PEMANFAATAN DAGING BIJI
KEPAYANG
UNTUK PENGAWETAN IKAN NILA
Yunika Sary
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan
Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, c_younix@yahoo.com
ABSTRACT
Utilization kepayang seed meat for preservation of tilapia is done in Laboratory of Chemistry Academy of Health Analyst Hope Nation in June 2013. This study aims to determine the benefits of meat for preservation kepayang seed tilapia. Samples from this study are four tail tilapia has the same weight of 200 grams. This study uses organoleptic (smell) of the five people who did the smell of the sample. This study uses qualitative data were analyzed descriptively and kualintatif .. The results showed that meat kepayang seeds can be used as preservatives fish. Of meat kepayang seeds can be used to preserve fish one fish Tilapia. Where the fish is one of the most important sources of protein for the body.
Keywords: Tilapia, Meat kepayang
seeds, preservative.
PENDAHULUAN
Usaha peningkatan mutu kesehatan terhadap
masyarakat yang sedang digalakkan pemerintah tidak selamanya dapat berjalan
sesuai harapan. Berbagai masalah muncul dan menuntut penyelesaian yang cepat dari
pihak yang terkait. Kebutuhan yang sehat dan hegienes mutlak di perlukan demi
kelangsungan hidup.
Salah satu kandungan bahan makanan yang perlu di
cermati adalah penggunaan bahan tambahan contohnya bahan pengawet. Pengawet
adalah salah satu bahan tambahan yang di masukan kedalam makanan dengan tujuan
untuk mengurangi atau mencegah pertumbuhan dan aktivitas pertumbuhan
mikroorganisme seperti bakteri, kapang, kamir dan fungi. (Habieb saleh, 2006)
Bahan pengawet juga tergolong bahan yang
berbahaya dan tergolong bahan tambahan terlarang dalam makanan. Bahan pengawet
adalah bahan-bahan yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh manusia baik dalam
jumlah kecil maupun besar. Bahan kimia yang terlarang dikenal dan sering
dipakai masyarakat industri kecil pada umumnya formalin, borax dan perwarna
tekstel rodamen B. (Habieb saleh, 2006)
Permasalahan ini menjadi bahan perhatian karena
berdampak langsung ke masyarakat. Sehingga dibutuhkan upaya untuk mengetahui
bahan pengawet makanan lain yang berdampak buruk kepada masyarakat. Bahan
pengawet lain juga tidak kalah kualitasnya dalam proses pengawetan. Bahan
pengawet ini dapat menggunakan bahan yang lebih alami namun tidak menimbulkan
efek yang merusak bagi kesehatan.
Salah satu contohnya adalah penggunaan biji
kepayang (Pangium edule rienw) yang dapat diracik menjadi cacahan yang
fungsinya sama dengan bahan pengawet lain (kimia) terutama dalam penggunaan
dalam proses pengawetan ikan dan daging. Ikan merupakan salah satu sumber
protein yang penting untuk tubuh dan sering sekali rusak, baik seara kimaiwi,
fisika maupun secara mikro biologik jika digunakan dalam jangka waktu yang
cukup lama tanpa pengawet.
TEORI SINGKAT
Kepayang adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tumbuh liar atau setengah
liar. Biji tersebut sangat beracun karena mengandung asam sianida dalam
konsentrasi tinggi dan bila dimakan (terutama dalam kondisi mentah) dalam
jumlah tertentu dapat menyebabkan pusing (mabuk). (Idris, I.2011)
Kepayang ( Pangium edule Reinw)
adalah tumbuhan anggota suku Achariaceae
berbentuk pohon yang liar dan setengah liar. Biji kepayang dipakai sebagai
bumbu dapur masakan indonesia yang memberi warna hitam pada rawon. (Idris, 2011)
Tanaman Kepayang berasal dari tumbuahan Pangium
edule dengan Klasifikasi sebagai berikut:
Diviso : Spermatophyta
Sub diviso : Anggiospermae
Kelas : Dikotiladonae
Bangsa : Cistalies
Suku : Flacourritaceae
Genus : Pangium
Spesies : Pangium edule
Menurut (Hatta, S 1992) Kepayang (Pangium edule) mempunyai banyak nama
daerah lain antara lain:
Indonesia : Kepayang
Batak : Pangi dan hapesong
Malaysia : Pangi
Lampung : Kayu rubah buah
Sunda : Pacung atau picung
Jawa : Pokem atau Pucung
Sumbawa : Kalowa
Bugis : Pangi
Bengkulu : Kepayang
Tanaman Kepayang tersebar diseluruh Nusantara dan banyak tumbuh liar di
pulau Jawa, yakni di daerah-daerah yang ketinggiannya di bawah 1000 meter dari
permukaan laut. Tanaman kepayang tidak terlalu membutuhkan jenis tanah yang
khusus. Tanaman ini dapat tumbuh di sembarang jenis tanah ,sedangkan ph tanah
yang sesuai untuk kepayng adalah 5,5-6,5. Tanaman kepayang dapat hidup diatas
100 tahun. Tinggi pohon dapat mencapai 40 meter. Ranting mudah berambut atau
berbulu lembut dan berwarna coklat. Daunnya sebagian besar terkumpul pada ujung
ranting dan mempunyai tangkai daun yang panjang.tanaman kepayang termasuk
golongan rumah dua. Dan buahnya berukuran besar dan berukuran kecil dan
berambut halusyang berawarna coklat yang rapat (Hatta,S, 1992).
Menurut hasil penelitian R.A Hangesti membuktikan bahwa biji kepayang
mengandung asam sianida, asam hidnokarpat, asam glorat dan tanin.
Senyawa-senyawa tersebut mampu memberikan efek pengawetan terhadap ikan. Selain
itu ada beberapa komponen didalam biji buah kepayang yang berfungsi sebagai
anti oksidan. Komponen biji kepayang memiliki aktivitas sebagai anti oksidan
itu antara lain vitamin C, ion besi dan B karoten. (Habieb saleh, 2006)
Penggunaan daging biji kepayang sebagai alternatif pengawet alami memang
sangat dibutuhkan sebagai salah satu solusi ditengah maraknya isu penggunaan
formalin dan bahan pengawet kimia lainnya yang diindikasi sangat berbahaya bagi kesehatan. Daging biji kepayang
mengandung asam sianida dan tanin, senyawa-senyawa tersebut mampu memberikan efek
pengawetan terhadap ikan. Daging biji kepayang memiliki aktivitas sebagai anti
bakteri terhadap bakteri pembusuk ikan adalah asam sianida. (Habieb saleh,
2006)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan secara bersamaan
dalam membandingkan banyaknya cacahan daging biji kepayang yang digunakan
sebagai pengawet ikan yang ramah lingkungan dengan rancangan penelitian acak
lengkap, dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Data yang digunakan pada
penelitian ini adalah data primer yang didapat dengan cara melakukan secara
langsung terhadap sampel yang akan diteliti. Data yang diperoleh dari hasil
penelitian adalah data kualitatif dan dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisa secara
deskriptif dengan membandingkan hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan penelitian didapat hasil
pengamatan pada ikan dengan tahap pembusukan dengan perbandingan bahan pengawet
yang sama,berat yang berbeda didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1. Hasil pengamatan organoliftif
|
Hari
|
Tanpa BTP
(Kontrol)
|
Ikan + 10 gr cacahn
daging biji kepayang
|
Ikan + 20 gr cacahan daging biji kepayang
|
Ikan + 30 gr cacahan
daging biji kepayang
|
|
|
Busuk
|
(5 orang) Amis
segar
|
(5 orang) amis segar
|
(5 orang) amis segar
|
|
2
|
Sudah busuk
|
(5 0rang) amis
|
(5orang ) amis
|
(5orang) amis segar
|
|
3
|
Sudah Busuk
|
(5 orang) Amis
|
(5 orang) amis
|
(5 orang) amis segar
|
|
4
|
Sudah Busuk
|
(1 orang) Agak
busuk
|
(4 orang) agak busuk
|
(5 orang) amis
|
|
5
|
Sudah Busuk
|
(1 orang) Agak
busuk
|
(3 orang) Amis
|
(5 orang) Amis
|
Sumber : Data Primer
Dari tabel diatas merupakan hasil pengamatan pada
penelitian yang berupa hasil penciuman, yang dilakukan secara langsung oleh
lima orang panelis, dan hasil pengamatan lain berupa bentuk fisik pada kondisi
ikan yang diawetkan dengan cacahan biji kepayang.
Dalam pengamatan fisik untuk keadaan kondisi ikan tersebut adalah: Untuk
Kontrol, pada hari pertama dan hari kedua pengamatan kondisi atau keadaan ikan
sudah mulai membusuk, dan untuk hari ketiga dan seterusnya hari terakhir
pengamatan (hari kelima) keadaan atau kondisi ikan sebagai kontrol tersebut
sudah busuk. Dan pembusukan ikan ini disebabkan oleh bakteri sala satunya
adalah: Pseudomonas, Achromobacter, Flavobacterium, Coryneform, dan Micrococcus.
Berdasarkan hasil penelitian sampel yang berupa ikan nila yang diawetkan
dengan cacahan daging biji kepayang, dapat dilakukan untuk seterusnya
dikarenakan daging biji kepayang itu salah satu bahan yang dapat digantikan
sebagai bahan pengawet, seperti borak, formalin dan sebagainya.
Dari proses pengawetan dengan sampel ikan nila dengan bahan pengawet berupa
cacahan daging biji kepayang dengan 10 gram, 20 gram, 30 gram cacahan daging
biji kepayang didapat hasil yang pada hari terakhir pengamatan yaitu untuk
sampel yang menggunakan 10, gram cacahan daging biji kepayang ternyata sampel
berupa ikan nila ini dapat dikonsomsi, karena bentuk fisik dan baunya belum
berubah.
Cacahan daging biji kepayang ini adalah salah satu cara atau alternatif
yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet, karena bahan ini bersifat alami
dan tidak berisiko untuk kesehatan. Ini merupakan kelebihan atau keunggulan
dari bahan pengawet tersebut. Dapat diperkirakan untuk mengawetkan 1 kg gram
ikan dibutuhkan sekitar 50 gram cacahan daging biji kepayang untuk mengawetkan
ikan yang bertahan sekitar 5-7 hari, hal ini sesuai dengan pendapat Habieb
Saleh (2006) bahwa kandungan asam sianida (HCN) dapat digunakan sebagai bahan
pengawet 50 gram cacahan daging biji kepayang perkilogram ikan. Dari hasil
prosis pengawetan ini untuk 20 dan 30 gram cacahan daging biji kepayang, tidak
dapat digunakan sebagai bahan pengawet untuk mengawetkan ikan dengan berat 1 kg
gram, dikarenakan kandungan asam sianida (HCN) pada bahan pengawet tersebut
sudah melebihi nilai maksimal atau kandungan HCN tersebut sudah sangat beracun.
Dari hasil penelitian ini untuk pengawetan ikan dengan menggunakan cacahan
daging biji kepayang dari hari pertama sampai hari terakhir (hari kelima) telah
diuji dengan memberikan awetan ikan tersebut kepada seekor kucing, dan ternyata
dengan cara pengawetan menggunakan cacahan daging biji kepayang ini tidak beresiko
karena kucing yang dijadikan sebagai percobaan dalam proses pengawetan tidak
mengalami mabuk atau mati. Percobaan ini khusus dilakukan untuk pengawetan ikan
nila yang mempunyai berat 200 gram dengan bahan pengawet cacahan daging biji
kepayang yang beratnya 10 gram. Karena kandungan asam sianidanya (HCN) tidak
bersifat racun untuk dikonsumsi, batas HCN yang dapat dikomsumsi adalah 50 gram
kandungan HCN dalam satu kilogram ikan. (Habieb saleh, 2006)
Adapun kekurangannya adalah pada daging ikan agak menimbul kan warna agak
kekuning-kuningan, hal itu disebabkan oleh sisa atau bekas cacahan daging biji
kepayang pada saat melakukan proses pengawetan tersebut. Tetapi hal itu tidak
menguranggi kualitas rasa. Dalam proses pengawetan ikan dengan menggunakan
cacahan daging biji kepayang untuk hari pertama dan kedua belum menujukan
perubahan warna pada daging ikan yang diawetkan, perrubahan warna atau bercak
kekuning-kuningan pada daging ikan malai tampak pada hari ketiga terutama pada
ikan yang diawetkan dengan cacahan daging biji kepayang yang beratnya 30 gram
dikarenakan kandungan asam sianidanya lebih tinggi dibandingkan dengan
kandungan sianida yang beratnya 20 dan 10 gram cacahan daging biji kepayang.
Perubahan warna atau bercak kekuning-kuningan pada daging ikan jaga terjadi
pada proses pengawetan ikan yang menggunakan bahan pengawet yang beratnya 10
dan 20 gram cacahan daging biji kepayang, tapi perubahan warna atau bercak
kuning pada daging luar ikan tidak terlalu nampak. Dan itupun terjadi sudah
pada hari kelima dalam proses pengawetan.
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daging biji kepayang dapat dijadikan sebagai
bahan pengawet, terutama untuk ikan dan tidak berisiko atau berakibat untuk
kesehatan. Dengan menggunakan 50 gram cacahan daging biji kepayang untuk satu
kg gram ikan, atau 10 gram cacahan biji kepayang untuk 200 gram ikan.
SARAN
Peneliti menyarankan pada semua kalangan masyarakat bahwasanya dapat
mengunakan atau menmanfaatkan bahan pengawet yaitu daging biji kepayang. Karena
selain bahan bakunya mudah didapat biaya yang digunaka juga sangat murah dan tidak
berdampak buruk untuk kesehatan.
Daftar Acuan
Achmad, R .
2004. Kimia lingkungan. Yogyakarta:
Andi Yogyakarta
Anal chem : 2010 . Neraca Analitik piring tunggal. Jakarta: The American chemikal society
Direktorat gizi Depertemen
Kesehatan RI, 1981
Elvira, S. 2008.Prisip pengawetan pangan.shvoong.com (Online) (http:// perinsip pengawetan pangan. co. id
diakses 14 mei 2011)
Ghufran Kordi.2010. Buku pemeliharaan 14 ikan air tawar ekonomis. Yogyakarta : lily
Publishor
Habieb saleh, Picung, pengawet alami ikan segar, http://www.suara merdeka.com/cybernews, 7 Februari 2006. diakses 12 Maret
2011)
Hatta, S. 1992. budidaya Pucung. Yogyakarta : Kanisius
Idionline, 2005. Berbagai Gizi Makanan Sumber ikan.(Online),
(http://www.Indioline.com diakses 8 April 2011)
Idris . 2011. Biji
Kepayang. Riau : www. Riua center .com (Online)
(diakses 3 mei2011)
Irawan, A, 1995. Pengawetan ikan dan hasil Perikanan.
Solo : Aneka.
Moeyanti, 2009. Neraca Analitik. (Online) (blog q:
Moeyanti. Blogspot. Diakses 14 mei 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar