HUBUNGAN PENYAKIT KECACINGAN
DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH
DASAR DI SD NEGERI 77
PADANG SERAI KOTA BENGKULU TAHUN 2013
Inayah Hayati
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu
Penyakit kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Kejadian Penyakit kecacingaan pada usia sekolah banyak terjadi pada
wilayah kumuh dan pada kelompok rawan gizi atau status gizi buruk. Bila status
gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan
tingkat kecerdasan anak menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara penyakit kecacingan dengan status gizi pada anak. Populasi anak sekolah usia 6-8 pada kelas 1-2 sejumlah 46 orang
anak di SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu. Teknik sampling adalah total
sampling, sampel berjumlah 46 orang anak. Pengumpulan data menggunakan lembar
observasi dan uji laboratorium. Teknik analisis menggunakan uji chi square
dengan: 0,05.Hasil penelitian didapatlah status gizi baik 52,2% pemeriksaan
kecacingan negatif 80,4% sebagaian yang
terinfeksi penyakit kecacingan adalah 19,6%. Hasil uji statistik
didapatkan p = 0,638, jika p > 0,05 berarti tidak ada hubungan antara status
gizi dengan penyakit kecacingan.
The Worm infestatioons disease is
widespread, both in rural and urban areas. Disease incidence the worm infestations at school
age prevalent in the slums and in the group of malnutrition or poor nutritional
status. When the poor nutritional status will lead to malnutrition, anemia,
stunted growth and decreased level of intelligence of children. This study
aimed to determine the relationship between de- worming and nutritional status
in children. The population of school children in the 6-8 age 1-2 class number
46 primary school children in Padang Serai 77 Bengkulu City. Sampling technique
is total sampling, sample of 46 children. Collecting data using observation and
laboratory testing. Mechanical analysis using chi square test with: 0,05. The results of this research is good nutritional status examination 52.2%, 80.4% negative worm worming is 19.6%. Statistical test results obtained p = 0.638, if p>
0.05 indicates no relationship between nutritional status and worm infestations disease.
Key word : Kecacingan,
Status Gizi
PENDAHULUAN
Gizi
merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan dan proses tumbuh kembang
anak. Sehingga pemenuhan kebutuhan gizi sangat kuat turut menentukan tumbuh
kembang sebagai sumber daya manusia dimasa yang akan datang. Secara umum gizi
sebagai bagian dari kesehatan untuk semua, mempunyai peran yang penting dalam
upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama dalam menciptakan
generasi baru yang berkualitas maju, mandiri dan cerdas (Zaenal, 2007).
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat. Masalah gizi
di Indonesia pada umumnya masih di dominasi oleh masalah Kurang Energi Protein
(KEP), masalah anemia besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY),
masalah kurang Vitamin A (KVA) dan masalah obesitas. Prevalensi nasional
status gizi anak usia sekolah berdasarkan Riskesdas 2010 ditinjau dari
indikator indeks massa tubuh
menurut umur,
status gizi kurang 12,2%. Sementara dilihat dari jenis kelamin, anak laki-laki
usia sekolah kurus adalah 13,2% sedangkan anak perempuan 11,2%.
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang
sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan
anak, mengingat manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan
perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh. Salah satu penyebab dari gangguan status gizi adalah
penyakit cacingan. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi,
anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun (Hidayat,
2007).
Cacingan mempengaruhi pemasukan
(intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorpsi), dan metabolisme
makanan. Secara kumulatif infeksi cacinganan dapat menimbulkan kurangan gizi
berupa kalori dan protein, serta kehilangan darah yang berakibat menurunnya
daya tahan tubuh dan menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak. Khusus anak
usia sekolah, keadaan ini akan berakibat buruk pada kemampuannya dalam
mengikuti pelajaran di sekolah. Sehubungan dengan tingginya angka prevalensi
infeksi cacingan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu pada
daerah iklim tropik, yang merupakan tempat ideal bagi perkembangan telur
cacing, perilaku yang kurang sehat seperti buang air besar di sembarang tempat,
bermain tanpa menggunakan alas kaki, sosial ekonomi, umur, jenis kelamin,
mencuci tangan, kebersihan kuku, pendidikan dan perilaku individu, sanitasi
makanan dan sanitasi
sumber air
(Andaruni dkk, 2012).
Infeksi kecacingan sering ditularkan oleh
cacing yang termasuk kedalam kelompok cacing “Soil Transmitted Helminth” yaitu
cacing yang ditularkan melalui tanah. Cacing yang menginfestasi anak dengan
prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk ( Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus), Ancylostoma
duodenale (WHO, 2013)
Menurut survei
yang pernah dilakukan oleh Sub Direktorat Penanggulangan dan Pencegahan Diare,
Kecacingan, dan ISPL, Departemen Kesehatan Bengkulu di suatu daerah terutama
pada anak Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3160 siswa di
13 SD ternyata menderita kecacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih
tinggi yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5
persen (DepKes, 2006).
Sekolah Dasar
Negeri 77 Padang Serai terletak di Jalan Semangka V, Padang Serai, Kecamatan Kampung
Melayu Bengkulu. SDN 77 berada di daerah yang cukup dekat dengan pantai, sanitasi
lingkungan sekitarnya masih buruk dan anak-anak SD sering kali bermain di
tanah. Sekitar 60% kepala keluarga dari penduduk Padang Serai sehari-harinya
mata pencahariannya sebagai nelayan.
Berdasarkan hal diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Hubungan Antara Penyakit Kecacingan dengan Status Gizi pada
Anak Sekolah Dasar Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu” tahun 2013.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan
penelitian observasional analitik, dengan menggunakan rancangan cross sectional study untuk melihat
hubungan antara infestasi kecacingan dengan status gizi pada pada anak sekolah dasar di SD Negeri 77 Padang
Serai Kota Bengkulu tahun 2013. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 77 Padang
serai Kota Bengkulu dan pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Patologi
Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu. Populasi dalam penelitian ini
adalah siswa-siswi SDN 77 kelas 1-2 Padang Serai Kota Bengkulu. Sampel dalam
penelitian ini adalah 46 pot sampel feses siswa-siswi kelas 1-2 SDN 77 Padang
Serai Bengkulu. Tekhnik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Data hasil
penelitian diperoleh dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dari data hasil
penelitian langsung lapangan mengenai identitas dan karakteristik anak.
Data infestasi kecacingan diperoleh dengan cara pemeriksaan tinja dengan
menggunakan eosin . sedangkan data status gizi
diperoleh dari indeks antropometri berdasarkandata berat badan (BB),
tinggi badan ( TB), umur (U), Lingkar Kepala (LK), Lingkar Lengan Atas (LLA).
Analisis data dengana univariat dan bivariat. Untuk menetukan hubungan penyakit
kecacingan dengan status gizi anak SDN 77 Padang Serai Kota Bengkulu digunakan
Uji Chi-Square.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian
meliputi data umum responden yaitu berdasarkan umur, berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala, dan lingkar lengan atas. Sedangkan data khusus meliputi
identifikasi status gizi pada anak sekolah dasar (SD) kelas I dan II, yang
berusia 6-8 tahun, identifikasi adanya penyakit kecacingan pada anak sekolah
dasar (SD), menganalisis hubungan antara status gizi dan penyakit kecacingan
pada anak sekolah dasar (SD) kelas I dan II.
Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan
umur, jenis kelamin dan status gizi di SD N 77 Padang Serai Kota Bengkulu kelas
I dan II.
Tabel. 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur
No. Umur Frekuensi Persentase
1. 6 tahun 19 41,3%
2. 7 tahun 24 52,2%
3. 8 tahun 3 6,5%
Jumlah 46 100%
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi
Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1. laki-laki
18 39,1%
2. Perempuan 28 60,9%
Jumlah 46 100%
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Berdasarkan status Gizi
No. Status Gizi Frekuensi Persentase
1. Baik 24 52,2%
2. Sedang 12 26,1%
3. Kurang 9 19,6%
4. Buruk 1 2,1%
Jumlah 46 100%
Berdasarkan
Tabel 4.1. Sebagian besar responden 19 anak (41,3%) berusia 6 tahun, 24 anak
(52,2%) berusia 7 tahun, dan 3 anak (6,5%) berusia 8 tahun.
Berdasarkan Tabel 4.2. Sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan 18 anak (39,1%)dan 28 anak (60,9%) berjenis kelamin laki-laki.
Berdasarkan Tabel 4.3 Sebagian besar responden 24
anak (52,2%) berstatus gizi baik, 12 anak (26,1%) berstatus gizi sedang, 9 anak
(19,6%) berstatus gizi kurang dan 1 anak (2,1%) berstatus gizi buruk.
Tabel 4.4 Distribusi
frekuensi responden berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pada feses dan
Status Gizi anak di SD N 77 Padang Serai Kota Bengkulu kelas I dan II.

Sumber: Data
primer
Berdasarkan Tabel 4.4 sebagian besar responden 9 anak (19,6%) dengan hasil positif
menderita kecacingan , dan 37 anak (80,4%) negatif penyakit kecacingan.
Berdasarkan Tabel 4.3 Sebagian besar responden 24 anak
yang berstatus gizi baik (52,5%) dengan hasil positif menderita kecacingan
sebanyak 6 orang anak, dan hasil yang tidak menderita penyakit kecacingan 18
anak. Sedangkan responden yang berstatus gizi buruk berjumlah 1 anak (2,1%)
dengan hasil negatif menderita penyakit kecacingan 1 anak. Dan berdasarkan uji
Chi-square test/X2 maka didapatlah nilai p = 0,638 jika p > (0,05),
maka H0 diterima sehingga tidak ada hubungan antara status gizi dengan penyakit
kecacingan.
1. 2. Pembahasan
Berdasarkan dari hasil penelitian mengenai identifikasi status gizi
pada anak sekolah dasar kelas I dan II yang berusia (6-8 tahun) di SD Negeri 77
Padang Serai
Kota Bengkulu,
maka didapatlah 24 orang anak (52,2%) berstatus gizi baik, 12 orang anak
(26,1%) berstatus gizi sedang, 9 orang anak (19,6%) berstatus gizi kurangdan 1
orang anak (2,1%) berstatus gizi buruk. Hal ini membuktikan bahwa sebagian
besar anak di Sekolah Dasar 77 Padang
Serai Kota Bengkulu berstatus gizi baik. Status gizi baik atau status gizi
optimal terjadi bila tubuh memproleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara
efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhanfisik, pertumbuhan otak,
kemampuan kerja dan kesehatan secara umum padatingkat setinggi mungkin. Status
gizi kurang terjadi bila tubuh mengalamikekurangan satu atau lebih zat-zat
lebih esensial (Almatsier, 2002).
Status gizi individu dipengaruhi dari pemenuhan gizi. Penyakit
infeksi padaanak, hygiene yang kurang, letak demografi/tempat tinggal yang
buruk dapat berdampak pada status gizi individu. Sehingga dapat menyebabkan
status gizi buruk. Sedangkan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam
membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat manfaat
gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak,
serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam
tubuh.Terpenuhinya kebutuhan gizi pada anak diharapkan anak dapat tumbuh
dengancepat sesuai dengan usia tumbuh dan dapat meningkatkan kualitas hidup
serta mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas.
Identifikasi Penyakit kecacingan dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan 37 anak (80,4%)
dengan hasil negatif (-) menderita penyakit kecacingan, dan 9 anak (19,6%) dengan hasil positif (+) menderita penyakit kecacingan. Hal ini membuktikan dari hasil laboratorium,
bahwa sebagian besar anak sekolah dasar di SD Negeri77 Padang Serai Kota
Bengkulu yang menderita penyakit kecacingan hanya sebagian kecil dari anak yang
berumur 6-8 tahun.
Apabila seorang anak yang terinfeksi kecacingan, maka akan
menderita"5 L": lemah, letih, loyo, lalai, dan lemas. Bila hal ini
menimpa anak, maka akan mengganggu pertumbuhannya. Kondisi "5 L" akan
membuat anak mudah sakit."Bila terus didiamkan, dalam jangka panjang anak
bisa terserang berbagaipenyakit yang diakibatkan kekurangan gizi, rabun mata,
danberambut ijuk. Selain itu, kemampuan belajar anak juga akan menurun,
karenadaya tangkap anak kecacingan lebih lemah daripada anak yang tidak
kecacingan. Sedangkan bila terjadi pada orang dewasa, maka orang itu terancam menderita
anemia. Akibat lanjutannya, dalam kerangka lebih luas, akanmenurunkan kualitas
sumber daya manusia, karena produktivitas penderita kecacingan pasti menurun.
Berdasarkan hasil penelitian jenis cacing nematoda
Usus yang meninfeksi anak SDN 77 Padang Serai terdiri dari dua jenis yaitu Ascaris lumbrioides dan Trichuris trichiura.
Menurut Gandahusada (200( penyakit
infeksi salah satunya penyakit kecacingan adalah problem yang dihadapi anak
sekolah yang berada di daerah endemik Soil transmitted helminth atau siklus
cacing tanah yang ditransmisikan seperti cacing Gelang (Ascaris lumbricoides), Cacing Cambuk (Trichuris trichiura).
Berdasarkan dari penelitian maka dapat disimpulkan bahwa, kecacingan
dapatmengakibatkan menurunya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan
terhambatnyatumbuh kembang anak karena cacing mengambil sari makanan yang
penting bagitubuh, misalnya: protein, karbohidrat dan zat besi yang dapat
menyebabkananemia. Bahkan penyakit kecacingan dapat menyebabkan kebodohan pada
anak-anak.
Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi-Square, dari hasil pengujian p =(0,638) jika, p >
(0,05), maka H0 diterima artinya
tidak ada hubungan antara status gizi dengan peyakit kecacingan.
Berdasarkan teori banyak faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
seseorang diantaranya konsumsi makanan dan status kesehatan, dimana keduanya tergantung
pada : zat gizi dalam makanan, ada tidaknya program pemberian makanan di luar
keluarga, daya beli keluarga, kebiasaan makan, pemeliharaan kesehatan, dan
lingkungan fisik dan sosial. Nelson (1988) mengatakan “anak-anak usia sekolah
kerap kali mempunyai kebiasaan makan yang tidak teratur dan tidak pada tempatnya,
terutama sekalipada waktu sarapan dan makan siang. Kebiasan makan yang tidak
teratur mengakibatkan kecukupan gizi berkurang dan imunitas tubuh rendah, penyakit infeksi pada
anak, pengetahuan keluarga, letak demografi/ tempat tinggal
individu.Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa selain penyakit kecaingan,status
gizi buruk juga di pengaruhi dari hygiene yang kurang dan terutamamakanan atau
asupan gizi yang tidak seimbang dengan kebutuhan anak.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa penyakit kecacingan tidak ada
hubungannya dengan status gizi, artinya orang yang terinfeksi penyakit
kecacingan belum tentu status gizinya buruk karena anak tersebut belum begitu
parah terinfeksi penyakit kecacingan serta asupan gizi yang cukup dan seimbang
sehingga meskipun anak tersebut kecacingan tidak cukup mempengaruhi status gizi
mereka.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SD Negeri 77 Padang
Serai Kota Bengkulu menggunakan indikator umur, berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala dan lingkar lengan atas, dari 46 orang anak SD Negeri 77 Padang
Serai Kota Bengkulu sebagian besar berstatus gizi baik (24 orang), berstatus
gizi sedang (12 orang), berstatus gizi kurang (9 orang) dan berstatus gizi
buruk (1 orang). Untuk anak yang terinfeksi penyakit kecacingan yaitu (9 orang)
dan sebagian besarnya (37 orang) tidak terinfeksi penyakit kecacingan. Maka
dapat disimpulkan berdasarkan uji chi square dengan hasil p = 0,638 jika p > 0,05 , jadi disimpulkan tidak ada hubungan antara penyakit kecacingan
dengan status gizi pada anak sekolah dasar di SD Negeri 77 Padang Serai Kota
Bengkulu.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S.
2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta: GramediaPustaka Utama
Andrauni, Adisti., dkk. 2012 . Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Infeksi
cacingan Pada Anak di SDN 01 Pasirlangu Cisarua. Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Padjajaran dan Rumah Sakit Hasan
Sadikin.http://download.portalgaruda.org/article.php?article=103782&val=1378.
Diakses 10 April 2013.
Departemen Kesehatan R.I.
2010. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS).
2010. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Gandahusada, Sriasi dkk. 2000. Parasitologi
Kedokteran 3 EK, Editor. Jakarta . EGC. 2000.
Hidayat, A. 2007 . Riset Keperawatan dan Tekhnik
Penulisan Ilmiah . Edisi ke 2 . Surabaya. Salemba Medika.
WHO. 2013. Intestinal Worm (Soil Transmited
Helminth). http://www.who.int/intestinal_worms/more/en/.
Diakses 05 April 2013.
Zaenal. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya:
Pustaka Jaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar