Senin, 19 Oktober 2015

UJI DAYA HAMBAT YOGHURT TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli Eka Nurdianty Anwar Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nurdianty_eka@yahoo.com



UJI DAYA HAMBAT YOGHURT TERHADAP
PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli

Eka Nurdianty Anwar
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa (AAK-HB), Bengkulu, nurdianty_eka@yahoo.com

ABSTRACT

Diarrhea is a disease in which the stool or feces transformed into soft or liquid which usually happens at least three times in 24 hours. Escherichia coli is the most germs that cause diarrhea in infants and adults. This study aims to prove the existence of yoghurt on the growth inhibition of bacteria Escherichia coli. Samples of yoghurt drinks were taken from two different brands. This research was conducted at the Laboratory of the Academy of Health Analyst
Harapan Bangsa of Bengkulu on Mei 1 to Mei 20 2014, with using observational descriptive method of determining the possibility of yoghurt on the growth inhibition of Escherichia coli by direct observation. This study determined the diffusion test method. Research shows that yogurt could inhibit the bacteria Escherichia coli with the formation of a clear zone of 10.05 to 10.1 mm.

Keywords: Diarrhea, Escherichia coli, Yoghurt, media Mueller Hinton (MH)


PENDAHULUAN

Diare merupakan penyakit saluran pencernaan yang merupakan penyebab kematian tertinggi pada balita di Indonesia, dan juga membunuh lebih dari 320 orang setiap tahunnya. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fruktosa, laktosa), kelebihan vitamin C, dan mengkonsumsi buah-buahan tertentu. Biasanya disertai sakit perut dan seringkali mual dan muntah. Ada beberapa kondisi lain yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari diare adalah defekasi yang melebihi 200 gram per hari (Depkes RI, 2000).
Memakan makanan yang asam, pedas, atau bersantan secara berlebihan dapat menyebabkan diare karena membuat usus kaget. Hal ini terjadi ketika cairan yang tidak mencukupi diserap oleh usus besar. Sebagai bagian dari proses digestasi, atau karena masukan cairan, makanan tercampur dengan sejumlah besar air. Oleh karena itu makanan yang dicerna terdiri dari cairan sebelum mencapai usus besar. Usus besar menyerap air, meninggalkan material yang lain sebagai kotoran yang setengah padat.
Bila usus besar rusak / radang, penyerapan tidak terjadi dan hasilnya adalah kotoran yang berair (Padjarwoto, 1993). Banyak bakteri yang dapat mengakibatkan penyakit di saluran usus misalnya bakteri Escherichia coli. Kemampuan fitokimia tanaman sebagai antibakteri dapat digunakan untuk pengujian infeksi bakteri. Produksi makanan yang bersifat fungsional sudah banyak berkembang saat ini. Suatu produk dikatakan sebagai pangan fungsional karena selain mengandung vitamin-vitamin dan mineral esensial, bahan pangan itu mampu meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.
Topik mengenai pangan fungsional banyak membahas tentang peran komponen aktif dalam bahan makanan, produksi serta pemanfaatannya. Alasan tersebut menyebabkan banyak penelitian terhadap kelebihan bahan pangan pada efek kesehatan lingkungan. Salah satu kelebihan tersebut adalah efek antimikroba penyebab diare. Bakteri E. coli yang berada di dalam usus besar manusia berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat, dia juga membantu dalam proses pencernaan termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama yang lain dari E. coli adalah membantu memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makanan. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan darah misalkan saat terjadi perdarahan seperti pada luka/mimisan, vitamin K bisa membantu menghentikannya. Selain memberikan manfaat untuk tubuh, E. coli juga mempunyai sifat yang merugikan. E. coli dapat bersifat patogen jika jumlahnya meningkat dalam saluran pencernaan (Supardi, 1999).
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare. Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengakibatkan kematian pada penderita diare. Selain karena rotavirus, diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktase yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung dalam susu sapi. (Fardiaz, 2002).
Pada perkembangan berikutnya, banyak dokter/ahli medis yang menggunakan suplemen probiotik untuk mengobati diare seperti minuman yoghurt.Yoghurt adalah minuman susu fermentasi yang melibatkan dua jenis bakteri menguntungkan yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Dengan mengkonsumsi produk makanan yang mengandung bakteri seperti yoghurt (disebut sebagai probiotik), dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen. Hal ini dikarenakan terbentuknya asam laktat menjadikan kondisi asam pada saluran pencernaan. Asam laktat di dalam saluran pencernaan memproduksi asam organik, hidrogen peroksida dan bakteriosin. Komponen – komponen tersebut dapat berperan penting dalam menghambat pertumbuhan E. coli yang bersifat patogen (Nurdiana, 2002).

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Apakah terdapat daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
2.    Berapa besar daya hambat yang diberikan yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

TUJUAN PENELITIAN

1.    Untuk mengetahui daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
2.    Untuk mengetahui besar daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Observatif yaitu menentukan kemungkinan daya hambat yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan pengamatan langsung. Dalam penelitian ini digunakan kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg) dan kontrol negatif (Aquadest) sebagai pembanding zona hambat, seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel  1. Quality Control Media Dan Disc Obat (Soemarno, 2002)
Antibiotica
Potency disc Obat
Diameter zona hambat
E. coli
(ATCC 25922)
Amikacin
30 µg
19 - 26
Cephalothin
30 µg
17 - 22
Erytromycin
15 µg
8 - 14
Gentamycin
10 µg
19 - 26
Ciprofloxacin
5 µg
30 - 32
Kanamycin
30 µg
17 - 25
Streptomycin
10 µg
12 - 20

Tabel 2. Penilaian Diameter Zona Hambat (Soemarno, 2002)
Antibiotica
Potency disc Obat
Diameter zona hambatan ( mm )
Resistent
Intermediate
Sensitif
Amikacin
30 µg
14 / kurang
15 – 16
17 / lebih
Cephalothin
30 µg
14 / kurang
15 – 17
18 / lebih
Erytromycin
15 µg
13 / kurang
14 – 17
18 / lebih
Gentamycin
10 µg
12 / kurang
13 – 14
15 / lebih
Ciprofloxacin
  5 µg
20 – 23
24 - 25
26 – 32
Kanamycin
30 µg
13 / kurang
14 – 17
18 / lebih
Streptomycin
10 µg
11 / kurang
12 – 14
15 / lebih


Data diperoleh dengan cara mengamati dan mengukur zona bening pada media Mueller Hinton (MH) dan kemudian dicocokkan dengan tabel penilaian diameter zona hambat (bening).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian yang dilakukan terhadap sampel minuman yoghurt terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli digunakan dua sampel. Didapatkan hasil zona hambat yoghurt biokul dan yoghurt yummy adalah 10,1 mm dan 10,05 mm. Zona hambat ini menunjukkan bahwa yoghurt Biokul dan Yummy mempunyai daya hambat yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg). Hal ini terlihat dari zona bening yang lebih kecil daripada kontrol positif.
Hasil pengamatan uji daya hambat yoghurt yang ditentukan dengan  metode difusi menunjukkan bahwa yoghurt dari merk Biokul maupun merk Yummy memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan terbentuknya zona bening disekitar disk yoghurt. Zona bening yang terbentuk dari merk Biokul dan Yummy yaitu 10,1 mm dan 10,05 mm. Selain itu, kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg) juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan adanya zona hambat sebesar 30-31 mm yang terbentuk disekitar disk Ciprofloxacin 5 µg. Sedangkan untuk kontrol negatif (Aquadest) tidak terbentuk zona hambat.
Dari hasil penelitian pada sampel minuman yoghurt terdapat zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli, namun zona hambat yang terbentuk berada pada kategori tidak sensitif. hal ini dikarenakan zona bening yang terbentuk lebih kecil daripada zona bening kontrol positif (Ciprofloxacin 5 µg).
Walaupun yoghurt tidak sensitif terhadap bakteri Escherichia coli  tetapi yoghurt bermanfaat untuk memelihara sistem pencernaan karena yoghurt adalah minuman susu fermentasi yang melibatkan dua jenis bakteri menguntungkan yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Probiotik (jenis bakteri yang menguntungkan) yang terkandung dalam yoghurt dapat menyeimbangkan mikroflora dalam usus dan dapat membantu pencernaan serta menjaga tubuh tetap sehat (Wardani, 2013).
Zona Hambatan terjadi karena bakteri tidak tumbuh di sekitar disk akibat pengaruh dari antibiotik. Metode difusi test (Kirby-Bauer) lebih cocok untuk pengujian rutin di laboratorium klinis. Pertumbuhan organisme dengan difusi dari antibiotik secara bersamaan menghasilkan zona hambatan melingkar dimana jumlah antibiotik melebihi konsentrasi penghambatan. Dari berbagai media yang tersedia, NCCLS (National Committee for Clinical Laboratory Standards) merekomendasikan agar-agar Mueller Hinton karena media ini memiliki kandungan sulfonamida, trimetoprim, dan inhibitor tetrasiklin yang rendah, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang baik pada bakteri patogen (Nurdiana, 2002). Pada penelitian ini zona bening sebesar 10,05 – 10,1 mm merupakan zona hambat, dimana bakteri uji (Escherichia coli) tidak dapat tumbuh karena pengaruh faktor penghambat dari yoghurt.
Bakteri yang digunakan dalam pembuatan yoghurt adalah kelompok bakteri asam laktat (BAL) yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Lactobacillus  mampu menghasilkan suatu senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen di dalam usus. Senyawa ini dikenal sebagai bakteriosin, seperti bulgariin yang dihasilkan oleh  Lactobacillus bulgaricus. Senyawa bakteriosin yang diproduksi BAL dapat bermanfaat karena menghambat bakteri patogen yang dapat merusak makanan ataupun membahayakan kesehatan manusia, (Rosiana, 2008).
Mekanisme kerja bakteriosin dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen secara umum ialah molekul bakteriosin mengalami kontak langsung dengan membran sel, proses kontak ini mampu mengganggu potensial membran berupa ketidakstabilan membran sitoplasma sehingga sel menjadi tidak kuat, ketidakstabilan membran memberikan dampak pembentukan lubang atau pori pada membran sel melalui gangguan terhadap gaya gerak proton, terbentuknya lubang pada membran sel dapat menyebabkan perubahan gradien potensial membran dan pelepasan molekul intraseluler ataupun masuknya substansi ekstraseluler, akhirnya pertumbuhan sel menjadi terhambat dan menghasilkan proses kematian pada sel yang sensitif terhadap bakteriosin (Purwanti, 2009).

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata zona hambat yoghurt Biokul dan yoghurt Yummy adalah 10,1 mm dan 10,05 mm, hal ini menunjukkan bahwa yoghurt mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

SARAN

Peneliti menyarankan kepada peneliti lain untuk melakukan uji pemeriksaan dengan menggunakan probiotik lain yang lebih spesifik untuk pengobatan penyakit diare. Selain itu peneliti juga menyarankan kepada masyarakat, walaupun yoghurt tidak bisa digunakan untuk penyembuhan penyakit diare, tetapi yoghurt bermanfaat untuk memelihara sistem pencernaan tubuh.

Daftar Acuan
Alokomi, H.L., E. Skytta dan M. Saarela. 2000. Lactic acid permeabilizes gram negative bacteria by disrupting outer membrane. Appl and Environ Microbiol. 66(5):2001-2005. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/P MC101446. Di akses 13 Juli 2014.
Branen.  A.L.  dan  P.M.  Davidson. 1993. Antimicrobials in Foods 2nd ed. Marcel Dekker, Inc., New York. http://www.ift.org/-/media/Knowledge/20 Center/Science/20Reports/Scientific/20Status/20Summaries/resistanceantimicrobials_1102.pdf. Di akses 13 Juli 2014.
Depkes RI, 2000. Gejala Diare. http//www.depkes.go.id/index-php=Diare. Diakses 22 April 2014.
Enger dan Smith Dalam Kodatie. 2002. Pengolahan Sumber Daya Air Dalam Otonomi Daerah. Yogyakarta.
Fardiaz, S. 2002. Analisa Mikrobiologi Pangan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Kusnaedi. 2006. Mengelola Air Gambut dan Air Kotor Untuk Menjadi Air Minum. Jakarta.
Michael J. Pelczar dan E.C.S.chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI. Jakarta.
Muhlisin, Ahmad. 2014. Penyakit Diare. http//id,mediskus.com/penyakit/diare-penyebab-pengertian-gejala.html. Diakses 22 April 2014.
Nurdiana, M. 2002. Skripsi Aktivitas dan Identifikasi Yoghurt dari tiga kultur campuran bakteri. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
Padjarwoto. 1993. Cermin Dunia Kedokteran. Yogyakarta. Dunia Pustaka.
Purwanti, Puji. 2009. Optimasi Media Produksi Bakteriosin dari Bacillus sp. Galur LTS 40 Asal Tambak Udang. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. http://repository. ipb.ac.id. Di akses tanggal 23 Agustus 2014.          
Rahman, A.,S. Fardiaz, W.P.Rahaju, Suliantri dan C.C Nurwitri. 1992. Teknologi Fermentasi Susu. Bogor. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Ray, B. 2003. Fundamental Food Microbiology 3rd Ed. CRC Press. London. http://www.academia.edu/4354670/Fundamental_of_Food_MicrobiologyDi akses 12 Juli 2014.
Rosiana A.D., Noor Erma, N.S.  dan Isnaeni. 2008. Pengaruh Asam-asam Organik terhadap Pertumbuhan Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus dan Lactobacillus casei (bakteri asam laktat). Surabaya. Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. http:// portalgaruda.org /download_article.php/article=18396&val=1142. Di akses 05 Agustus 2014.
Suriawiria, A. 1996. Air Dalam kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. Alumni ITB. Bandung.
Supardi, dkk, 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Alumni IPB Bandung.
Soemarno. 2002. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinik. Yogyakarta. Akademi Analis Kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Wardani, Hajar Surya. 2013. Daya Hambat Pertumbuhan Escherichia coli dan Uji Hedonik Yoghurt Dengan Substitusi Tepung Mocaf. Semarang. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. http//:eprint.undip.ac.id/39457/1/520_Hajar_Surya_Wardani_G2C006026.pdf. Diakses 20 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar