Sari kunyit mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella thypi.
2.         Kosentrasi paling efektif sari kunyit dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella thypi adalah 5 % dengan rata-rata zona hambat sebesar 20 mm.
3.         Bagi masyarakat disarankan agar selalu mengkonsumsi kunyit terutama di dalam masakan sehari-hari di rumah, terutama untuk penderita demam tifoid atau demam tifus.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pengobatan Tradisional Melayu. http://www.melayuonline.com. Diakses tanggal 2 Maret 2009.
Ahira, Anne. 2009. Khasiat Kunyit. Blog (online) http://www.anneahira. Com/tanaman-obat/kunyit.htm (Diakses 26 Pebruari 2009).
Atmaja, Dahnu Ari. 2008. Pengaruh ekstrak kunyit (curcuma domestica) Terhadap gambaran mikroskopik mukosa Lambung mencit balb/c yang diberi parasetamol. Semarang: Skripsi Tidak Diterbitkan.

Atmawijaya, Sudana; Sukmadjaja; Asyarie; & Elin Herlina. 2000. Uji Daya Anti Mutagenik Beberapa Ekstrak Bahan Alam Secara Mikrobiologi. Makalah pada Kongres Ilmiah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia XIII tahun 2000.

Arlin. 2007. Seluk-Beluk Penyakit Tifus. (online) http://wwwError! Hyperlink reference not valid.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/ (Diakses 7 Maret 2009.)

Dewi, Fajar Kusuma. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia, linnaeus) Terhadap Bakteri Pembusuk Daging Segar. Surakarta: Skripsi Tidak Diterbitkan.
Jawetz, et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical
Palgunadi, Jelliarko. 2009. Manfaat Kunyit Sebagai Obat Anti Kanker. (Online) http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kunyit-obat-anti-kanker-masa-kini/ (Diakses 26 Pebruari 2009).
Pelczar, Michael J dan E.C.S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Rahayu, Winiati Pudji. 2000. Aktivitas Antimikroba Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan Industri Terhadap Bakteri Patogen Dan Perusak. Jurnal Bul. Teknol dan Industri Pangan. Vol. 11 (2). Hal: 42-48.
Riwan. 2008. Kunyit (Curcuma domistica). (online) http://tanaman-kesehatan.blogspot.com/2008/05/kunyit-kurkuma-domestica.html (Diakses 26 Pebruari 2009).
Salehurrahman, 2009. Pengaruh Perasan Rimpang Kunyit (Curcumae domesticae. Val) Terhadap Total Bakteri Eschericia coli dan Salmonella Pada Tahu. Malang: Skripsi Tidak Diterbitkan.
Samsundari. 2006. Pengujian Ekstrak Temulawak dan Kunyit Terhadap Resistensi Bakteri aeromonas hydrophilla yang menyerang ikan mas (cyprinus carpio) http://dp2m.umm.ac.id/files/file/Jurnal%20Gamma%20Vol_2,%20No_1,%20September%202006/10%20Sri%20Samsundari.pdf. Diakses 12 Juni 2009.
 Staf Pengajar AAK-HB. 2002. Penuntun pembuatan media Bengkulu: Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa.
 Sunanti. 2007. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tunggal Bawang Putih (Allium sativum linn.) dan Rimpang Kunyit (curcuma domestica val.) Terhadap Salmonella typhimurium. Bogor: Skripsi Tidak Diterbitkan.
 Tjitrosomo, Sri Lestari A. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: UI Press.
 Yani, Andai. 2006. Penyakit Tipus. (Online) http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2021226-penyakit-tifus/ (Diakses 2 Maret 2009).
 www. Wikipedia.com. Diakses 21 Februari 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar