Senin, 19 Oktober 2015

Analisis Kadar Fe Air Sumur Gali RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Nita Anggreani, MT Analis Kesehatan Harapan Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nita_anggreani@yahoo.com



Analisis Kadar Fe Air Sumur Gali RT 16
Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu

Nita Anggreani, MT
Analis Kesehatan Harapan Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nita_anggreani@yahoo.com

Abstrak
Kebutuhan hidup manusia terhadap air minum semakin meningkat seiring dengan berkembangnya populasi manusia di muka bumi. Pemanfaatan sumber-sumber mata air semakin luas untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya adalah sumur gali. Departemen Kesehatan Indonesia telah mengeluarkan aturan untuk syarat fisik dan kimia air minum. Salah satu syarat tersebut adalah ambang batas kadar Fe yang masih dibolehkan terkandung dalam air minum. Penelitian ini melakukan pemeriksaaan terhadap kadar Fe pada air sumur gali yang digunakan sebagai sumber air minum oleh penduduk di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Analisis kadar Fe ini menggunakan spektrofotometer uv-vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Fe dalam air sumur gali penduduk melebihi ambang batas yang ditetapkan Departemen Kesehatan.
Kata Kunci : air minum, sumur gali, besi (Fe)

1.    Pendahuluan


Hidup bersih dan sehat dapat diartikan sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar kebersihan dan kesehatan serta menjalankan pola/perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan yang sehat dapat memberikan efek terhadap kualitas kesehatan. Penerapan hidup bersih dan sehat dapat dimulai dengan mewujudkan lingkungan yang sehat [1].
Air merupakan sarana mutlak dan bahan bagi kehidupan manusia dan tidak mungkin diganti dengan yang lain. Air merupakan kebutuhan dasar manusia. Air bahkan merupakan bahan yang paling banyak menyusun tubuh manusia. Tubuh orang dewasa, sekitar 55 – 60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak – anak sekitar 65 %, dan untuk bayi sekitar 80 %[2].
Banyak cara yang dipakai oleh manusia untuk mendapatkan air. Diantara cara - cara tersebut adalah dengan membuat sumur gali, sumur pompa tangan, penampungan air hujan, mengambil dari sumber mata air alam atau pun dengan cara yang lebih modern yaitu dengan membuat sumur artetis [3].
Air yang diambil masyarakat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih (mandi, cuci, dll) dan juga sebagai air minum. Namun sebelum diolah/dikonsumsi seharusnya masyarakat mengetahui apakah  air tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai air minum. Salah satu syarat adalah kndungan zat besi dalam air minum tidak diperkenankan lebih dari 0,3 mg/l, agar air memenuhi syarat sebagai air minum[4].
Masyarakat yang masih awam belum terlalu memperhatikan hal tersebut di atas. Karena itu penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi yang pasti apakah air minum yang akan mereka masak untuk dikonsumsi selanjutnya, sudah memenuhi syarat atau tidak sebagai air minum.

2.    Teori Singkat
Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam transisi yang berada pada golongan VIII B dan periode 4. Besi adalah logam berwarna putih perak, yang kukuh dan liat, melebur pada suhu 1535oC [5].
Kelebihan dan kekurangan zat besi mempengaruhi tubuh. Kekurangan besi dalam tubuh pada umumnya menyebabkan pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kemampuan kerja, menurunnya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka. Disamping itu kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Pada anak-anak kekurangan besi menimbulkan apatis, mudah tersinggung, menurunnya kemampuan berkonsentrasi dan belajar . Sedangkan gejala jika mengalami kelebihan zat besi adalah rasa mual, muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau, dan pingsan [6]. Toksisitas kronis Fe pada tingkat sel akan meningkatkan gangguan fungsi hati, gangguan fungsi endokrin, dan penyakit kardivaskuler [7].
Analisa besi ini menggunakan alat  spektrofotometer yaitu suatu instrumen untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi dari suatu panjang gelombang tunggal[8].

3.     Metode Eksperimen
Bahan yang digunakan adalah air yang di ambil dari sumur gali penduduk di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu dan larutan standar Fe.
Peralatan untuk  analisa adalah spektrofotometer uv-vis Thermo Genesys 20.
Langkah pertama adalah membuat larutan standar Fe dimana besi II dioksidasi menjadi besi III. Selanjutnya dari larutan induk besi III dibuat variasi konsentrasi larutan. Absorbansi masing-masing larutan standar dicek dengan spektrofotometer lalu dibuat Kurva Kalibrasi Larutan Standar (konsentrasi vs absorbansi) untuk mendapatkan nilai untuk persamaan Lambert-Beer
             A = ε. b . c
Keterangan:            
A= Absorban  
 ε = Absortifitas Molar (cm – 1. ppm -1)
b = Tebal Kuvet (cm)
c = Konsentrasi (ppm)
Selanjutnya sampel air dari sumur gali dicek absorbansinya dan dihitung kadar Fe nya menggunakan rumus di atas.

4.     Hasil
      Hasil analisa air sampel dari sumur gali menggunakan spektrofotometer ditunjukkan dengan tabel di bawah ini.

Tabel  4.1. Kandungan Zat Besi (Fe) pada air sumur gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.
SAMPEL
Konsentrasi Fe (ppm)


Air Sumur   Lokasi 1


Waktu Pengambilan Sample : Pagi
15,06

Waktu Pengambilan Sample : Siang
15,16

Waktu Pengambilan Sample : Sore
18,42

Air Sumur  Lokasi  2


Waktu Pengambilan Sample : Pagi
15,06

Waktu Pengambilan Sample : Siang
15,2

Waktu Pengambilan Sample : Sore
18

Air Sumur  Lokasi  3


Waktu Pengambilan Sample : Pagi
15,06

Waktu Pengambilan Sample : Siang
15,35

Waktu Pengambilan Sample : Sore
17,32

Rata-rata
16,07


Dari tabel di atas tampak bahwa semua sampel air sumur gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Depkes RI, 2010, yaitu sebesar maksimal 0,3 mg/l atau 0,3 ppm.
Jika kita lebih telaah lagi berdasarkan waktu pengambilan sampel yaitu pagi (jam 08.00 WIB) , siang (12.00 WIB) dan sore (16.00 WIB) tampak bahwa di waktu sore hari , kadar Fe lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh gambar 4.1 berikut ini.         Kadar Fe tertinggi di waktu sore hari  karena di  sore hari air sumur semakin menyusut dikarenakan pengambilan sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan juga pengaruh penguapan oleh matahari sepanjang hari.


Gambar 4.1. Kadar Fe Air Sumur Gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Berdasarkan Waktu Pengambilan Sampel

      Sampel juga diambil dari sumur gali yang berbeda-beda jaraknya dari sungai yang mengalir di dekat lokasi. Maka berdasarkan jarak sumur ke sungai tersebut didapatkan hasil kadar Fe yang berbeda juga seperti tampak pada gambar 4.2 berikut ini.
Gambar 4.2. Kadar Fe Air Sumur Gali di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Berdasarkan Jarak Sumur Gali yang digunakan untuk air Sampel

      Tampak hasil dari gambar menunjukkan bahwa kadar Fe paling tinggi terdapat pada sumur gali yang letaknya paling dekat dengan sungai. Hal ini menunjukan juga kemungkinan sungai yang mengalir di dekat perumahan warga tersebut juga tercemar dan mengandung kadar Fe tinggi. Untuk pembuktian kemungkinan ini harus dilakukan penelitian lebih lanjut apakah kadar Fe di sungai memang mempengaruhi kadar Fe di air sumur gali warga

5.    Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa :
1.     Air sumur warga di RT 16 Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar Bengkulu sudah melebihi ambang batas yang sudah ditetapkan Departemen Kesehatan RI tahun 2010.
2.     Semakin sore hari kadar Fe di sumur gali makin tinggi.
3.     Makin dekat letak sumur gali dengan sungai, kadar Fe didalamnya makin tinggi.

6.    Daftar Acuan
[1]    Depkes RI. 2002. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 907 Tahun 2002 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI.
[2] Notoadmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
[3]  Pitojo, S, dan Purwantoyo, E. 2003. Deteksi Pencemaran Air Minum. Semarang : Aneka Ilmu.
[4]    Depkes RI. 2010. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 492 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan RI
 [5]   Svehla. G. 1979. Vogel I. Jakarta. PT. Kalman Media Pusaka
[6]    Sunita, Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
 [7]   Widowati, W., Sastiono, A., dan Jusuf, R. 2008. Efek Toksik Logam. Yogyakarta : CV. Andi.
 [8]   Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik Edisi kedua. Jakarta : UI Press.

1 komentar:

  1. mantapp..penelitian saya dan mahasiswa AAK HB
    jempol buat yg udah muat di blog ini

    BalasHapus