Senin, 19 Oktober 2015

HUBUNGAN PENYAKIT KECACINGAN DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI 77 PADANG SERAI KOTA BENGKULU TAHUN 2013 Inayah Hayati Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu



HUBUNGAN PENYAKIT KECACINGAN DENGAN STATUS GIZI  PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI 77
PADANG SERAI KOTA BENGKULU TAHUN 2013

Inayah Hayati

Dosen Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu

Penyakit kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Kejadian Penyakit kecacingaan pada usia sekolah banyak terjadi pada wilayah kumuh dan pada kelompok rawan gizi atau status gizi buruk. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyakit kecacingan dengan status gizi pada anak. Populasi anak sekolah  usia 6-8 pada kelas 1-2 sejumlah 46 orang anak di SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu. Teknik sampling adalah total sampling, sampel berjumlah 46 orang anak. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan uji laboratorium. Teknik analisis menggunakan uji chi square dengan: 0,05.Hasil penelitian didapatlah status gizi baik 52,2% pemeriksaan kecacingan negatif 80,4%  sebagaian yang terinfeksi penyakit kecacingan adalah 19,6%. Hasil uji statistik didapatkan p = 0,638, jika p > 0,05 berarti tidak ada hubungan antara status gizi dengan penyakit kecacingan.

The Worm infestatioons disease  is widespread, both in rural and urban areas. Disease incidence the worm infestations  at school age prevalent in the slums and in the group of malnutrition or poor nutritional status. When the poor nutritional status will lead to malnutrition, anemia, stunted growth and decreased level of intelligence of children. This study aimed to determine the relationship between de- worming and nutritional status in children. The population of school children in the 6-8 age 1-2 class number 46 primary school children in Padang Serai 77 Bengkulu City. Sampling technique is total sampling, sample of 46 children. Collecting data using observation and laboratory testing. Mechanical analysis using chi square test with: 0,05. The results of this research is  good nutritional status examination 52.2%,  80.4% negative worm worming is 19.6%. Statistical test results obtained p = 0.638, if p> 0.05 indicates no relationship between nutritional status and worm infestations disease.


Key word               :  Kecacingan, Status Gizi


PENDAHULUAN

          Gizi merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan dan proses tumbuh kembang anak. Sehingga pemenuhan kebutuhan gizi sangat kuat turut menentukan tumbuh kembang sebagai sumber daya manusia dimasa yang akan datang. Secara umum gizi sebagai bagian dari kesehatan untuk semua, mempunyai peran yang penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama dalam menciptakan generasi baru yang berkualitas maju, mandiri dan cerdas (Zaenal, 2007).
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat. Masalah gizi di Indonesia pada umumnya masih di dominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), masalah anemia besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah kurang Vitamin A (KVA) dan masalah obesitas. Prevalensi nasional status gizi anak usia sekolah berdasarkan Riskesdas 2010 ditinjau dari indikator indeks massa tubuh
menurut umur, status gizi kurang 12,2%. Sementara dilihat dari jenis kelamin, anak laki-laki usia sekolah kurus adalah 13,2% sedangkan anak perempuan 11,2%.
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat  kurang gizi dalam tubuh. Salah satu  penyebab dari gangguan status gizi adalah penyakit cacingan. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun (Hidayat, 2007).
Cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorpsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif infeksi cacinganan dapat menimbulkan kurangan gizi berupa kalori dan protein, serta kehilangan darah yang berakibat menurunnya daya tahan tubuh dan menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak. Khusus anak usia sekolah, keadaan ini akan berakibat buruk pada kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Sehubungan dengan tingginya angka prevalensi infeksi cacingan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu pada daerah iklim tropik, yang merupakan tempat ideal bagi perkembangan telur cacing, perilaku yang kurang sehat seperti buang air besar di sembarang tempat, bermain tanpa menggunakan alas kaki, sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, mencuci tangan, kebersihan kuku, pendidikan dan perilaku individu, sanitasi makanan dan sanitasi
sumber air (Andaruni dkk, 2012).      
             Infeksi kecacingan sering ditularkan oleh cacing yang termasuk kedalam kelompok cacing “Soil Transmitted Helminth” yaitu cacing yang ditularkan melalui tanah. Cacing yang menginfestasi anak dengan prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk ( Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus), Ancylostoma duodenale (WHO, 2013)
Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Sub Direktorat Penanggulangan dan Pencegahan Diare, Kecacingan, dan ISPL, Departemen Kesehatan Bengkulu di suatu daerah terutama pada anak Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3160 siswa di 13 SD ternyata menderita kecacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5 persen (DepKes, 2006).
Sekolah Dasar Negeri 77 Padang Serai terletak di Jalan Semangka V, Padang Serai, Kecamatan Kampung Melayu Bengkulu. SDN 77 berada di daerah yang cukup dekat dengan pantai, sanitasi lingkungan sekitarnya masih buruk dan anak-anak SD sering kali bermain di tanah. Sekitar 60% kepala keluarga dari penduduk Padang Serai sehari-harinya mata pencahariannya  sebagai nelayan.
Berdasarkan hal  diatas,  maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Penyakit Kecacingan dengan Status Gizi pada Anak Sekolah Dasar Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu” tahun 2013.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, dengan menggunakan rancangan cross sectional study untuk melihat hubungan antara infestasi kecacingan dengan status gizi pada  pada anak sekolah dasar di SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu tahun 2013. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 77 Padang serai Kota Bengkulu dan pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Patologi Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SDN 77 kelas 1-2 Padang Serai Kota Bengkulu. Sampel dalam penelitian ini adalah 46 pot sampel feses siswa-siswi kelas 1-2 SDN 77 Padang Serai Bengkulu. Tekhnik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Data hasil penelitian diperoleh dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari data hasil  penelitian langsung lapangan mengenai identitas dan karakteristik anak. Data infestasi kecacingan diperoleh dengan cara pemeriksaan tinja dengan menggunakan eosin . sedangkan data status gizi  diperoleh dari indeks antropometri berdasarkandata berat badan (BB), tinggi badan ( TB), umur (U), Lingkar Kepala (LK), Lingkar Lengan Atas (LLA). Analisis data dengana univariat dan bivariat. Untuk menetukan hubungan penyakit kecacingan dengan status gizi anak SDN 77 Padang Serai Kota Bengkulu digunakan Uji Chi-Square.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian meliputi data umum responden yaitu berdasarkan umur, berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas. Sedangkan data khusus meliputi identifikasi status gizi pada anak sekolah dasar (SD) kelas I dan II, yang berusia 6-8 tahun, identifikasi adanya penyakit kecacingan pada anak sekolah dasar (SD), menganalisis hubungan antara status gizi dan penyakit kecacingan pada anak sekolah dasar (SD) kelas I dan II.

Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur, jenis kelamin dan status gizi di SD N 77 Padang Serai Kota Bengkulu kelas I dan II.

Tabel. 4.1  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur
No.      Umur     Frekuensi     Persentase
1.         6 tahun                    19            41,3%
2.         7 tahun                    24            52,2%
3.         8 tahun                      3            6,5%
Jumlah                   46           100%

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin
No.   Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1.        laki-laki               18           39,1%
2.     Perempuan             28           60,9%
Jumlah                          46         100%
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan status Gizi
No.    Status Gizi   Frekuensi  Persentase
1.         Baik                 24          52,2%
2.         Sedang                        12          26,1%
3.         Kurang                        9            19,6%
4.         Buruk              1             2,1%
Jumlah                       46          100%

Berdasarkan Tabel 4.1. Sebagian besar responden 19 anak (41,3%) berusia 6 tahun, 24 anak (52,2%) berusia 7 tahun, dan 3 anak (6,5%) berusia 8 tahun.
Berdasarkan Tabel 4.2. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan 18 anak (39,1%)dan 28 anak (60,9%)  berjenis kelamin laki-laki.
Berdasarkan Tabel 4.3 Sebagian besar responden 24 anak (52,2%) berstatus gizi baik, 12 anak (26,1%) berstatus gizi sedang, 9 anak (19,6%) berstatus gizi kurang dan 1 anak (2,1%) berstatus gizi buruk.

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pada feses dan Status Gizi anak di SD N 77 Padang Serai Kota Bengkulu kelas I dan II.


Sumber: Data primer

Berdasarkan Tabel 4.4 sebagian besar responden 9 anak (19,6%) dengan hasil positif menderita kecacingan , dan 37 anak (80,4%) negatif  penyakit kecacingan.
Berdasarkan Tabel 4.3 Sebagian besar responden  24 anak yang berstatus gizi baik (52,5%) dengan hasil positif menderita kecacingan sebanyak 6 orang anak, dan hasil yang tidak menderita penyakit kecacingan 18 anak. Sedangkan responden yang berstatus gizi buruk berjumlah 1 anak (2,1%) dengan hasil negatif menderita penyakit kecacingan 1 anak. Dan berdasarkan uji Chi-square test/X2 maka didapatlah nilai p = 0,638 jika p > (0,05), maka H0 diterima sehingga tidak ada hubungan antara status gizi dengan penyakit kecacingan.

1.  2. Pembahasan
            Berdasarkan dari hasil penelitian mengenai identifikasi status gizi pada anak sekolah dasar kelas I dan II yang berusia (6-8 tahun) di SD Negeri 77 Padang Serai
Kota Bengkulu, maka didapatlah 24 orang anak (52,2%) berstatus gizi baik, 12 orang anak (26,1%) berstatus gizi sedang, 9 orang anak (19,6%) berstatus gizi kurangdan 1 orang anak (2,1%) berstatus gizi buruk. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar anak di Sekolah  Dasar 77 Padang Serai Kota Bengkulu berstatus gizi baik. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memproleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhanfisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum padatingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalamikekurangan satu atau lebih zat-zat lebih esensial (Almatsier, 2002).
Status gizi individu dipengaruhi dari pemenuhan gizi. Penyakit infeksi padaanak, hygiene yang kurang, letak demografi/tempat tinggal yang buruk dapat berdampak pada status gizi individu. Sehingga dapat menyebabkan status gizi buruk. Sedangkan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh.Terpenuhinya kebutuhan gizi pada anak diharapkan anak dapat tumbuh dengancepat sesuai dengan usia tumbuh dan dapat meningkatkan kualitas hidup serta mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas.
Identifikasi Penyakit kecacingan dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan 37 anak (80,4%) dengan hasil negatif (-) menderita penyakit kecacingan, dan 9 anak (19,6%) dengan hasil positif  (+) menderita penyakit kecacingan. Hal ini membuktikan dari hasil laboratorium, bahwa sebagian besar anak sekolah dasar di SD Negeri77 Padang Serai Kota Bengkulu yang menderita penyakit kecacingan hanya sebagian kecil dari anak yang berumur 6-8 tahun.
Apabila seorang anak yang terinfeksi kecacingan, maka akan menderita"5 L": lemah, letih, loyo, lalai, dan lemas. Bila hal ini menimpa anak, maka akan mengganggu pertumbuhannya. Kondisi "5 L" akan membuat anak mudah sakit."Bila terus didiamkan, dalam jangka panjang anak bisa terserang berbagaipenyakit yang diakibatkan kekurangan gizi, rabun mata, danberambut ijuk. Selain itu, kemampuan belajar anak juga akan menurun, karenadaya tangkap anak kecacingan lebih lemah daripada anak yang tidak kecacingan. Sedangkan bila terjadi pada orang dewasa, maka orang itu terancam menderita anemia. Akibat lanjutannya, dalam kerangka lebih luas, akanmenurunkan kualitas sumber daya manusia, karena produktivitas penderita kecacingan pasti menurun.
Berdasarkan hasil penelitian jenis cacing nematoda Usus yang meninfeksi anak SDN 77 Padang Serai terdiri dari dua jenis yaitu Ascaris lumbrioides dan Trichuris trichiura. Menurut  Gandahusada (200( penyakit infeksi salah satunya penyakit kecacingan adalah problem yang dihadapi anak sekolah yang berada di daerah endemik Soil transmitted helminth atau siklus cacing tanah yang ditransmisikan seperti cacing Gelang (Ascaris lumbricoides), Cacing Cambuk (Trichuris trichiura).
Berdasarkan dari penelitian maka dapat disimpulkan bahwa, kecacingan dapatmengakibatkan menurunya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnyatumbuh kembang anak karena cacing mengambil sari makanan yang penting bagitubuh, misalnya: protein, karbohidrat dan zat besi yang dapat menyebabkananemia. Bahkan penyakit kecacingan dapat menyebabkan kebodohan pada anak-anak.
            Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi-Square, dari hasil pengujian    p =(0,638) jika, p >  (0,05), maka               H0 diterima artinya tidak ada hubungan antara status gizi dengan peyakit kecacingan.
Berdasarkan teori banyak faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang diantaranya konsumsi makanan dan status kesehatan, dimana keduanya tergantung pada : zat gizi dalam makanan, ada tidaknya program pemberian makanan di luar keluarga, daya beli keluarga, kebiasaan makan, pemeliharaan kesehatan, dan lingkungan fisik dan sosial. Nelson (1988) mengatakan “anak-anak usia sekolah kerap kali mempunyai kebiasaan makan yang tidak teratur dan tidak pada tempatnya, terutama sekalipada waktu sarapan dan makan siang. Kebiasan makan yang tidak teratur mengakibatkan kecukupan gizi berkurang dan imunitas tubuh rendah, penyakit infeksi pada anak, pengetahuan keluarga, letak demografi/  tempat tinggal individu.Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa selain penyakit kecaingan,status gizi buruk juga di pengaruhi dari hygiene yang kurang dan terutamamakanan atau asupan gizi yang tidak seimbang dengan kebutuhan anak.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa penyakit kecacingan tidak ada hubungannya dengan status gizi, artinya orang yang terinfeksi penyakit kecacingan belum tentu status gizinya buruk karena anak tersebut belum begitu parah terinfeksi penyakit kecacingan serta asupan gizi yang cukup dan seimbang sehingga meskipun anak tersebut kecacingan tidak cukup mempengaruhi status gizi mereka.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu menggunakan indikator umur, berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas, dari 46 orang anak SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu sebagian besar berstatus gizi baik (24 orang), berstatus gizi sedang (12 orang), berstatus gizi kurang (9 orang) dan berstatus gizi buruk (1 orang). Untuk anak yang terinfeksi penyakit kecacingan yaitu (9 orang) dan sebagian besarnya (37 orang) tidak terinfeksi penyakit kecacingan. Maka dapat disimpulkan berdasarkan uji chi square dengan hasil      p = 0,638 jika p > 0,05 , jadi disimpulkan  tidak ada hubungan antara penyakit kecacingan dengan status gizi pada anak sekolah dasar di SD Negeri 77 Padang Serai Kota Bengkulu.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: GramediaPustaka Utama
Andrauni, Adisti., dkk. 2012 . Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Infeksi cacingan Pada Anak di SDN 01 Pasirlangu Cisarua. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin.http://download.portalgaruda.org/article.php?article=103782&val=1378. Diakses 10 April 2013.
Departemen Kesehatan R.I. 2010. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS).
2010. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Gandahusada, Sriasi dkk. 2000. Parasitologi Kedokteran 3 EK, Editor. Jakarta . EGC. 2000.
Hidayat, A. 2007 . Riset Keperawatan dan Tekhnik Penulisan Ilmiah . Edisi ke 2 . Surabaya. Salemba Medika.
WHO. 2013. Intestinal Worm (Soil Transmited Helminth). http://www.who.int/intestinal_worms/more/en/. Diakses 05 April 2013.
Zaenal. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya: Pustaka Jaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar