ABSTRAK
Penelitian
tentang pemeriksaan enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita sirosis hepatis
ini bertujuan untuk mengetahui persentase kenaikan kadar enzim SGOT dan kadar
enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis. Sampel berupa serum darah
sebanyak 8 sampel di periksa di laboratorium Kimia Klinik Akademi Analis
Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu untuk menentukan kadar enzim SGOT dan enzim
SGPT dengan menggunakan fotometer sunostik. Pemeriksaan kadar enzim SGOT dan
enzim SGPT menggunakan desain analitik distribusi frekuensi dari tiap-tiap
variabel itu yang berbentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase
A%=(A-B)/B x 100%.
Pengujian
dari tiap-tiap sampel dipisahkan antara peningkatan kadar enzim SGOT dengan
peningkatan kadar enzim SGPT. Terlihat bahwa peningkatan kadar enzim SGOT dalam
persentase sebesar 42% dan hasil persentase kadar enzim SGPT sebesar 59,5%. Hal
ini berarti dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa kadar enzim SGPT lebih
tinggi dari kadar enzim SGOT pada penderita penyakit sirosis hepatis.
Kata
Kunci : Hepatis, AST, dan ALT.
1. PENDAHULUAN
Pelayanan
kesehatan yang baik merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Sejalan dengan
perkembangan waktu pada saat ini pengetahuan, kebutuhan, dan kesadaran
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sudah semakin baik dan semakin besar.
Keadaan ini ditandai dengan meningkatnya rumah sakit swasta, laboratorium
klinik, dan sarana kesehatan lainnya. Pelayanan laboratorium merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit serta
pemulihan kesehatan. Sebagai komponen penting dalam pelayanan kesehatan, hasil
pemeriksaan laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis, pemberian
pengobatan dan pemantauan hasil pengobatan serta penentuan prognosis. Salah
satu cara untuk menjamin mutu hasil pemeriksaan laboratorium yaitu dengan cara
melakukan perbaikan dan modifikasi dalam melakukan pemeriksaan (Mansjoer,
2001).
Pemeriksaan
laboratorium terdiri dari pemeriksaan antara lain Hematologi, Kimia Darah, dan
Parasitologi, dll. Pemeriksaan yang termasuk Kimia Darah adalah pemeriksaan
kolesterol, LDL, HDL,Enzim SGOT dan SGPT. Untuk mengetahui kadar SGOT dan SGPT
dalam darah dilakukan pemeriksaan dilaboratorium, karena kadar SGOT dan SGPT yang tinggi sangat
berbahaya terhadap fungsi hati (Soegondo,2005).
Salah satu jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengetahui
adanya kerusakan pada hati adalah pemeriksaan enzimatik. Enzim adalah protein
katalisator yang dihasilkan oleh sel hidup dan umumnya terdapat di dalam sel.
Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara pembentukan enzim dengan
penghancurannya. Apabila terjadi kerusakan sel atau peningkatan permeabilitas
membran sel, enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan ke dalam aliran
darah sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk membantu diagnostik
penyakit fungsi hati (Sacher dan McPherson, 2000).
Untuk
mengetahui apakah seseorang menderita penyakit hepatitis atau tidak, maka
seorang dokter disamping mencari informasi mengenai perjalanan penyakit yang
dialami, melakukan pemeriksaan fisik secara teliti juga memerlukan pemeriksaan
penunjang lainnya untuk membantu dalam menegakkan diagnosa, antara lain
pemeriksaan biokimia/enzimatik, imunologi, dan pencitraan. Secara laboratoris
pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya peninggian SGOT dan
SGPT sampai 20-50 kali normal dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT (SGOT/SGPT
< 0,7). Sirosis Hepatis adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui
penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium
terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati (Kee,
2008).
1.2.Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : apakah kadar SGOT dan
SGPT meningkat pada penyakit sirosis hepatis.
1.3.Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
persentase kenaikan kadar SGOT dan SGPT pada penyakit sirosis hepatis.
1.4
Manfaat Penelitian
- Meningkatkan apresiasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kimia darah.
Sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam pemeriksaan
kimia darah tentang pentingnya pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT pada penyakit
Sirosis hepatis sehingga meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dan dapat dijadikan
referensi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian pada tahap berikutnya.
3. METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat
Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2012, di Laboratorium Kimia Klinik Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa
Bengkulu.
3.2
Sumber Data
3.2.1
Populasi
Seluruh penderita sirosis hepatis yang dirawat
dari bulan Juni – Juli 2012 di ruang kemuning RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
3.2.2 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah darah penderita penyakit sirosis hepatis yang berjumlah dari total
populasi.
3.2.3 Teknik Pengambilan
Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan teknik total sampling
yaitu metode yang diambil dari seluruh sampel penderita sirosis hepatis
(Notoatmodjo, 2005).
3.3
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan desain analitik yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung.
3.4
Definisi Operasional
1. SGOT singkatan dari Serum
Glutamic Oxaloacetic Transaminase, sebuah enzim yang secara normal berada
di sel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak.
Level SGOT darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti
serangan virus hepatitis. SGOT juga disebut aspartate aminotransferase
(AST).
2.
SGPT
adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini
banyak terdapat di hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan
rusak bila jumlah enzim SGOT
dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya (Sacher
dan McPherson, 2000).
3.
Sirosis
hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan
menahun pada hati, di ikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan
regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati (Price dan Lorranie, 2004).
4.
Cara ukur : menggunakan serum dari
darah penderita sirosis hepatis ditambah reagen SGOT dan SGPT, diperiksa pada
alat Fotometer sunostik.
5.
Hasil Ukur : Nilai normal SGOT = <
25 U/L
Nilai normal SGPT = < 50 U/L
6.
Skala Ukur : Rasio
3.5
Alat
dan Bahan
1.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a.
Fotometer Sunostik
b.
Mikropipet 1000 dan 100 ul
c.
Tiv biru dan kuning
d.
Tabung reaksi
e.
Rak tabung reaksi
f.
Spuit
g.
Torniquet
h.
Centrifuge
2.
Reagen
a.
Reagen SGOT dan SGPT kit
b.
Faktor SGOT
3.
Bahan
a.
Kapas alkohol70%
b.
Tissue
4.
Sampel
a.
Serum
3.6
Prosedur Penelitian
3.6.1.
Teknik Pengambilan sampel
1.
Pengambilan
sampel darah vena
a.
Lengan
atas pasien dibendung menggunakan tourniquet sampai pembuluh darah vena
terlihat,dengan menggunakan kapas alkohol 70 % ,daerah pembuluh darah vena yang
terlihat dibersihkan dan dibiarkan hingga mengering.
b.
Pembuluh
vena yang terlihat tadi ditusuk dengan menggunakan spuit. Penarik spuit ditarik
perlahan sampai darah masuk kedalam spuit.
c.
Menarik
jarum spuit perlahan dari pembuluh darah vena.
d.
Kemudian
membersihkan darah vena tersebut dengan menggunakan kapas alkohol 70 % hingga
darah tidak mengalir lagi.
e.
Darah
yang ada di dalam spuit kemudian dialirkan pada dinding tabung secara perlahan
(Gandasoebrata, 2007).
2.
Penanganan
sampel
Darah
yang ada di dalam tabung tersebut kemudian disentrifuge selama 10 menit dengan
kecepatan 3000 rpm hingga menghasilkan serum. Setiap sampel dilakukan
pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT dan dibaca mengunakan Fotometer Sunostik.
3.
Pemeriksaan
sampel
1.
Pemeriksaan
enzim SGOT dan SGPT
1)
Prinsip
Kerja : enzim SGOT dan SGPT setelah dicampur dengan serum akan membentuk warna
turbidimetri (kekeruhan) dengan metode kinetik.
2)
Cara
kerja :
a.
Dipipet
reagen SGOT sebanyak 1000 µl kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi sebagai
larutan test.
b.
Dipipet
reagen SGPT sebanyak 1000 µl kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi sebagai
larutan test
c.
Dipipet
serum (sampel) sebanyak 100 µl, dimasukkan kedalam tabung reaksi test untuk
SGOT dan SGPT tersebut lalu diinkubasi selama 1 menit,pada suhu 37º.
d.
Kemudian
dibaca menggunakan fotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
3.7
Teknik
Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan data yang diperoleh dari data primer dengan melakukan pemeriksaan
langsung terhadap hasil enzim SGOT dan SGPT dari serum pederita sirosis
hepatis.
3.8
Teknik
Analisa Data
|
Keterangan
:
A%
= Hasil persentase
A = Kadar rata-rata peningkatan SGOT dan SGPT
B = Kadar normal SGOT dan SGPT
4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Penelitian
Berdasarkan
dari penelitian yang telah dilakukan mengenai pemeriksaan enzim SGOT dan enzim
SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Kadar enzim SGOT dan enzim
SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis
|
No
|
Kode
|
Hasil
Pemeriksaan
|
|
|
Sampel
|
SGOT/AST
|
SGPT/ALT
|
|
|
|
--- U/L ---
|
||
|
1
|
OTP 01
|
45
|
90
|
|
2
|
OTP 02
|
35
|
78
|
|
3
|
OTP 03
|
30
|
85
|
|
4
|
OTP 04
|
36
|
70
|
|
5
|
OTP 05
|
35
|
75
|
|
6
|
OTP 06
|
40
|
90
|
|
7
|
OTP 07
|
30
|
90
|
|
8
|
OTP 08
|
33
|
60
|
Keterangan : Data Primer, 2013
Dari tabel diatas nilai tertinggi dari SGOT yaitu sebesar
35u/l dan terendah
30u/l. Sedangkan nilai SGPT tertinggi 90u/l dan terendah
70u/l. Secara
laboratorium pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya
peninggian SGOT dan SGPT sampai 20-50 kali
dari nilai normal dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT.
|
Tabel 2. Hasil uji persentase besarnya peningkatan
Kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita penyakit sirosis hepatis
|
No
|
Kode
|
Nilai
Normal
|
Hasil
Pemeriksaan
|
A(%)
|
A(%)
|
||
|
Sampel
|
SGOT/AST
|
SGPT/ALT
|
SGOT/AST
|
SGPT/ALT
|
SGOT/AST
|
SGPT/ALT
|
|
|
|
--- U/L ---
|
--- U/L ---
|
--- % ---
|
||||
|
1
|
OTP
01
|
<
25
|
<
50
|
45
|
90
|
80
|
80
|
|
2
|
OTP
02
|
<
25
|
<
50
|
35
|
78
|
40
|
56
|
|
3
|
OTP
03
|
<
25
|
<
50
|
30
|
85
|
20
|
70
|
|
4
|
OTP
04
|
<
25
|
<
50
|
36
|
70
|
44
|
40
|
|
5
|
OTP
05
|
<
25
|
<
50
|
35
|
75
|
40
|
50
|
|
6
|
OTP
06
|
<
25
|
<
50
|
40
|
90
|
60
|
80
|
|
7
|
OTP
07
|
<
25
|
<
50
|
30
|
90
|
20
|
80
|
|
8
|
OTP
08
|
<
25
|
<
50
|
33
|
60
|
32
|
20
|
|
Jumlah
|
|
|
284
|
638
|
336
|
476
|
|
|
Rata-Rata
|
|
|
35.5
|
79.75
|
42
|
59.5
|
|
4.2 Pembahasan
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan pada pemeriksaan kadar enzim SGOT rata-ratanya
yaitu 35,5 U/L dan nilai normal SGOT adalah < 25 U/L serta rata-rata hasil
persentase yaitu 42%. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil kadar
ensim SGPT rata-ratanya adalah 79,75 U/L dan nilai normal SGPT adalah <
50U/L serta rata-rata hasil persentase yaitu 59,5%. Jumlah sampel yang
diperiksa kadar enzim SGOT dan enzim SGPT pada penderita sirosis hepatis
sebanyak 8 orang. Dari hasil tersebut didapat total pemeriksaan enzim SGOT
sebesar 284 U/L dan total hasil persentase 42%. Sedangkan total pemeriksaan
enzim SGPT sebesar 638 U/L dan total persentase 59,5%.
|
A% = (A-B)100%
B
Dari
hasil penelitian pemeriksaan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT diperoleh 8 orang
yang menderita penyakit sirosis hepatis. Berdasarkan hasil tersebut didapat
persentase peningkatan kadar enzim SGOT sebesar 42% dan peningkatan kadar enzim
SGPT sebesar 59,5%.
Penyakit gangguan hati seperti sirosis
hepatis merupakan penyakit hati kronis yang ditandai dengan distorsi cara
susunan sel-sel hati oleh adanya pita-pita jaringan penyambung dari nodul-nodul
sel hepar yang sedang mengalami regenerasi yang tak serupa dengan sel normal
(Pearce, 1979). Kelainan
pada hati seperti sirosis hepatis, pada umumnya enzim Serum Glutamik
Oksaloasetik Transaminase (SGOT), Serum Glutamik Piruvik Transaminase (SGPT),
dan Gamma-Glutamit Transferase (GGT) meningkat sedangkan Bilirubin dapat
bervariasi. Bilirubin direct meningkat menunjukkan obstruksi bilier, hepatitis,
dan sirosis hepatis (Sacher dan McPherson, 2000).
Hati
merupakan organ tubuh yang penting berkaitan dengan metabolism protein, lemak,
karbohidrat, dan vitamin. Ada pun gangguan hati dapat di sebabkan oleh kelainan
prahepatik, hepatik atau intrahepatik, dan posthepatik.
1. Kelainan
prahepatik seperti anemia hemolitik. Pada keadanan ini faal hati pada umumnya normal kecuali bilirubin, bilirubin dalam urin dan feses normal, akan tetapi
urobilirubinuria berlebihan. Dalam hal ini perlu tes hematologi khusus yang
berhubungan dengan penyakit hemolitik.
2. Kelainan
intrahepatik atau hapatoseluler misalnya sirosis hepatis, hepatitis, dan karsinoma hepatis. Pada umumnya enzim SGOT, SGPT,
dan GGT meningkat, alkalis phosphatase dapat meningkat bila ada obstuksi,
protein dapat abnormal, dan bilirubin dapat bervariasi.
3. Kelainan
posthepatik atau obstruktif karena batu empedu atau karena tumor. Dalam keadaan
ini bilirubin dan phosphatase alkalis meningkat, SGPT dan SGOT dapat meningkat.
Karena hati mempunyai
multi fungsi yang berkaitan dengan metabolisme, maka tes faal hati meliputi
berbagai tes antara lain kimia klinik, imonologi, seperti petanda sirosis
hepatis, petanda hepatitis dan lain- lain (Tjokronegoro dan Hendra Utama, 1996).
5.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pemeriksaan enzim SGOT dan enzim
SGPT pada penderita penyakit sirosis hati, dari 8 orang sampel didapat
rata-rata enzim SGOT sebesar 35,5 U/L. Sedangkan kadar enzim SGPT didapat
rata-rata sebesar 79,75 U/L. Hasil persentase dari enzim SGOT yang mengalami peningkatan
sebesar 42% dan hasil persentase enzim SGPT yang mengalami peningkatan sebesar
59,5%.
5.Saran
Dari
hasil penelitian dan pembahasan serta simpulan yang didapat, maka peneliti
menyarankan supaya terus dilakukan pemeriksaan kadar enzim SGOT dan enzim SGPT
pada kelainan fungsi hati. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
pengaruh enzim SGOT dan enzim SGPT pada berbagai penyakit fungsi hati.
DAFTAR
PUSTAKA
Freeman, M.,
Christine. 2005. Kolesterol Rendah
Jantung Sehat cetakan ke-2. Alih bahasa Lily
Endang Joelani. April 2008.
Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer
Gandasoebrata, R.
2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta
: Dian Rakyat
Kee, J. 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan
Diagnostik edisi 6. Jakarta : EGC
Mansjoer, A.,
Kuspuji, Rakhmi, Wahyu, dan Wiwik. 2001. Kapita
Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesi (FKUI)
Notoatmodjo,
S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta
Pearce,
E. C. 1979. Anatomy and Physiology for
Nurses. Diterjemahkan oleh Handoyo, S. Y. 2002. Anatomi
dan Fisiologi untuk Paramedis.
Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Price,
Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2004. Patofisiologi,
konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Sacher, R.A.,
dan R. A. McPherson. 2000. Widmann’s
Clinical Interpretation of Laboratory
Tests. 11th
Edition. Pennsylvania:
F. A. Company. Diterjemahkan oleh Pendit, B. U dan D. Wulandari. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11. Jakarta:
EGC.
Soegondo, S. 2005. Peranan Kolesterol HDL Sebagai Faktor
Proktektif Aterosklerosis. Makalah disajikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan
perkembangan Mutakhir Ilmu Penyakit Dalam ke-10. Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI, Jakarta.
Sudjana, 2005. Metoda Statistika edisi 6. Bandung :
Tarsito
Tjokronegoro
dan Hendra Utama. 1996. Ilmu penyakit
dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar