Rabu, 28 Oktober 2015

SKRINING FITOKIMIA SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI MAHKOTA BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L) dan MAHKOTA BUNGA KEMBANG SEPATU ( Hibiscus rosa-sinensis L )Hepiyansori Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu



SKRINING FITOKIMIA SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI MAHKOTA BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L) dan MAHKOTA BUNGA KEMBANG SEPATU ( Hibiscus rosa-sinensis L )

Hepiyansori
Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu

Abstrak
Pengunaan tumbuhan sebagai obat, sangat berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan, biasanya merupakan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, steroid, tanin, saponin, terpenoid,  dan fenol. Sebagian besar masyarakat belum memanfaatkan rosela dan kembang sepatu sebagai alternatif pengobatan. Hal ini perlu dilakukan skrining fitokimia pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu.  Uji fitokimia alkaloid dilakukan dengan menggunakan pereaksi mayer, pereaksi dragendroff, dan pereaksi wagner. Uji fitokimia fenol menggunakan pereaksi FeCl3, uji fitokimia saponin diuji dengan tes  busa, uji fitokimia steroid/ terpenoid diuji dengan pereaksi Liberman-burchard, uji fitokimia menggunakan Mg-HCl, dan tanin diuji menggunakan FeCl3 1% dan Gelatin 5%. Hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu yaitu alkaloid, fenol, flavonoid dan tanin. Alkaloid dapat berfungsi sebagai pengobatan seperti malaria, bradikardia, analgesic dan anastesi. Fenol dan flavonoid dapat berfungsi sebagai penangkal radikal bebas, anti-hepatotoksik, dann anti-tumor. Sedangkan Tanin dapat berfungsi dalam pengobatan diare dan gusi berdarah.

Kata Kunci: Mahkota bunga rosela, kembang sepatu, metabolit sekunder

The use of herbs as medicine, is associated with chemical constituents contained in the plant especially bioactive substances. Without the presence of bioactive compounds in plants, in general plants can not be used as a medicine. Bioactive compounds found in plants, are usually secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, steroids, tannins, saponins, terpenoids, and phenol. Most people do not use the roselle and hibiscus as an alternative treatment. This needs to be done on the crown phytochemical screening calyx and petals hibiscus. Alkaloid phytochemical test done using reagent mayer, dragendroff reagents and reagent wagner. Phenolic phytochemical test using FeCl3 reagent, saponin tested phytochemical test with test foam, phytochemical test steroid / terpenoid tested with Liberman-Burchard reagent, phytochemical test using the Mg-HCl, and the tannins are tested using FeCl3 1% and 5% gelatin. The results showed secondary metabolites in the crown calyx and petals of hibiscus are alkaloids, phenols, flavonoids and tannins. Alkaloids can serve as a treatment such as malaria, bradycardia, analgesic and anesthetic. Phenols and flavonoids may function as free-radical scavengers, anti-hepatotoxic, anti-tumor dann. While Tanin can function in the treatment of diarrhea and bleeding gums.

Keywords: Crown calyx, hibiscus, secondary metabolites



1.      PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara besar yang mempunyai keanekaragaman tumbuhan sebagai obat. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat di Indonesia sudah lama dikenal dan diikuti perdagangan sediaan herbal di dunia semakin memiliki nilai ekonomi yang besar. Salah satu tumbuhan obat adalah Rosela (Hibiscus sabdariffa L) dan Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L). Tanaman rosela dan kembang sepatu hidup didaerah tropis sehingga tanaman ini dapat hidup di Bengkulu. Kedua tanaman ini juga memiliki famili yang sama yaitu Malvaceae, dimana teori kekerabatan sesama tumbuhan, mengemukakan bahwa spesies tumbuhan dengan famili yang sama mengandung senyawa kimia yang sama atau senyawa kimia dengan kerangka struktur yang sama, hanya saja intensitasnya bisa berbeda tergantung dari ekosistem dan tantangan alam yang dihadapi oleh spesies tersebut. (Venkataraman, 1976)
Di Indonesia, penggunaan rosela (Hibiscus sabdariffa L) memang belum begitu popular. Namun akhir-akhir ini minuman rosela mulai dikenal sebagai minuman kesehatan. Bagian yang sudah digunakan dan dimanfaatkan pada rosela ini adalah pada kelopak dan daun rosela yang berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi/antihipertensi (Kristiana dan Maryani, 2005). Adapun Kembang sepatu yang banyak digunakan sebagai tanaman hias, pada daun kembang sepatu ini mempunyai khasiat untuk mengobati bronchitis, asma, penghilang lendir tenggorok, dan sariawan (Agromedia, 2007). Sedangkan pada mahkota bunga kedua tanaman ini belum dimanfaatkan dan digunakan sebagai salah satu alternatife pengobatan. Penggunaan tumbuhan sebagai obat, sangat berkaitan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan ini tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam tumbuhan, biasanya merupakan senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, steroid, tannin, saponin dan lain-lain (Agustanti, 2010). 
Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian senyawa metabolit sekunder pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu untuk membuktikan teori kekerabatan pada kedua bunga tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode skrining fitokimia senyawa metabolit sekunder dari mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu.
2.      TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui senyawa metabolit sekunder apa saja yang terdapat pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu.
2.      Mengetahui perbandingan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu.

3.      MANFAAT PENELITIAN
1.      Sebagai dokumentasi tertulis mengenai senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dengan melakukan pengujian skrining fitokimia.
2.      Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai data ilmiah mengenai senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dengan melakukan skrining fitokimia

4.      METODE PENELITIAN
4.1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan di laboratorium kimia Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu dan Laboratorium Farmakognosi Akademi Farmasi Al-Fatah kota Bengkulu pada bulan Juli sampai November 2012.
4.2.Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lumpang, alu, kertas saring, tabung reaksi, rak tabung reaksi,pipet tetes, pisau, dan kain hitam.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu yang telah dikeringkan, HgCl2, KI, Bismut subnitrat, Asam asetat glasial, I2, aquadest, serbuk Mg P, HCl(p), FeCl3 1%, etanol  95%, kloroform .
4.3.Prosedur Penelitian
1.    Pengambilan simplisia
Pengambilan sampel mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dilakukan pada bulan Maret 2010. Sampel dibersihkan dari kotoran-kotoran atau tanah yang menempel dengan cara pencucian menggunakan air bersih yang mengalir. Mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dikering-anginkan di tempat yang teduh kemudian ditutup dengan mengunakan kain hitam.
2.    Penyimpanan Simplisia
Simplisia yang sudah kering yaitu mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dibersihkan lagi dari bagian-bagian yang masih menempel pada simplisia. Kemudian disimpan pada wadah tertutup dan diletakan pada suhu yang tidak dapat merusak zat kimia pada simplisia.
3.    Skrining  fitokimia
Skrining fitokimia adalah pemeriksaan secara kualitatif terhadap senyawa-senyawa aktif biologis yang terdapat dalam simplisia tumbuhan. Senyawa-senyawa tersebut adalah senyawa organik seperti alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, steroid/terpenoid dan tanin.
a.       Alkaloid
-Reaksi Mayer : Mahkota bunga rosela yang telah dikeringkan 500 mg, tambahkan 1 ml HCl 2N dan 9 ml air, panaskan diatas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Pindahkan 3 ml filtrat pada kaca arloji kemudian tambahkan 2 tetes pereaksi Mayer. Adanya endapan putih atau endapan kuning menunjukkan adanya alkaloid. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
-Reaksi Dragendorff : Mahkota bunga rosela yang telah dikeringkan 500 mg, tambahkan 1 ml HCl 2N dan 9 ml air, panaskan diatas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Pindahkan 3 ml filtrat pada kaca arloji kemudian tambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff. Adanya endapan merah bata menunjukkan adanya alkaloid. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
-Reaksi Wagner : Mahkota bunga rosela yang telah dikeringkan 500 mg, tambahkan 1 ml HCl 2N dan 9 ml air, panaskan diatas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Pindahkan 3 ml filtrat pada kaca arloji kemudian tambahkan 2 tetes pereaksi Wagner. Adanya endapan coklat menunjukkan adanya alkaloid. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
b.      Fenol
Mahkota bunga rosela yang telah dikeringkan 500 mg ditambahkan 1 ml HCl 2N dan 9 ml air, panaskan diatas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Ambil filtrat sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa tetes FeCl3 1%. Adanya hijau, biru, ungu menunjukkan adanya fenol. Lakukan hal yang sama pada mahkota kembang sepatu.
c.       Flavonoid
Mahkota bunga rosela 500 mg dipotong halus dan dididihkan dalam 25 ml etanol, saring selagi panas. Filtrat yang didapat diuapkan sampai setengahnya, kemudian tambahkan asam klorida pekat 1 ml dan serbuk Mg. Adanya flavonoid ditandai dengan adanya warna merah. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
d.      Saponin
Mahkota bunga rosela yang telah dikeringkan sebanyak 500 mg masukkan kedalam tabung reaksi kemudian tambahkan air panas 5 ml kocok kuat-kuat selama 10 detik terbentuk busa tidak kurang dari 30 menit dan busa tidak mengilang ketika ditambahkan HCl 1N sebanyak 2 tetes menunjukkan positif mengandung saponin. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
e.       Steroid/terpenoid
Mahkota bunga rosela yang telah kering sebanyak 500 mg tambahkan 2 ml kloroform, lalu tambahkan asam asetat anhidrida dan 2 tetes H2SO4 P terbentuk warna biru sampai hijau menunjukkan adanya steroid sedangkan adanya warna merah keungunan menunjukkan adanya terpenoid. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
f.       Tanin
Mahkota bunga rosela yang telah kering sebanyak 500 mg ditambahkan air panas dan didihkan selama 5 menit, setelah itu disaring, filtratnya dibagi 2 masing-masing FeCl3 1% dan ditambahkan gelatin 5%. Adanya tanin ditandai dengan warna hijau-biru pada bagian yang ditambahkan FeCl3 1%, dan endapan putih pada bagian yang ditambahkan gelatin 5%. Lakukan hal yang sama pada mahkota bunga kembang sepatu.
4.4.Analisa Data
Analisa yang digunakan adalah analisa univariat untuk menggambarkan apakah senyawa metabolit sekunder pada mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu sama atau tidak.



5.      HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.Hasil
Skrining fitokimia yang dilakukan adalah senyawa metabolit sekunder yang meliputi alkaloid, fenol, flavanoid, saponin, steroid, terpenoid dan tannin.
Tabel I. Hasil Skrining Fitokimia
Golongan Senyawa
Nama Sampel
Pereaksi
Mahkota Bunga Rosela
Mahkota Bunga Kembang Sepatu
Alkaloida
Mayer
+
+
Wagner
+
+
Dragendroff
Flavonoid
+
+
Mg-HCl
Steroid
_
_
Pelarut LB
Fenolik
+
+
FeCl3
Saponin
_
_
Tes Busa
Tanin
+
+
FeCl3 1 % dan Gelatin 5%
Terpenoid
Pelarut LB
Sumber data: data primer
Keterangan:
+    = Mengandung
-          = Tidak mengandung

5.2.Pembahasan
Penelitian ini dilakukan dimulai dari preparasi sampel/simplisia yang digunakan. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah rosela dan kembang sepatu. Bagian yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahkota bunga dari rosela dan kembang sepatu. Adapun sampel yang diambil adalah mahkota bunga yang segar dan menerima sinar matahari sempurna dan dipetik dengan menggunakan tangan. Kemudian sampel tersebut dipisahkan dari bagian bunga lain seperti tangkai, benang sari, putik, kelopak dan ambil bagian  mahkota bunga.
Mahkota bunga tersebut dibersihkan dari kotoran dan dicuci bersih dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu tidak dilakukan perajangan karena permukaan mahkota yang tipis sehingga tanpa perajangan pun mahkota bunga rosela dan mahkota bunga kembang sepatu dapat kering. Kemudian sampel dikering anginkan di tempat yang teduh dan ditutup dengan mengunakan kain hitam agar simplisia tidak terkena cahaya matahari langsung yang dapat mengakibatkan hilangnya kandungan senyawa metabolit sekunder pada simplisia. Setelah kering sampel disimpan pada wadah yang tertutup dan pada suhu kamar yang tidak mengakibatkan rusaknya simplisia
Hasil skrining fitokimia senyawa golongan alkaloid dengan pereaksi dragendroff dan wagner menunjukkan nilai positif mengandung alkaloid, tetapi tidak untuk pereaksi mayer hal ini dikarenakan perubahan warna yang terjadi lebih spesifik dengan menggunakan pereaksi dragendroff dan pereaksi wagner yaitu terjadinya endapan merah bata pada pereaksi dragendroff dan endapan coklat pada pereaksi wagner. Dari uji ini disimpulkan kedua simplisia mengandung alkaloid. Sarker dan Nahar. (2009) menjelaskan Beberapa jenis kelompok alkaloid ini dapat berfungsi sebagai pengobatan seperti untuk pengobatan mata, bradikardia, analgesik dan anastesi.
Senyawa fenolik yang terkandung pada kedua simplisia merupakan senyawa antioksidan alami yang berupa flavonoid, turunan asam sinamat, tokoferol, dan asam-asam organik. Komponen  senyawa fenolik bersifat  polar dan dapat larut dalam air serta memiliki fungsi antara lain sebagai penangkap radikal bebas dan  peredam terbentuknya oksigen singlet (Kumalaningsih, 2007). Senyawa fenolik yang terdapat pada kedua simplisia yaitu flavonoid dan tanin.
Mahkota bunga kembang sepatu dan mahkota bunga rosela dengan penambahan FeCl3 1% terjadi perubahan warna hijau, biru dan ungu menunjukan adanya fenol. Pada flavanoid dengan penambahan Mg-HCl terjadi perubahan warna merah dan tanin dengan penambahan FeCl3 1% terjadi perubahan warna hujau dan biru, sedangkan pada gelatin 5% tidak terjadi endapan putih (Sarker dan Nahar,2009).
Menjelaskan tanin membentuk senyawa yang tidak dapat didegesti dan tidak larut dengan protein, dan ini dasar penggunaannya dalam industri kulit (proses penyamakan), dan untuk pengobatan diare, gusi berdarah dan kulit yang luka, sedangkan flavonoid merupakan senyawa antioksidan yang poten, yang mempunyai sifat anti-inflamasi, anti-hepatotoksik, anti-tumor, anti-mikrobia dan anti-virus.
Sedangkan dari hasil penelitian ini tidak terdapat steroid/terpenoid dan saponin karena dari penelitian yang dilakukan tidak terjadi perubahan warna spesifik yang menunjukan adanya steroid/terpenoid dan tidak timbulnya busa pada percobaan saponin.

6.      KESIMPULAN
Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan tentang Skrining Fitokimia Metabolit Sekunder Dari Mahkota Bunga Rosela (Hisbicus sabdariffa Linn) dan Mahkota Bunga Kembang Sepatu (Hisbicus rose-sinensis Linn) dapat diambil kesimpulan:
1.         Mahkota Bunga Rosela (Hisbicus sabdariffa Linn) dan Mahkota Bunga Kembang Sepatu (Hisbicus rose-sinensis Linn) berdasarkan uji fitokimia, positif mengandung metabolit sekunder antara lain alkaloid, flavonoid, fenol, tanin.
2.          Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada Mahkota Bunga Rosela (Hisbicus sabdariffa Linn) dan Mahkota Bunga Kembang Sepatu (Hisbicus rose-sinensis Linn) adalah sama. Dan hal ini terbukti  pernyataan Venkataraman.(1976) yang mengemukakan bahwa spesies tumbuhan dengan famili yang sama mengandung senyawa kimia yang sama.
3.         Bagi masyarakat sebaiknya Mahkota bunga sepatu dan mahkota bunga rosela dapat dimanfaatkan sebagai alternatif kesehatan


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I. Departemen Kesehatan RI: Jakarta hal XV
Anonim. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Departemen Kesehatan RI: Jakarta
Anonim. 2009. Uji Fitokimia. www.scribd/ujifitokimi.com(download 3 Februari 2010)
Anonim. 2010. Kembang Sepatu. www.plantamor.com(download 3 Febuari 2010)
Agromedia. 2007. Memanfaatkan Pekarangan untuk Taman Obat Keluarga. PT. Agromedia Pustaka: Jakarta hal 70
Agustananti. 2010. Skrining Fitokimia Metabolit Sekunder Eksrak Etanol Daun dan Bunga Ekor Kucing.Pontianak
Gunawan, D. Mulyani, S. 2004. Farmakognosi. Jilid I. Penebar Swadaya: Jakarta hal10-14
Harborne,J.B.1987. Metode Fitokimia. Jilid:II. ITB: Bandung
Kumalaningsih, S. 2007. Antioksidan, Sumber dan Manfaatnya. www.antioxidantcentre.com (download 06 juli 2010)
Sastrohadmijojo, H. 1995. Sintesis Bahan Alam. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta hal 2-3
Sarker, D. Nahar,L. 2009. Kimia Untuk Mahasiswa Farmasi Bahan Kimia Organik, Alam dan umum. Pustaka Pelajar:Yogyakarta
Venkataraman, K. (1976), Recent Work On Some Natural Phenolic Pigments, Phytoshemistry, p.p.1571-1586

Tidak ada komentar:

Posting Komentar